Tampilkan postingan dengan label paparan sunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paparan sunda. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Februari 2012

Bawang Merah Bawang Putih, Bukan Sekadar Dongeng

Jakarta - Cerita rakyat tidak hanya memberi pesan moral, namun ada simbol-simbol tersembunyi di baliknya. Misalnya saja dongeng 'Bawang Merah Bawang Putih', yang ternyata membawa simbol kebudayaan di Indonesia sejak ribuan tahun silam.

Hal ini diungkapkan pakar genetika dan folklore dari Universitas Oxford, Inggris, Profesor Stephen Oppenheimer. Dalam buku Eden in The East: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara, Oppenheimer berteori bahwa cerita rakyat mampu melestarikan bentuk kebudayaan selama ribuan tahun.

Kisah ini sering kita dengar semasa kecil. Bahkan kisah versi modernnya dibuat dalam bentuk sinetron televisi. Bawang Merah yang merupakan saudara tiri, kerap berbuat jahat kepada Bawang Putih. Bawang Merah pada akhirnya terkena akibat dari perbuatannya dan Bawang Putih hidup berbahagia.

Nah, tema dua saudara yang bersaing menurut Oppenheimer, memiliki akar yang panjang ribuan tahun silam. Jauh mundur melampaui dongeng Eropa semacam Cinderella dan saudara tirinya, bahkan jauh mundur dari pengaruh Hindu atau Yunani sekalipun.

Dongeng dua saudara yang bersaing memiliki akar pada masyarakat neolitikum kuno di Asia Tenggara ribuan tahun silam. Persaingan dua saudara sebenarnya adalah simbol dari dinamika sebuah siklus kehidupan dan kesuburan bumi. Ada yang menang dan ada yang kalah, ada yang baik dan ada yang jahat.

Di Indonesia, kisah persaingan dua saudara ini ada berbagai versi. Kisah ini ada juga di Bali, Maluku, Sulawesi, sampai Papua. Semua dengan nama berbeda tapi inti ceritanya sama.

Oppenheimer yakin kalau cerita ini menyebar dari Indonesia ke arah barat sejak 6.000 tahun lalu. Hal ini seiring dengan migrasi karena benua Sundaland tenggelam. Bahkan kata Oppenheimer, kisah semacam Bawang Merah Bawang Putih ini mengilhami kisah Seth dan Osiris di Mesir Kuno.

Ulasan Oppenheimer lebih lengkap bisa didapatkan dari buku Eden in The East yang diterbitkan oleh Ufuk Press.

(fay/nrl)

http://www.detiknews.com/read/2010/10/26/160228/1475559/10/bawang-merah-bawang-putih-bukan-sekadar-dongeng

Kamis, 28 Juli 2011

Sejarah Paparan Sunda.. Benua SundaLand

Benua SundaLandNusantara merupakan sebutan untuk negara kepulauan yang terletak di kepulauan Indonesia saat ini. Catatan bangsa Tionghoa menamakan kepulauan ini dengan Nan-hai yang berarti Kepulauan Laut Selatan. Catatan kuno bangsa India menamainya Dwipantara yang berarti Kepulauan Tanah Seberang, yang diturunkan dari kata Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang) dan disebut juga dengan Swarnadwiva (pulau emas, yaitu Sumatra sekarang). Bangsa Arab menyebut daerah ini dengan Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa).

Migrasi manusia purba masuk ke wilayah Nusantara terjadi para rentang waktu antara 100.000 sampai 160.000 tahun yang lalu sebagai bagian dari migrasi manusia purba “out of Africa“. Ras Austolomelanesia (Papua) memasuki kawasan ini ketika masih bergabung dengan daratan Asia kemudian bergerak ke timur, sisa tengkoraknya ditemukan di gua Braholo (Yogyakarata), gua Babi dan gua Niah (Kalimantan). Selanjutnya kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi, perpindahan besar-besaran masuk ke kepulauan Nusantara (imigrasi) dilakukan oleh ras Austronesia dari Yunan dan mereka menjadi nenek moyang suku-suku di wilayah Nusantara bagian barat. Mereka datang dalam 2 gelombang kedatangan yaitu sekitar tahun 2.500 SM dan 1.500 SM (Wikipedia, 2009).

Bangsa nenek moyang ini telah memiliki peradaban yang cukup baik, mereka paham cara bertani yang lebih baik, ilmu pelayaran bahkan astronomi. Mereka juga sudah memiliki sistem tata pemerintahan sederhana serta memiliki pemimpin (raja kecil). Kedatangan imigran dari India pada abad-abad akhir Sebelum Masehi memperkenalkan kepada mereka sistem tata pemerintahan yang lebih maju (kerajaan).

Kepulauan Nusantara saat ini paling tidak ada 50 populasi etnik yang mendiaminya, dengan karakteristik budaya dan bahasa tersendiri. Sebagian besar dari populasi ini dengan cirri fisik Mongoloid, mempunyai bahasa yang tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa. Bahasa mereka merupakan bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Sedangkan di Indonesia bagian timur terdapat satu populasi dengan bahasa-bahasa yang tergolong dalam berbagai bahasa Papua.

Pusat Arkeologi Nasional telah berhasil meneliti kerangka berumur 2000-3000 tahun, yaitu penelitian DNA purba dari situs Plawangan di Jawa Tengah dan Gilimanuk Bali. Penelitian itu menunjukkan bahwa manusia Indonesia yang hidup di kedua situs tersebut telah berkerabat secara genetik sejak 2000-3000 tahun lalu. Pada kenyataannya hingga sekarang populasi manusia Bali dan Jawa masih memiliki kekerabatan genetik yang erat hingga sekarang.

Hasil penelitian Alan Wilson tentang asal usul manusia di Amerika Serikat (1980-an) menunjukkan bahwa manusia modern berasal dari Afrika sekitar 150.000-200.000 tahun lampau dengan kesimpulan bahwa hanya ada satu pohon filogenetik DNA mitokondria, yaitu Afrika. Hasil penelitian ini melemahkan teori bahwa manusia modern berkembang di beberapa penjuru dunia secara terpisah (multi origin). Oleh karena itu tidak ada kaitannya manusia purba yang fosilnya ditemukan diberbagai situs di Jawa (homo erectus, homo soloensis, mojokertensis) dan di Cina (Peking Man) dengan perkembangan manusia modern (homo sapiens) di Asia Timur. Manusia purba ini yang hidup sejuta tahun yang lalu merupakan missing link dalam evolusi. Saat homo sapiens mendarat di Kepulauan Nusantara, pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan masih tergabung dengan daratan Asia sebagai sub-benua Sundaland. Sedangkan pulau Papua saat itu masih menjadi satu dengan benua Australia sebagai Sahulland.

Teori kedua yang bertentangan dengan teori imigrasi Austronesia dari Yunan dan India adalah teori Harry Truman. Teori ini mengatakan bahwa nenek moyang bangsa Austronesia berasal dari dataran Sunda-Land yang tenggelam pada zaman es (era pleistosen). Populasi ini peradabannya sudah maju, mereka bermigrasi hingga ke Asia daratan hingga ke Mesopotamia, mempengaruhi penduduk lokal dan mengembangkan peradaban. Pendapat ini diperkuat oleh Umar Anggara Jenny, mengatakan bahwa Austronesia sebagai rumpun bahasa yang merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah manusia. Rumpun ini memiliki sebaran yang paling luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Bahasa tersebut kini dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang. Pendapat Umar Anggara Jenny dan Harry Truman tentang sebaran dan pengaruh bahasa dan bangsa Austronesia ini juga dibenarkan oleh Abdul Hadi WM (Samantho, 2009).

Teori awal peradaban manusia berada di dataran Paparan Sunda (Sunda-Land) juga dikemukan oleh Aryo Santos (2005). Santos menerapkan analisis filologis (ilmu kebahasaan), antropologis dan arkeologis. Hasil analisis dari reflief bangunan dan artefak bersejarah seperti piramida di Mesir, kuil-kuil suci peninggalan peradaban Maya dan Aztec, peninggalan peradaban Mohenjodaro dan Harrapa, serta analisis geografis (seperti luas wilayah, iklim, sumberdaya alam, gunung berapi, dan cara bertani) menunjukkan bahwa sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun Santos menyimpulkan bahwa Sunda Land merupakan pusat peradaban yang maju ribuan tahun silam yang dikenal dengan Benua Atlantis.

Dari kedua teori tentang asal usul manusia yang mendiami Nusantara ini, benua Sunda-Land merupakan benang merahnya. Pendekatan analisis filologis, antropologis dan arkeologis dari kerajaan Nusantara kuno serta analisis hubungan keterkaitan satu dengan lainnya kemungkinan besar akan menyingkap kegelapan masa lalu Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri peradaban awal Nusantara yang diduga adalah kerajaan Kandis.

Tulisan ini sambungan dari Hipotesis Atlantis Nusantara

http://www.sungaikuantan.com/2009/10/benua-sundaland.html

Sabtu, 01 Januari 2011

Legenda Toraja dan Nusantara Asal Peradaban Dunia : Atlantis Peradaban Modern Yang Tenggelam Itu Diyakini Ada Di Paparan Sunda

Nusantara Asal Peradaban Dunia?
ATAP bangunan itu sangat khas. Disebut tongkonan, rumah adat Toraja menjadi salah satu arsitektur tradisional paling gampang dikenal di Indonesia. Materialnya uru, kayu lokal yang seawet jati. Arahnya selalu utara. Atapnya melengkung.

Meski orang Toraja tinggal di pegunungan, atap lengkung indah itu ternyata terkait dengan citra lautan atau perairan. Bentuk rumah dengan atap lengkung itu menggambarkan perahu.


"Model atap itu menggambarkan perahu yang digunakan Puang Buralangi pada saat berlayar ke Toraja, ribuan tahun silam," kata C.F. Palimbong, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Toraja-Toraja Utara, kepada Tempo beberapa waktu lalu. Dalam mitologi Toraja, Puang Buralangi adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan.

Buralangi ini diciptakan Tuhan di bagian utara langit dan kemudian diturunkan di daerah yang disebut Pongko sebelum pergi ke Toraja dan beranak-pinak di sana. Letak Pongko itu di daerah utara. Itu sebabnya, tongkonan selalu menghadap utara. Tidak ada kepastian di mana Pongko itu berada. "Pongko yang saya pahami adalah Tiongkok atau Cina," kata Palimbong.

Kisah penciptaan Buralangi juga bercerita tentang banjir besar yang merendam daerahnya. "Karena kondisi ini pulalah Puang Buralangi menggunakan perahu ke Toraja," ujarnya. Perahu ini kemudian diabadikan dalam bentuk atap rumah.

l l l

Versi lain mitologi banjir di Toraja, dengan sedikit perbedaan detail, diungkap oleh Stephen Oppenheimer beberapa pekan silam dalam sebuah diskusi di gedung LIPI, Jakarta. Saat itu ia menjelaskan teorinya yang ia tulis dalam buku setebal 800 halaman, Eden in the East: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara (edisi Inggris terbit pada 1998, bahasa Indonesia bulan lalu). Inilah buku yang menarik untuk dibicarakan. Sensasional tapi argumentasinya memikat karena bersangkut-paut dengan masa lalu sejarah kita yang misterius. "Karakter khas mitologi di kawasan Indonesia dan Asia Tenggara adalah banyaknya cerita banjir," kata ilmuwan genetika dari Universitas Oxford, London, Inggris, itu.

Kisah banjir ini yang menjadi satu dasar teori Oppenheimer bahwa banyak peradaban tertua di dunia berasal dari kawasan Indonesia, terutama dari wilayah Paparan Sunda, yang sekarang sudah tenggelam menjadi Laut Jawa dan Laut Cina Selatan. Dasar lain yang digunakan Oppenheimer adalah pemetaan genetika.

Paparan Sunda alias Sundaland itu wilayah dataran luas yang berada di wilayah Indonesia dan sekitarnya sekarang. Sebelum dipisahkan oleh laut karena Zaman Es berakhir sekitar 6.000 tahun sebelum Masehi, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan masih menyatu dengan Asia Daratan. Daratan ini juga menghubungkan Kalimantan dengan wilayah selatan Cina.

Oppenheimer percaya, saat Paparan Sunda itu belum tenggelam, penduduknya sudah memiliki kemampuan teknologi bertani, mencari ikan, atau membuat tembikar. Kemampuan pertanian ini boleh dibilang paling tua di dunia. "Belum ada masyarakat lain (di dunia saat itu) yang bisa melakukannya," kata Oppenheimer.

Begitu Paparan Sunda direndam air secara mendadak, penduduknya menyingkir. Mereka membawa serta teknologi pertanian dan sebangsanya ini ke seluruh dunia. Ke barat, pengaruh para imigran dari wilayah Indonesia dan sekitarnya ini sampai Eropa, sedangkan ke timur sampai ke Benua Amerika dengan melewati Selat Bering, yang ribuan tahun lalu masih bisa dilewati dengan berjalan kaki, tidak perlu menggunakan perahu.

Menurut Oppenheimer, peradaban tua Sumeria, 5.000 tahun SM, juga dipengaruhi oleh peradaban orang-orang berpenutur Austronesia-keluarga bahasa yang mencakup bahasa-bahasa di Indonesia-dari Asia Tenggara. Selama ini para ahli sejarah menyatakan di Sumeria sistem hukum sudah dikembangkan, teknik militer sudah cukup maju karena terus terjadi perang antarkota. Roda, salah satu temuan teknologi paling berpengaruh di dunia, juga sudah diciptakan. Dan terutama huruf telah digunakan, yaitu dalam bentuk huruf paku.

Namun Oppenheimer melihat beberapa temuan dari wilayah Sumeria menunjukkan kesamaan dengan kebiasaan atau teknologi Austronesia. Gerabah yang ditemukan di Ur, salah satu kota tua Sumeria, menunjukkan beberapa kesamaan dengan gerabah di kelompok penutur Austronesia di Asia Tenggara seperti cat merah. Begitu pula, ada temuan patung-patung dengan rajah. Seni membuat rajah alias tato itu khas Austronesia. Di Sepik Tengah, Papua Nugini, beberapa suku lokal sampai kini, seperti dilihat Oppenheimer, saat bertahun-tahun menjadi dokter yang meneliti penyakit malaria di Papua Nugini, masih mempraktekkan seni membuat rajah ini.

Tidak hanya teknologi yang disebarkan para penduduk Asia Tenggara ribuan tahun silam ke berbagai penjuru dunia, tapi juga mitologi kisah banjir. Gilgamesh, kisah banjir bandang Sumeria yang memiliki kesamaan dengan banjir Nuh, menurut Oppenheimer, bertolak dari kisah tenggelamnya Paparan Sunda di wilayah Nusantara dahulu kala.

l l l

Sampai dua abad silam, cerita banjir Nuh adalah satu-satunya legenda tentang banjir besar yang dikenal dunia mutakhir. Munculnya mitologi banjir besar, yang sebagian sangat mirip kisah Nuh, baru muncul saat tablet-tablet tulisan huruf paku, semacam buku dari kerajaan tua Sumeria, ditemukan di Irak oleh Hormuzd Rassam pada 1853. Tablet-tablet itu pertama kali diterjemahkan oleh arkeolog Inggris, George Smith, pada awal 1870.

Tablet itu berisi kisah Gilgamesh, Raja Sumeria. Dalam cerita itu, Gilgamesh bertemu dengan Utnapishtim di negeri timur yang mengaku selamat dari banjir besar yang melanda negerinya karena naik perahu besar. Dalam perahu itu, ia membawa semua benih yang bisa ditanam. Setelah beberapa hari, ia melepas burung untuk mengetahui apakah sudah tampak ada daratan. Belakangan arkeolog Inggris lain, Sir Leonard Woolley, pada 1929, menyimpulkan bahwa kisah Utnapishtim dan banjir Nuh itu sama.


Rupanya Utnapishtim bukan satu-satunya kisah tentang air bah yang mirip banjir Nuh. Beberapa kisah serupa mulai teridentifikasi. Di Wales-negeri kecil yang pemerintahannya menyatu dengan Inggris-ada dongeng Danau Llion yang menyembur dan membanjirkan seluruh daratan kecuali Dwyfan dan Dwyfach. Mereka selamat dengan kapal tanpa tiang dan kembali mendiami Pulau Pridain (Britania). Kapal itu berisi sepasang binatang dari setiap makhluk hidup.

Di Lituania, ada dongeng bahwa Pramzimas, sang dewa tertinggi, sudah muak terhadap keburukan manusia sehingga mengirim Wandu dan Wejas. Karena terlalu bersemangat bekerja mengirim air bah, dalam 20 hari tersisa sangat sedikit manusia.

Tapi di Asia Tenggara dan wilayah berpenutur Austronesia lain, seperti di kepulauan Pasifik, menurut Oppenheimer, kisah banjir seperti Nabi Nuh dan Sumeria ini sangat banyak. "Mayoritas dongeng tersebut diceritakan oleh penduduk minoritas yang tinggal di pulau kecil," kata Oppenheimer. Rupanya, di pulau kecil ini, bayangan banjir selalu ada. Kisah air bah pun dianggap "kontekstual" sehingga mitologi bisa awet dan diturunkan selama ribuan tahun.

Di Tahiti, misalnya, ada kisah banjir setinggi gunung, selama sepuluh hari. Jelas bukan tsunami, yang mungkin sudah dikenal di daerah itu, karena lamanya sampai 10 hari. Adapun suku Ami, salah satu suku pribumi di Taiwan, memiliki ciri sama dengan dongeng di Tibet-Burma dan Austro-Asiatik di India Timur. Kisahnya tentang banjir bandang yang singkat, menyelamatkan diri dengan kotak kayu, mendarat di gunung, dan inses orang yang selamat.

Selain tema air bah, yang memiliki sejumlah kemiripan adalah mitologi proses penciptaan dunia serta Habil dan Qabil. Bagi Oppenheimer, hal-hal ini bukan kebetulan. Karena itu, sumbernya pasti dari satu wilayah dan wilayah tersebut, menurut dia, ada kemungkinan di Asia Tenggara. "Mitos banjir pasti datang dari Kepulauan Asia Tenggara-dari kawasan Nusantara, yang kehilangan sebagian besar daratan (setelah Zaman Es berakhir)," tutur Oppenheimer dalam bukunya.

Apalagi kadang kesamaan mitologi ini disertai jejak genetika. Kisah Kalevala, misalnya, berasal dari Finlandia. Dan di negeri itu-serta sejumlah wilayah Eropa utara lain, seperti Estonia-ditemukan jejak-jejak genetis yang serupa dengan Asia Tenggara.

l l l

Dalam peta Journey of Mankind (Perjalanan Umat Manusia) yang dipaparkan di salah satu situs Internet, Oppenheimer memaparkan teori yang dipercaya sebagian besar ahli dunia tentang persebaran manusia sejak lahir di tanah Afrika sekitar 170 ribu tahun silam. Ini adalah persebaran manusia modern, Homo sapiens.

Pada 90-85 ribu tahun silam, sekelompok manusia meninggalkan Afrika ke timur, lewat Laut Merah. Dalam 10 ribu tahun, mereka terus bergeser mengikuti garis pantai Asia hingga sampai ke pantai di Cina.

Setelah Toba meledak-ledakan gunung terbesar yang diketahui umat manusia sekarang sehingga menyisakan Danau Toba-sekitar 74 ribu tahun silam, penduduk di Asia Tenggara menyebar hingga ke Papua dan Australia serta sebagian ada yang kembali ke barat, ke India. Wilayah Asia Tenggara kemudian dihuni orang yang menjadi nenek moyang Austronesia. Mereka inilah yang terkena banjir dan, menurut Oppenheimer, melakukan arus balik perjalanan mempengaruhi negeri-negeri jauh sampai ke Eropa.

Teori ini bertentangan dengan penyebaran Austronesia yang semula dipercaya berasal dari Taiwan. Teori Taiwan sebagai asal-muasal orang Austronesia, disebut teori Out of Taiwan, dibuat berdasarkan pendekatan bahasa. Keluarga rumpun bahasa Melayu itu, jika dirunut, sampai ke suku-suku pribumi di Taiwan (orang Tionghoa masuk Taiwan baru mulai abad ke-17).

Menurut teori yang dikemukakan Peter Belwood pada akhir 1970-an, orang Taiwan masuk wilayah Indonesia dan sekitarnya baru pada 4.000-3.500 tahun sebelum Masehi. Batas waktu ini jauh lebih muda daripada teori Oppenheimer, yang menyatakan bahwa orang Austronesia sudah ada di wilayah ini sejak, mungkin, 50 ribu tahun silam dan mengembangkan teknologi pertanian di sini.


Arkeolog seperti Harry Truman Simanjuntak, profesor dari Universitas Indonesia, tetap memegang teori Belwood ini. "Arkeologi dan linguistik kurang mendukung (teori Oppenheimer)," katanya. Ia merujuk pada sejumlah temuan seperti tembikar yang waktunya tidak melebihi batas 4.000 tahun itu.

Harry bahkan memperkuat temuan Belwood dengan teori bahwa jalur penyebaran dari Taiwan ini tidak hanya lewat Filipina-Kalimantan, tapi juga menyusuri pantai Indocina, kemudian menyeberang ke Sumatera dan Jawa. Teori ini berdasarkan perbedaan gaya tembikar di Indocina-Sumatera-Jawa bagian tengah dengan wilayah lain.

Tapi Oppenheimer berkukuh. "Bahasa bisa menyebar, tapi orangnya (bisa jadi) tidak menyebar," katanya. Jadi mungkin saja bahasa Austronesia memang menyebar dari Taiwan, tapi penduduknya tetap yang itu-itu saja.

Selain itu, ia mengajukan temuan arkeolog Thailand yang menunjukkan bahwa peradaban di Asia Tenggara lebih tua daripada sekadar 4.000 tahun silam. Arkeolog itu, mendiang Surin Pookajorn, menemukan butir beras dari era 7.000-5.000 tahun sebelum Masehi di Semenanjung Melayu. Batas waktu ini lebih tua beberapa tahun dibanding kedatangan orang Austronesia dari Taiwan.

Oppenheimer juga merujuk pada fakta bahwa di beberapa suku di Nusa Tenggara, teknologi beras tidak muncul sampai beberapa puluh tahun lalu. Padahal beras-dan tanaman lain seperti tebu-dipandang sebagai salah satu ciri peradaban Austronesia. "Penghuni di Indonesia sudah ada di sini jauh lebih lama, jauh lebih lama dalam kerangka waktu dibanding dalam Out of Taiwan," katanya.

Dari sisi genetis, pendekatan Oppenheimer itu didukung oleh para pakar genetika. Penelitian hampir 100 ilmuwan genetika Asia, termasuk Profesor Sangkot Marzuki yang memimpin Lembaga Eijkman, sudah memetakan genetika manusia Asia. Hasilnya? "Asia Tenggara adalah pusat penyebaran (manusia modern) setelah Afrika," kata Sangkot.

Teori Oppenheimer memang tidak sedramatis teori mendiang Arysio Nunes dos Santos, profesor fisika nuklir dari Brasil, yang menulis bahwa negeri Atlantis, seperti yang dikisahkan Plato, ada di wilayah Paparan Sunda itu. Seperti dikatakan Harry Truman Simanjuntak, teori Oppenheimer, meski ditentangnya, lebih masuk akal.

Nur Khoiri, Rudy Prasetyo, Muhammad Adnan Husain (Toraja)
sources

Sabtu, 06 November 2010

Benua Tenggelam Itu Bernama Sundaland

Bogor - Benua yang tenggelam di Asia Tenggara dinamakan Sundaland. Apakah benar nama ini terkait dengan peran Indonesia yang penting sejak zaman es?

Penulis buku 'Eden in The East: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara', Stephen Oppenheimer, dalam wawancara dengan detikcom mengatakan kalau Sundaland adalah nama yang sudah diakui di dunia.

Sundaland untuk menyebut paparan benua yang sebagian tenggelam di Asia Tenggara yaitu Indonesia dan sekitarnya.

"Sundaland sudah menjadi istilah geologis. Istilah ini sudah lama," kata Oppenheimer di sela-sela diskusi 'Reinventing Sunda' di Hotel Salak, Bogor.

Oppenheimer maklum kalau orang Indonesia akan memahami Sundaland sebagai Jawa Barat. Namun Sundaland untuk ahli geologi adalah sebuah paparan benua.

"Saya tidak tahu kenapa yang dipilih namanya adalah Sunda, bukan pulau lain di Indonesia," jelas dia.

Penjelasan Oppenheimer diperjelas oleh guru besar geologi Unpad Prof Adjat Sudrajat dalam kesempatan yang sama. Menurut Adjat, Sundaland adalah nama pemberian para pembuat peta dari Portugis.

"Saat Portugis menjelajah sampai Indonesia, mereka membuat peta. Karena di Jawa sudah ada kerajaan Sunda, semua wilayah disebut Sundaland," kata Adjat.

Peta ini adalah peta ilmiah untuk perkembangan ilmu geografi di Eropa. Peta inilah yang diperkenalkan kepada ilmuwan Eropa.

"Semua pakai nama Sunda. Ada pulau Sunda Besar, Sunda Kecil, sampai Laut Sunda," jelas dia.

Oleh karena itu, Asia Tenggara dalam istilah geografi dan geologi disebut Sundaland. Barulah perkembangan zaman memberikan nama Indonesia, Malaysia, dan seterusnya.

"Tapi kalau bicara geologis, tetap Sundaland," tutup Adjat.

(fay/lrn)

http://detiknews.com/read/2010/10/27/155529/1476738/10/kenapa-benua-tenggelam-itu-bernama-sundaland?nd992203topnews

Kamis, 28 Oktober 2010

Indonesia dan Banjir Nabi Nuh - Indonesia Benua yang Hilang

Jakarta - Seorang ilmuwan dari Univeritas Oxford, Inggris, meyakini banjir Nabi Nuh adalah fakta sejarah yang terjadi di kawasan Indonesia. Kisah banjir Nuh diyakini sebagai pemicu migrasi massal dari benua Sundaland yang tenggelam.

Profesor Stephen Oppenheimer menulis buku Eden in The East: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara, untuk mengungkapkan penelitiannya. Pakar genetika ini juga sekaligus mendalami antropologi dan folklore yang mengkaji dongeng-dongeng dunia.

Menurut dia, satu-satunya dongeng yang menyebar luas di dunia secara merata adalah kisah banjir Nabi Nuh dengan segala versinya. Umat Islam, Kristen dan Yahudi tentu mendapatkan kisah banjir Nuh dari kitab suci masing-masing.

Namun, bagaimana dengan masyarakat pra Islam, Kristen dan Yahudi? Misalnya saja bangsa Sumeria, Babilonia, India, Yunani. Mereka pun ternyata punya kisah banjir bandang yang menenggelamkan seluruh daratan.

Buku Eden in The East setebal 814 halaman ini, separuhnya dihabiskan Oppenheimer untuk membedah dongeng-dongeng ini. Oppenheimer mencatat ada sekitar 500 kisah soal banjir di seluruh dunia. Dari India sampai Amerika, dari Australia sampai Eropa.

Tokoh utamanya pun berubah-ubah. Agama samawi menyebutnya Nuh, atau Noah. Bangsa Mesopotamia menyebut sang jagoan adalah Utanapishtim, di Babilonia kuno disebut Athrasis, orang India kuno menyebutnya Manu.

Nama boleh beda, namun inti ceritanya sama. Ada banjir besar yang menenggelamkan daratan, sang tokoh utama menyelamatkan diri dengan perahu, atau kapal besar. Dia pun tidak lupa membawa hewan-hewan. Kapalnya nanti mendarat di gunung dan sang tokoh utama bersama keluarga atau pengikutnya melanjutkan kehidupan mereka yang baru.

Oppenheimer pun mengungkapkan, kisah-kisah banjir lebih banyak lagi terdapat di Asia Tenggara. Variasinya sangat bermacam-macam pada berbagai suku pedalaman di Indonesia, Malaysia, Filipina dan pulau-pulau di Polinesia.

Tingkat keberagaman cerita banjir di kawasan ini pun membuat Oppenheimer berteori, kalau bangsa yang terpaksa berimigrasi akibat banjir besar, tinggal di Indonesia dan sekitarnya. Semua kisah banjir ini menurut Oppenheimer adalah bukti kalau banjir besar di penghujung Zaman Es ini adalah benar adanya.

Jika Anda ingin mendalami kisah Indonesia sebagai benua yang tenggelam, buku "Eden in The East.
(fay/nrl)
http://www.detiknews.com/read/2010/10/25/112028/1474019/10/indonesia-dan-banjir-nabi-nuh?nd992203605

Rabu, 27 Oktober 2010

Fakta Sejarah Asal Usul Orang (Suku) Sunda

Fakta Sejarah Asal Usul Orang (Suku) Sunda Adalah Suku Pendatang Ditulis oleh Administrator Selasa, 02 Maret 2010 07:14
Banyak pakar yang menyatakan bahwa orang Sunda khususnya dan Indonesia umumnya adalah para pendatang dari daerah Yunan. benarkah itu ? (Ada ? sebuah fakta yang dapat dianggap dongeng tapi perlu kita cermati dengan seksama).

Di daratan Asia, kira-kira antara Pegunungan Hindukusj dan Pegunungan Himalaya ada sebuah dataran tinggi (plateau) yang bernama Iran-venj, penduduknya disebut bangsa Aria. Mereka menganggap bahwa tanah airnya disebut sebagai Taman Surga, karena kedekatannya dengan alam gaib. Namun, mereka mendapat wangsit dalam Uganya, bahwa suatu ketika bangsa Iran Venj akan hancur, sehingga bangsa Aria ini menyebar ke berbagai daerah. Salah satu gerombolan bangsa Aria yang dikepalai oleh warga Achaemenide menyebut dirinya sebagai bangsa Parsa dan pada akhirnya disebut bangsa Persi dan membangun kota Persi-Polis. Pemimpin Achaemenide bergelar Kurush (orang Yunani menyebut Cyrus).

Dalam perjalanan sejarahnya, mereka membantu bangsa Media yang diserang oleh bangsa Darius. Bahkan bangsa Darius dengan pimpinan Alexander Macedonia pun pada akhirnya menyerang Persi. Dan tak lepas dari itu bangsa Persi, pada jaman Islam pun diserang dan ditaklukkan. Begitu pula oleh Jengis Khan dari Mongol, dan pada akhirnya diserang pula oleh bangsa Tartar yang dikepalai oleh Timur-Leng. Rentang perjalanan sejarah bangsa Persi ini, menyadarkan mereka untuk kembali kepada nama asalnya, yaitu Iran (dari Iran-Venj).

Segerombolan suku bangsa Aria yang menuju arah Selatan, sampailah ? di tanah Sunda, tepatnya di Pelabuhanratu (sekarang). ? Para pendatang itu disambut dengan ramah dan terjadi akulturasi budaya di antara mereka, pendatang dan pribumi (Sunda) saling menghormati satu sama lainnya. Proses akulturasi budaya ini dapat kita lihat dalam sistem religi yang diterapkan, Pendatang mengalah dengan keadaan dan situasi serta tatanan yang ada. Batara Tunggal atau Hyang Batara sebagai pusat "sesembahan" orang Sunda tetap menempati tempat yang paling tinggi, sedangkan dewa-dewa yang menjadi "sesembahan" pendatang ditempatkan di bawahnya. Hal itu dapat dilihat dalam stratifikasi sistem "sesembahan" yang ada di daerah Baduy, dikatakan bahwa Batara Tunggal atau Sang Rama mempunyai tujuh putra keresa, lima dewa di antaranya adalah Hindu, yaitu : Batara Guru di Jampang, Batara Iswara (Siwa), Batara Wisnu, Batara Brahma, Batara Kala, Batara Mahadewa (pada akhirnya menjadi Guriang Sakti serta menjelma jadi Sang Manarah atau Ciung Manara), Batara Patanjala (yang dianggap cikal bakal Sunda Baduy). Akulturasi ini, tidak saja dalam lingkup budaya, melainkan dalam perkawinan.

Nun jauh di sana, di Fasifik sana, Bangsa Mauri dilihat secara tipologinya, mereka berkulit kuning (sawo matang), Postur tubuh hampir sama dengan orang Sunda. Nama-nama atau istilah-istilah yang dipergunakan, seperti Dr. Winata (kurang lebih tahun 60-an menjadi kepala Musium di Auckland). Nama ini tidak dibaca Winetou atau winoto tapi Winata . Beliaulah yang memberikan Asumsi dan teori bahwa orang Mauri berasal dari Pelabuhanratu. Hal yang lebih aneh lagi adalah di Selandia Baru tidak terdapat binatang buas, apalagi dengan harimau "maung", tapi "sima" maung dipergunakan sebagai lambang agar musuh-musuh mereka merasa takut.

Memang tidak banyak yang menerangkan bahwa orangIndonesia (Sunda) yang datang ke pulau ini, kecuali tersirat dalam Encyclopedia Americana Vol 22 Hal 335. Bangsa kita selain membawa suatu tatanan "tata - subita" yang lebih tinggi, kebiasaan gotong royong, teknik menenun, juga membawa budaya tulis menulis yang kemudian menjadi â€Å“Kohao Rongo-rongoâ€? fungsinya sebagai "mnemo-teknik" (jembatan keledai) untuk mengingat agar tidak ada bait yang terlewat.

Benarkah Parahiangan sebagai Pusat Dunia yang Hilang (Atlantis) ?

Untuk memudahkan menjawab pertanyaan di atas, mari kita buktikan dengan benda-benda hasil karya mereka. Salah satunya adalah Trappenpyramide, yaitu limas bertangga).

Di Jawa Barat (Tatar Sunda), Limas bertangga ini dahulu berfungsi sebagai tempat peribadatan begitu pula bagi orang Pangawinan (Baduy) dan bagi orang Karawang yang masih memegang teguh dalam adat tatali karuhun tidak boleh membangun rumah suhunan lilimasan. Bagi orang Jawa Tengah, menurut Dr. H.J De Graaf "hunnebedden" dengan adanya candi-candi Hindu yang sudah sangat kental percampurannya, sehingga tidak lagi terlihat jati diri Jawa Tengahnya. Sedangkan candi-candi di Jawa Timur bentuk-bentuknya masih kentara keasliannya, karena tempelan budaya luar hanya sebagai aksesoris saja. Yang lebih jelas lagi di Bali, karena keasliannya sangat kentara.

Kembali ke daerah Polynesia, bangunan-bangunan purba "trappenpyramide" tersebar di pulau Paska hingga ke Amerika Selatan yaitu di Peru. Apa ada hubungannya dengan Sunda ?

Salah satu ekspedisi Kontiki - Dr. Heyerdahl, membuktikan dan memunculkan teorinya bahwa hal tersebut di atas merupakan hasil kebudayaan dari manusia putih berkulit merah (sawo matang). Walaupun teori ini banyak dibantah para ahli lainnya, namun dapat kita tarik satu asumsi bahwa manusia putih berkulit merah ini adalah manusia Atlantis yang hilang oleh daya magi.

Pembuktian ekspedisi Kontiki - Dr. Heyerdahl sekarang lebih terungkap itu ada benarnya. Sehingga bila melihat sejarah bahwa keturunan dari Tatar Sunda menyebrang hingga ke Polynesia itu adalah orang-orang Atlantis -- yang memang karuhun kita selalu menyembunyikan dalam bentuk simbol -- ? ekspansi kebudayaan dari Tatar Sunda ke daerah Polynesia, yaitu dengan adanya rombongan dari Palabuhanratu, dapat dibuktikan kebenaran-nya.!

Seperti uraian benarkah orang Sunda pendatang atau benarkah Parahiangan pusat Atlantis ? Di sini, silahkan sidang pembaca untuk menilai lebih jeli kebenaran yang ada, karena benar adalah benar ia harus absolut tidak relatif. ?

Sumber : http://sundasamanggaran.blogspot.com

Selasa, 05 Januari 2010

Peneliti AS menyatakan Atlantis is Indonesia

Benua Kuno Atlantis Ada di Indonesia?



JAKARTA -- Para peneliti AS menyatakan bahwa Atlantis is Indonesia. Hingga kini cerita tentang benua yang hilang 'Atlantis' masih terselimuti kabut misteri. Sebagian orang menganggap Atlantis cuma dongeng belaka, meski tak kurang 5.000 buku soal Atlantis telah ditulis oleh para pakar.

Bagi para arkeolog atau oceanografer moderen, Atlantis tetap merupakan obyek menarik terutama soal teka-teki dimana sebetulnya lokasi sang benua. Banyak ilmuwan menyebut benua Atlantis terletak di Samudera Atlantik.

Sebagian arkeolog Amerika Serikat (AS) bahkan meyakini benua Atlantis dulunya adalah sebuah pulau besar bernama Sunda Land (Paparan Sunda), suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.

''Para peneliti AS ini menyatakan bahwa Atlantis is Indonesia,'' kata Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Umar Anggara Jenny, Jumat (17/6), di sela-sela rencana gelaran 'International Symposium on The Dispersal of Austronesian and the Ethnogeneses of the People in Indonesia Archipelago, 28-30 Juni 2005.

Kata Umar, dalam dua dekade terakhir memang diperoleh banyak temuan penting soal penyebaran dan asal usul manusia. Salah satu temuan penting ini adalah hipotesa adanya sebuah pulau besar sekali di Laut Cina Selatan yang tenggelam setelah zaman es.

Hipotesa itu, kata Umar, berdasarkan pada kajian ilmiah seiring makin mutakhirnya pengetahuan tentang arkeologimolekuler. Tema ini, lanjutnya, bahkan akan menjadi salah satu hal yang diangkat dalam simposium internasional di Solo, 28-30 Juni.

Menurut Umar, salah satu pulau penting yang tersisa dari benua Atlantis -- jika memang benar -- adalah Pulau Natuna, Riau. Berdasarkan kajian biomolekuler, penduduk asli Natuna diketahui memiliki gen yang mirip dengan bangsa Austronesia tertua.

Bangsa Austronesia diyakini memiliki tingkat kebudayaan tinggi, seperti bayangan tentang bangsa Atlantis yang disebut-sebut dalam mitos Plato. Ketika zaman es berakhir, yang ditandai tenggelamnya 'benua Atlantis', bangsa Austronesia menyebar ke berbagai penjuru.

Mereka lalu menciptakan keragaman budaya dan bahasa pada masyarakat lokal yang disinggahinya dalam tempo cepat yakni pada 3.500 sampai 5.000 tahun lampau. Kini rumpun Austronesia menempati separuh muka bumi.

Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Harry Truman Simanjuntak, mengakui memang ada pendapat dari sebagian pakar yang menyatakan bahwa benua Atlantis terletak di Indonesia. Namun hal itu masih debatable.

Yang jelas, terang Harry, memang benar ada sebuah daratan besar yang dahulu kala bernama Sunda Land. Luas daratan itu kira-kira dua kali negara India. ''Benar, daratan itu hilang. Dan kini tinggal Sumatra, Jawa atau Kalimantan,'' terang Harry. Menurut dia, sah-sah saja para ilmuwan mengatakan bahwa wilayah yang tenggelam itu adalah benua Atlantis yang hilang, meski itu masih menjadi perdebatan.

Dominasi Austronesia Menurut Umar Anggara Jenny, Austronesia sebagai rumpun bahasa merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah manusia. Rumpun ini memiliki sebaran yang paling luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Bahasa tersebut kini dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang.

''Pertanyaannya dari mana asal-usul mereka? Mengapa sebarannya begitu meluas dan cepat yakni dalam 3500-5000 tahun yang lalu. Bagaimana cara adaptasinya sehingga memiliki keragaman budaya yang tinggi,'' tutur Umar.

Salah satu teori, menurut Harry Truman, mengatakan penutur bahasa Austronesia berasal dari Sunda Land yang tenggelam di akhir zaman es. Populasi yang sudah maju, proto-Austronesia, menyebar hingga ke Asia daratan hingga ke Mesopotamia, mempengaruhi penduduk lokal dan mengembangkan peradaban. Tapi ini masih diperdebatan.

(imy )

 

Perdebatan terbaru: Atlantis Yang Hilang Itu Adalah Indonesia?

Rekan-rekan yang suka membaca atau mempelajari buku-buku tentang migrasi manusia modern berdasarkan analisis genetika molekuler (DNA), pasti pernah membaca nama Stephen Oppenheimer.

http://ahmadsamantho.files.wordpress.com/2009/05/benua-sunda-land.jpg

Oppenheimer adalah salah satu tokoh utama bidang ini, yang produktif menuliskan hasil-hasil risetnya. Saat ini, Oppenheimer yang semula seorang dokter anak dan pernah bertugas di Afrika, Malaysia, dan Papua New Guinea; adalah research associate di Institute of Human Sciences, Oxford University.


Salah satu bukunya yang terkenal “Out of Eden : the Peopling of the World” (2004). Ini adalah sebuah buku yang komprehensif tentang sejarah penghunian semua daratan di Bumi oleh manusia modern berdasarkan analisis DNA pada semua bangsa.

Oppenheimer memang pernah terlibat dalam suatu proyek raksasa untuk pemetaan genome manusia seluruh dunia. Dari situ ia mendapatkan data untuk menyusun bukunya. Melalui buku ini, kita bisa menebak dengan mudah bahwa Oppenheimer adalah seorang pembela pemikiran migrasi manusia : Out of Africa, dan menyerang Multiregional.

Namun kita tidak akan membahas buku tersebut, kita akan membahas tentang bukunya yang lain, yang menyulut perdebatan.

Tahun 1998, Oppenheimer menerbitkan buku yang menggoncang kalangan ilmuwan arkeologi dan paleoantropologi,”Eden in the East : The Drowned Continent of Southeast Asia”.

Buku ini penting bagi kita sebab Oppenheimer mendasarkan tesisnya yang kontroversial itu atas geologi Sundaland. Secara singkat, buku ini mengajukan tesis bahwa Sundaland adalah Taman Firdaus (Taman Eden), suatu kawasan berbudaya tinggi, tetapi kemudian tenggelam, lalu para penghuninya mengungsi ke mana-mana : Eurasia, Madagaskar, dan Oseania dan menurunkan ras-ras yang baru. Dari buku Oppenheimer inilah pernah muncul sinyalemen bahwa Sundaland adalah the Lost Atlantis – benua berkebudayaan maju yang tenggelam.

Tesis Oppenheimer (1998) jelas menjungkirbalikkan konsep selama ini bahwa orang-orang Indonesia penghuni Sundaland berasal dari daratan utama Asia, bukan sebaliknya. Apakah Oppenheimer benar? Penelitian dan perdebatan atas tesis Oppenheimer telah berjalan 10 tahun. Disini kita akan membahas beberapa perdebatan terbaru. Sebelumnya, sedikit tentang ringkasan tesis Oppenheimer (1998) itu.

Dalam “Eden in the East: the Drowned Continent of Southeast Asia”, Oppenheimer berhipotesis bahwa bangsa-bangsa Eurasia punya nenek moyang dari Sundaland. Hipotesis ini ia bangun berdasarkan penelitian atas geologi, arkeologi, genetika, linguistk, dan folklore atau mitologi.

Berdasarkan geologi, Oppenheimer mencatat bahwa telah terjadi kenaikan muka laut dengan menyurutnya Zaman Es terakhir. Laut naik setinggi 500 kaki pada periode 14.000-7.000 tahun yang lalu dan telah menenggelamkan Sundaland.

Arkeologi membuktikan bahwa Sundaland mempunyai kebudayaan yang tinggi sebelum banjir terjadi. Kenaikan muka laut ini telah menyebabkan manusia penghuni Sundaland menyebar ke mana-mana mencari daerah yang tinggi. Terjadilah gelombang besar migrasi ke arah Eurasia.

Oppenheimer melacak jalur migrasi ini berdasarkan genetika, linguistik, dan folklore. Sampai sekarang orang-orang Eurasia punya mitos tentang Banjir Besar itu, menurut Oppenheimer itu diturunkan dari nenek moyangnya. Hipotesis Oppenheimer (1998) yang kita sebut ”Out of Sundaland” punya implikasi yang luas.

Bahkan ada yang menyebutkan bahwa Taman Firdaus (Eden) itu bukan di Timur Tengah, tetapi justru di Sundaland. Adam dan Hawa bukanlah ras Mesopotamia, tetapi ras Sunda!. Nah…implikasinya luas bukan?

Hipotesis Oppenheimer (1998) segera menyulut perdebatan baik di kalangan ahli genetika, linguistik, maupun mitologi. Kita akan meringkas beberapa perdebatan pro dan kontra yang terbaru (2007-2008). Di buku-bukunyanya yang terbaru (Out of Eden, 2004; dan Origins of the British, 2007), Oppenheimer tak menyebut sekali pun tesis Sundaland-nya itu.

Sanggahan terbaru datang dari bidang mitologi dalam sebuah Konferensi Internasional Association for Comparative Mythology yang berlangsung di Edinburgh 28-30 Agustus 2007.

http://www.nias.knaw.nl/en/oudfellows/research_group_1994_1995/summaries_94_95/wim_van_binsbergen/naam/W.M.J.+van+Binsbergen.jpg
Wim van Binsbergen

Dalam pertemuan itu, Wim van Binsbergen, seorang ahli mitologi dari Belanda, mengajukan sebuah makalah berjudul :

”A new Paradise myth? An Assessment of Stephen Oppenheimer’s Thesis of the South East Asian Origin of West Asian Core Myths, Including Most of the Mythological Contents of Genesis 1-11”.

Makalah ini mengajukan keberatan-keberatan atas tesis Oppenheimer bahwa orang-orang Sundaland sebagai nenek moyang orang-orang Asia Barat. Binsbergen (2007) menganalisis argumennya berdasarkan complementary archaeological, linguistic, genetic, ethnographic, dan comparative mythological perspectives.

Menurut Binsbergen (2007), Oppenheimer terutama mendasarkan skenario Sundaland-nya berdasarkan mitologi. Pusat mitologi Asia Barat (Taman Firdaus, Adam dan Hawa, kejatuhan manusia dalam dosa, Kain dan Habil, Banjir Besar, Menara Babel) dihipotesiskan Oppenheimer sebagai prototip mitologi Asia Tenggara/Oseania, khususnya Sundaland.

Meskipun Oppenheimer telah menerima tanggapan positif dari para ahli arkeologi yang punya spesialisasi Asia Tenggara, Oppenheimer tak punya bukti kuat atau penelitian detail untuk arkeologi trans-kontinental dari Sundaland ke Eurasia.

Binsbergen (2007) menantang hipotesis Oppenheimer atas argument detailnya menggunakan comparative mythology. Berikut adalah beberapa keberatan atas hipotesis tersebut :
(1) Keberatan metodologi (bagaimana mitos di Sundaland/Oseania yang umurnya hanya abad ke-19 AD dapat menjadi nenek moyang mitos di Asia Barat yang umurnya 3000 tahun BC?)

(2) Kesulitan teoretis akan terjadi membandingkan dengan yakin mitos yang umurnya terpisah ribuan tahun dan jaraknya lintas-benua, juga yang sebenarnya isi detailnya berbeda

(3) Pandangan monosentrik (misal dari Sundaland) saja sudah tak sesuai dengan sejarah kebudayaan manusia yang secara anatomi modern (lebih muda daripada Paleolitikum bagian atas)

(4) Oppenheimer tak memasukkan unsur katastrofi alam yang bisa mengubah jalur migrasi manusia

(5) Mitos bahwa Banjir Besar menutupi seluruh dunia harus ditafsirkan atas pandangan dunia saat itu, bukan pandangan dunia seperti sekarang.

Dalam pertemuan comparative mythology sebelumnya (Kyoto, 2005, Beijing 2006), Binsbergen mengajukan pandangan yang lebih luas dan koheren tentang sejarah panjang Old World mythology yang mengalami transmisi yang komplek dan multisentrik, tak rigid monosentrik seperti hipotesis Oppenheimer (1998). Winsbergen juga mendukung tesisnya itu berdasarkan genetika molekuler menggunakan mitochondrial DNA type B.

Itulah sanggahan terbaru atas tesis Oppenheimer (1998). Dukungan terbaru untuk hipotesis Oppenheimer (1998), baru-baru ini datang dari sekelompok peneliti arkeogenetika yang sebagian merupakan rekan sejawat Oppenheimer.

Kelompok peneliti dari University of Oxford dan University of Leeds ini mengumumkan hasil peneltiannya dalam jurnal “Molecular Biology and Evolution” edisi Maret dan Mei 2008 dalam makalah berjudul:

“Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia”
(Soares et al., 2008)

dan

“New DNA Evidence Overturns Population Migration Theory in Island Southeast Asia” (Richards et al., 2008).

Richards et al. (2008) berdasarkan penelitian DNA menantang teori konvensional saat ini bahwa penduduk Asia Tenggara saat ini (Filipina, Indonesia, dan Malaysia) datang dari Taiwan 4000 (Neolithikum) tahun yang lalu. Tim peneliti menunjukkan justru yang terjadi adalah sebaliknya dan lebih awal, bahwa penduduk Taiwan berasal dari penduduk Sundaland yang bermigrasi akibat Banjir Besar di Sundaland.

Pemecahan garis-garis mitochondrial DNA (yang diwarisi para perempuan) telah berevolusi cukup lama di Asia Tenggara sejak manusia modern pertama kali datang ke wilayah ini sekitar 50.000 tahun yang lalu.

Ciri garis-garis DNA menunjukkan penyebaran populasi pada saat yang bersamaan dengan naiknya muka laut di wilayah ini dan juga menunjukkan migrasi ke Taiwan, ke timur ke New Guinea dan Pasifik, dan ke barat ke daratan utama Asia Tenggara – dalam 10.000 tahun.

Sementara itu Soares et al. (2008) menunjukkan bahwa haplogroup E, suatu komponen penting dalam keanekaragaman mtDNA (DNA mitokondria), berevolusi selama 35.000 tahun terakhir, dan secara dramatik tiba-tiba menyebar ke seluruh pulau-pulau Asia Tenggara pada periode sekitar awal Holosen, pada saat yang bersamaan dengan tenggelamnya Sundaland menjadi laut-laut Jawa, Malaka, dan sekitarnya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitBFefrN-RzpH4nBJvq1lMv4O9naQoCkbDqw4HAO119uuKBvg235d6QR3wd7hxPRCMzIo55EsdDC98PzWR1SCZERUBKdHmp3zKBpq1ZP0xy22N6Xtq9uSl3GMR4wVf5PJ-7o2ekJ28yF4/s400/Sundaland.jpg

Lalu komponen ini mencapai Taiwan dan Oseania lebih baru, sekitar 8000 tahun yang lalu. Ini membuktikan bahwa global warming dan sea-level rises pada ujung Zaman Es 15.000–7.000 tahun yang lalu, sebagai penggerak utama human diversity di wilayah ini.

Oppenheimer dalam bukunya “Eden in the East” (1998) itu berhipotesis bahwa ada tiga periode banjir besar setelah Zaman Es yang memaksa para penghuni Sundaland mengungsi menggunakan kapal atau berjalan ke wilayah-wilayah yang tidak banjir.

Dengan menguji mitochondrial DNA dari orang-orang Asia Tenggara dan Pasifik, kita sekarang punya bukti kuat yang mendukung Teori Banjir. Itu juga mungkin sebabnya mengapa Asia Tenggara punya mitos yang paling kaya tentang Banjir Besar dibandingkan bangsa-bangsa lain.

Nah, begitulah, cukup seru mengikuti perdebatan yang meramu geologi, genetika, biologi molekuler, linguistik, dan mitologi ini. Pihak mana yang mau didukung atau disanggah ? Sebaiknya, masuklah lebih detail ke masalahnya agar argument kita kuat, begitulah menilai perdebatan.

Aku adalah orang Atlantis (2)


I AM ATLANTEAN! (Aku adalah orang Atlantis!) -- Sebuah polemik antara aku dan entah siapa.

Setelah menemukan jawaban-jawaban pertanyaan batinku -yang kutulis dalam blog fs "AM I ATLANTEAN?"- aku tidak berhenti sampai di situ. Aku kerap kali memberitahu, bahkan menanam dogma pada orang-orang sekitarku mengenai keberadaan Atlantis, sesuai dengan keyakinanku, bahwa Atlantis adalah Indonesia. Berharap timbul sifat nasionalisme tinggi pada diri mereka, sama sepertiku setelah aku membaca Negara Kelima milik Es Ito. [Terima kasih pada Es Ito akan hal ini]. Banyak dari mereka yang tidak percaya, tidak peduli. Tapi sedikit yang peduli dan percaya sepertiku. Aku tak gentar menghadapi cemoohan dari kaum pesimis dan bantahan dari kaum terdidik, karena aku didukung mereka yang optimis, cinta negeri, dan walaupun tidak (baca: kurang) terdidik, mereka punya keyakinan. Terutama tentang keberadaan Atlantis di Indonesia.

Bantahan-bantahan yang datang tidak hanya disampaikan secara langsung kepadaku, tetapi juga yang disampaikan kepada kami yang percaya hal ini. Melalui situs-situs dan blog-blog tertentu. Contohnya seperti yang kubaca dari sebuah blog, aku lupa URL-nya .[Kalau mau search, coba ketik "Benarkah Indonesia itu Atlantis _ « Dongeng Geologi" tanpa kutip]. Sebuah blog tentang dialog antara penulis dengan Sulastama Raharja, yang oleh penulis dipanggil si Komo.

Mereka dengan berandalkan risetnya yang njelimet dan tingkat pendidikan tinggi serta minat baca yang tinggi, membantah dengan memberikan sumber-sumber bantahannya. Menurut ini, menurut itu, kata si anu, berdasarkan teori gituan, dan sebagainya. Mungkin mereka menganggap keberadaan Atlantis di Nusantara itu hanya hal gaib. Sementara aku menganggap bahwa hal gaib adalah fakta yang tertunda, yang penjelasan ilmiahnya belum bisa dibuktikan.

Contohnya seperti ketika Sang Pujaan, Nabi Muhammad SAW melarang umatnya meniup makanan ketika menyuap makanan panas. Orang-orang pada zamannya mungkin tidak tahu alasan ilmiah mengapa hal itu dilarang. Mereka hanya mematuhi berdasarkan kredibilitas Nabi Muhammad SAW. Sementara orang-orang setelah zamannya, sebelum penjelasan sains tentang hal itu terungkap, menjauhi larangannya -mungkin- karena ada alasan gaib di balik larangan itu. Tapi ketika ilmu pengetahuan mampu menjelaskannya, ternyata udara yang keluar dari mulut kita ketika kita meniup makan panas adalah udara kotor. Jadi sebenarnya Nabi Muhammad SAW melarang kita "mengotori" makanan yang hendak kita makan. Atau kita dilarang makan makanan yang kotor. Haruslah yang baik dan bermanfaat. Nabi Muhammad sendiri mungkin tahu alasan rasional mengapa ia melarang kita melakukan hal itu. Tapi ia sengaja tidak memberikan alasan logis kepada kita agar kita mencari tahu sendiri apa maksud dibalik itu. Kalau kita mencari tahu sendiri berarti kita belajar. Kalau belajar berarti kita mengamalkan ayat Al Quran yang turun pertama: IQRA! Sebuah kesinambungan yang sangat menarik dan sangat masuk akal.

Kembali ke Atlantis, bukan kembali ke laptop. Karena aku tak pernah meninggalkan laptop.

Membaca "Benarkah Indonesia itu Atlantis _ « Dongeng Geologi" http://rovicky.wordpress.com, aku mempunyai 2 pertanyaan: satu bersifat introspektif, yaitu "Apakah aku salah memahami penjelasan-penjelasan yang kubaca tentang Atlantis?". Dua, yang bersifat merendahkan, yaitu "Apakah mereka tidak memahami dengan baik penjelasan-penjelasan seperti yang kupahami?"

Ada (baca: banyak) perbedaan pemahaman tentang Atlantis, terutama tentang risetnya Prof Santos (www.atlan.org). Ini kuambil langsung dan mentah-mentah tanpa diedit, dari blog "Benarkah Indonesia itu Atlantis _ « Dongeng Geologi":

PERBEDAAN PEMAHAMAN I

[Penulis:] 1. Pak Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India , Sri Lanka , Sumatra , Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya.

[Jawaban si Komo yang ditulis oleh pemilik blog:] komo: kalau melihat figure 20 dari http://www.bernardharrisonandfriends.com/pdfs/continental.pdf , pada jaman es antara 1,6 juta - 100 ribu tahun yang lalu, daerah yang saat ini di namakan indonesia sudah tidak menyatu. Pada saat air laut surut, sumatera, kalimantan dan jawa menyatu dengan asia, maluku, papua menyatu dengan australia sementara sulawesi dan nusatenggara sebagai pulau2 sendiri. Jadi ketetapan Pak Santos spekulatif dan kurang akurat. Hal ini didukung oleh jenis2 fauna yang berbeda antara Papua dengan Jawa/Sumatera/Kalimantan, fauna2 di papua lebih mirip dengan autralia dan fauna di jawa/sumatera/kalimantan lebih mirip dengan di Asia.

[Aku:] Penempatan tanda baca dari blog tersebut membingungkan pembaca, khususnya aku, yang pernah mengenyam pendidikan jurnalistik. Jadi menurut pemahamanku tentang jawaban si Komo, si Komo mengatakan bahwa Sumatera-Kalimantan-Jawa menyatu dengan Asia, Maluku-Papua menyatu dengan Australia, sementara Sulawesi-Nusatenggara masing-masing berdiri sendiri.

Pemahamanku: menurut si Komo, riset Prof Santos tidak akurat karena Sumatera-Kalimantan-Jawa-Maluku-Papua dianggap tergabung dalam pangea Asia. Padahal menurut penjelasannya Prof Santos -dan mudah-mudahan sama dengan pemahamanku- adalah, Sumatera-Kalimantan-Jawa memang menyatu dengan Asia, Maluku-Papua memang menyatu dengan Australia, sementara Sulawesi-Nusatenggara memang masing-masing berdiri sendiri. Prof Santos memang menggambarkan seperti itu, sama seperti pendapat si Komo. Tapi kenapa si Komo malah memahami bahwa Prof Santos mengatakan pulau-pulau di Indonesia dulunya tergabung?

Sulit dicerna? Jadi begini. Prof Santos bilang A. Si Komo mendengar dan memahaminya sebagai B. Lalu Si Komo mencari tahu tentang hal itu dan ternyata fakta yang didapat adalah A. Lalu ia bilang ke publik bahwa Prof Santos salah karena telah berkata B, sementara -menurut si Komo- yang benar adalah A. Dan si Komo mengklaim kebenarannya tentang perihal A itu didapat bukan dari Prof Santos. Sementara ketika Prof Santos bilang A, aku memahaminya sebagai A. Jadi ketika si Komo bilang "Prof-Santos-salah-karena-telah-berkata-B,-padahal-yang-benar-A", aku jadi bingung. Bagiku, apa yang dibilang Prof Santos dan si Komo sama-sama A, tapi si Komo telah "memfitnah" Prof Santos. Fitnahnya adalah bahwa Prof Santos telah berkata B.

A yang dimaksud adalah "Sumatera-Kalimantan-Jawa menyatu dengan Asia, Maluku-Papua menyatu dengan Australia, sementara Sulawesi-Nusatenggara masing-masing berdiri sendiri". Dan B yang dimaksud adalah "Pulau-pulau di Indonesia dulunya tergabung".

Sudah bisa dicerna? Kuharap sudah, karena aku bingung bagaimana lagi cara menjelaskannya. Mari lanjut.

PERBEDAAN PEMAHAMAN II

[Penulis:] 2. Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) ... Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa)...

[Jawaban si Komo yang ditulis oleh pemilik blog:] komo: "Super Volcano Toba terjadi 73.000 BC tahun yang lalu, merupakan letusan terhebat dalam 2 juta tahun terakhir. Teori plato di atas jadi kurang akurat karena menyebutkan letusan Krakatau yang paling dasyat. Mengacu kepada http://mirrorh.com/timeline.html, Atlantis Kingdom(?) mungkin ada pada 23.400 B.C , jadi tidak mungkin letusan Toba menenggelamkan Atlantis, karena letusan Toba terjadi sebelumnya.

[Aku:] Duh.. ada 2 kesalahpahaman di sini.

Pertama terjadi antara si Penulis dengan si Komo. Si Penulis bilang: "Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau". Lalu dibantah oleh si Komo: "Super Volcano Toba terjadi 73.000 BC tahun yang lalu, merupakan letusan terhebat dalam 2 juta tahun terakhir". Rupanya si Komo benar-benar memberi ketegasan bahwa letusan yang paling dahsyat adalah letusan Toba, dilihat dari kata "Super Volcano Toba"-nya. Mungkin si Komo ini orang Batak ya? Orang Batak yang bisa disebut "murtad" karena bernama Sunda. Kok segitu tegasnya menekan bahwa letusan Toba-lah yang paling hebat? Aih, sudahlah, ayo kembali ke masalah.

Jika ada pernyataan begini: "Presiden Indonesia terhebat di kemudian hari adalah Suharto". Lalu tiba-tiba dari lain pihak terdengar argumen: "Presiden terhebat adalah Soekarno".

Dari kasus "presiden terhebat" di atas, aku memahaminya demikian: Soekarno hebat, setelah itu (juga) Suharto. Dari kasus "letusan terhebat" di atasnya lagi, aku memahami: Letusan Toba dahsyat, kemudian kedahsyatannya diikuti Krakatau. Antara ranking 1a (Toba/Soekarno) dan 1b (Krakatau/Suharto). Mungkin benar letusan Toba adalah yang paling hebat selama 2 juta tahun terakhir. Walaupun berdasarkan tayangan National Geographic Channel yg pernah kutonton menyatakan letusan Tambora adalah yang paling hebat. Dan mungkin Plato tidak kenal Toba, yang dia tahu Krakatau. Sama halnya seperti ABG sekarang menganggap bahwa Ikhsan Idol memiliki suara yang unik, padahal aku tahu dari siapa Ikshan Idol mencontoh suara seperti itu. Eddie Vedder. Mungkin Plato sama seperti ABG sekarang. Karena ketidaktahuannya akan "ada letusan hebat sebelum letusan Krakatau", jadinya ia mengira bahwa letusan Krakatau-lah yang paling hebat. Dan si Komo mengklarifikasi bahwa letusan Toba-lah yang paling hebat, dengan menilai kesalahan Plato.

Kesalahpahaman ke dua, mari fokus ke kalimat terakhir dari jawaban si Komo: "...jadi tidak mungkin letusan Toba menenggelamkan Atlantis, karena letusan Toba terjadi sebelumnya."

Memang bukan letusan Toba yang menenggelamkan Atlantis. Adalah Krakatau yang menenggelamkan Atlantis, karena di gunung itulah pusat kota Atlantis berada. Sumatera-Kalimantan-Jawa yang menyatu dengan Asia adalah teritori utama Atlantis. Gunung besar itulah yang kemudian diwujudkan menjadi stupa terbesar dan teratas di Candi Borobudur. Bicara tentang Candi Borobudur, coba datangi lagi ke sana dan cermati relief-reliefnya secara akurat. Tidakkah relief itu sama seperti cerita Atlantis? Tentang sebuah negeri yang gemah-ripah-loh-jinawi, kemudian musnah terkena bencana. Candi Borobudur adalah sebuah monumen untuk mengenang Atlantis. Candi Borobudur adalah "miniatur" Atlantis.

"The pyramid complex of Borobudur (Java) has been hailed as the most significant monument in the Southern Hemisphere and, perhaps, even of the whole world." [www.atlan.org]

Maksudnya, dibanding segala monumen dunia ini, Kompleks Candi Borobudur adalah monumen paling meyakinkan tentang keberadaan Atlantis.

PERBEDAAN PEMAHAMAN III

[Penulis:] 3. Ilmuwan Brazil (Prof Santos) itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat.

[Jawaban si Komo yang ditulis oleh pemilik blog:] komo: agak susah dimengerti kenapa letusan gunung berapi menyebabkan lapisan es mencair. Letusan super volcano Toba menyebabkan terjadinya penurunan suhu bumi 4-5 derajat, letusan gunung Tambora menyebabkan tahun tanpa musim panas di Eropa. Yang mungkin terjadi akibat letusan gunung berapi adalah debu akibat letusan gunung berapi terlempar ke atas/ udara, berada di tamosfer bumi cukup lama dan menghalangi sinar matahari sehingga terjadi penurunan suhu bumi. Tekanan sedimen dan air di dasar samudera menyebabkan gempa merupakan spekulasi yang kurang akurat, mengenai penyebab gempa bisa dilihat di http://earthquake.usgs.gov/learning/kids/eqscience.php atau di http://earthsci.org/education/teacher/basicgeol/earthq/earthq.html#OginofEarthquakes .

[Aku:] Yang oleh si Komo diperkirakan mungkin terjadi -mengenai mencairnya lapisan es ini- adalah benar: "Yang mungkin terjadi akibat letusan gunung berapi adalah debu akibat letusan gunung berapi terlempar ke atas/udara, berada di atmosfer bumi cukup lama dan menghalangi sinar matahari sehingga terjadi penurunan suhu bumi."

Hal ini senada dengan Prof Santos:

"The explosion of Mt. Krakatoa caused a giant tsunami, which ravaged the lowlands of Atlantis and Lemuria. It also triggered the end of the last Ice Age by covering the continental glaciers with a layer of soot (fly ash) which precipitated their melting by increasing the absorption of sunshine. " [www.atlan.org]

"Ledakan Gn. Krakatau menyebabkan tsunami besar, yang menghancurkan dataran rendah Atlantis dan Lemuria. Ledakan tersebut juga memicu berakhirnya zaman es dengan menutup benua es dengan lapisan asap tebal (debu yang berterbangan) yang lelehannya diakibatkan dari meningkatnya penyerapan sinar matahari."

Singkat kata, saat Krakatau meletus, selain terjadi tsunami, juga terjadi global warming. Terjadi efek rumah kaca. Panas matahari yang masuk ke bumi tidak bisa keluar karena tertutup asap tebal yang terbentuk dari debu-debu letusan Krakatau. Itulah yang menyebabkan lapisan es mencair.

Apa yang dibilang "mungkin" oleh si Komo adalah apa yang dijelaskan oleh Prof Santos. Kesalahpahaman yang terjadi seperti PERBEDAAN PEMAHAMAN I kembali terjadi si sini. Prof Santos bilang A. Si komo memahaminya sebagai B. Lalu setelah riset, si Komo bilang yang benar adalah A dan pendapat si Prof Santos salah (si Komo mengira Prof Santos bilang B, karena begitulah yang dipahami si Komo).

Hahaha...aku jadi teringat iklan susu kental manis. "Ini teh susu," kata si Ujang. Lalu si Gendo bilang, "Susu kok dibilang teh?"

Wah, sudah mulai ngawur nih aku. Bagaimana tidak, si penulis sepertinya ngawur duluan. Apa yang tidak dikatakan Prof Santos malah dibilang Prof Santos yang mengatakannya. Lalu si Komo mengatakan apa yang sebenarnya dikatakan oleh Prof Santos. Wah kalau begini terus, aku capek juga harus "meralat" pendapat si penulis dan si Komo.

Akhirnya kuputuskan untuk menyudahi "bantahan" terhadap blog "Benarkah Indonesia itu Atlantis _ « Dongeng Geologi" ini. Percuma. Lagipula, sekarang sudah azan Shubuh. Sudah waktunya... Tapi tunggu sebentar. Untuk menutupi blog ini, aku ingin melempar pertanyaan tentang budaya Nusantara kepada siapa saja yang membaca blog ini.

Jika ada yang pernah/sedang diluar negeri, siapapun dimanapun itu, aku mau tahu: apakah di sana ada struktur pemerintahan seperti di Indonesia? Struktur pemerintahan sampai yang terkecil: Rukun Tetangga?

Mungkin RT-RW ini salah satu sisa peninggalan budaya Atlantis.

Oh iya, tambahan... ini ada beberapa kutipan dari comment pembaca blog tersebut:

1. "nek gunung mbledos bagian yang hilang mananya ? puncaknya atau seluruh gunungnya ? Kalau seluruhnya gunungnya mungkin tidak ya ? mungkin tidak ya bisa membelah jawa dan sumatera."

Tanggapanku mengenai komentar di atas: Krakatau meletus...meledak... semuanya meledak. Duar! Seperti itulah yang kutonton di National Geographic Channel, acara Behind The News, episode Krakatoa. That's why Plato bilang letusan Krakatau yang paling hebat, karena letusannya itu menghancurkan dirinya sediri. Yang tadinya menghubungkan Jawa dan Sumatera, kini jadi pemisah antar keduanya.

2. "Malu kalau Indonesia sebagai Atlantis, lha gimana, pejabatnya kaya gitu? korup terus... Masa peradaban tinggi menghasilkan mental uelek banget."

Memang, awalnya Atlantis adalah bangsa yang, let's say, saling tenggang rasa, tepo seliro, dll. Tapi kemudian orang-orangnya pada bejad. Mungkin karena ketamakan dan keangkuhan, menganggap negerinya adalah yang paling hebat. Jadi Allah menurunkan azab pada mereka. Memusnahkan negerinya. Tapi tidak memusnahkan jejaknya. Candi Borobudur adalah jejaknya. Sama seperti Laut Mati, jejak dari kaumnya Nabi Luth. Atau mumi masal di Pompeii, untuk memberi kita pelajaran akan kebiasaan buruk Kaligula.

Lagian, kalau aku boleh memaparkan penalaranku, mental bangsa kita yang tadi disebut "uelek" (aku tak tahu apa artinya), itu diakibatkan penjajahan non-fisik dari bangsa barat. Mereka (baca: bangsa barat) tidak bisa menjajah Nusantara secara fisik, karena, sudah menjadi turunan dari Atlantis-Sriwijaya-Majapahit bahwa bangsa ini adalah bangsa yang "hebat". Perang 3,5 abad pun diladeni, tak kenal menyerah. Seandainya Indonesia dijajah fisik selama satu milenium pun, aku yakin, akan tetap dilawan sampai bisa mendapatkan sendiri kemerdekaannya. Karena ketidakmampuan bangsa barat -yang somehow sudah tahu bahwa Nusantara adalah Atlantis, that's why mereka mau merebutnya- dalam menjajah fisik bangsa ini, akhirnya mereka menjajah dengan cara non-frontal. Dengan kebudayaan: Pop culture, apalah namanya.

3. "Ya ampun, soal atlantis disibukin, soal adam air yg menghilang begitu dekatnya belum bisa diketemui, alah rek.waduh seh.gombloooo."

Nah ini menarik... membuatku bercermin. Tapi aku bukan ahli mencari pesawat hilang, orang hilang, atau kotak hitam. Aku juga bukan ahli apa-apa. Aku ahli tidur. Tapi Atlantis lebih menarik bagiku, sama halnya naik angkutan umum lebih menarik bagiku ketimbang naik kendaraan pribadi. Dan perihal Atlantis ini membuatku tidak tidur malam ini.

Soal hilangnya Adam Air, hmmm... mungkinkah itu konspirasi? *) Tulisan ini diposting dekat dengan kejadian hilangnya Adam Air di... dimana aku lupa, 11 Januari 2007. Jadi wajar dia menulis demikian. Jangan mengira bahwa dari waktu dekat ini terjadi pesawat hilang lagi.

4. "Saya baru-baru ini nemuin artikel dalam bhs jawa mengenai bangsa Atlantis. Kira2 seperti ini yang mereka tulis:

“PENGARUH GAIB BANGSA ATLANTIS TERHADAP ORANG-ORANG DI P. JAWA”

... Menurut Lead Beater: sarjana dari Inggris ini, dalam bukunya yang berjudul “The Occult History of Java” (Sejarah Kegaiban di P.Jawa), menyebutkan diwaktu itu pulau Jawa dihuni oleh bangsa gaib, yaitu yang disebut Bangsa Atlantis. Bangsa ini memiliki ilmu teknologi tingkat tinggi (mutakhir). Mereka bisa mengubah rupa manusia menjadi rupa binatang atau monster yang mengerikan. Juga memiliki senjata pamungkas, yang ampuh seperti laser saat ini. Hanya karena mereka sangat tamak, lalu mereka melupakan kekuasaan Tuhan, maka dengan seketika Tuhan memusnahkan mereka karena telah salah mempergunakan senjata pamungkasnya.

...BERSAMBUNG... (maaf, lanjutannya lain waktu, nyambi kerja siy)"

Hahahaha.. atasannya datang ya? Takut ketahuan main internet saat jam kantor? Hahaha... payah tuh bos!! Tapi benar-benar menarik. Lebih menarik daripada Mulan Jameela plus Agnes Monica plus Siti Nurhaliza tidur bersama denganku.

5. "Pak Rovicky ini sepertinya belum baca buku Santos ya.. Pasti belum juga baca buku Plato yg menjadi deskripsi awal tentang Atlantis.. Dimaklumilah.."

Rovicky sepertinya si nama pemilik blog. Komentar ini... Aku sependapat dengan komentar ini.

...Tapi azan subuh sudah dikumandangkan beberapa waktu lalu. Aku harus bergegas. Dan aku belum tidur.

 

tag : atlantis, sunda land, paparan sunda, benua yang hilang, indonesia

Apakah Aku Orang Atlantis? (1)

Apakah Aku Orang Atlantis

*AM I ATLANTEAN = APAKAH AKU ORANG ATLANTIS?

Pada suatu masa dimana kadar keimananku di atas rata-rata, aku tergoda oleh para mahkluk mulia agar aku mengkaji kitab suci. Maka kubedahlah baitan firman itu. Tapi maafkan aku ya Allah, aku tidak mau terdoktrin mentah-mentah dengan kata-kata indah dariMu. Karena kuyakin selain memberi ketentraman hati dan sastra nan agung, di dalam pesan-pesanMu mengadung maksud tertentu. Bahkan aku yakin aku bisa menemukanMu.

Akhirnya kusudahi rapalan di satu bahasa, dan kurahkan mataku pada tulisan berbahasa ibu, yang merupakan arti dan tafsiran dari bahasa asing yang tadi kulantunkan. Sekali lagi aku tak puas. Segera kututup media itu, dan beralih ke media cyber. Lebih asyik, pikirku, karena bisa menggunakan indeks dengan mudah.

Pencarianku mulai tak terarah, bukan arti dan tafsir dari bacaan tadi. Melainkan tentang hal lain. Kucoba cari tentang Iskandar Zulkarnain. Kubaca. Kemudian kucari tentang Khidir. Kubaca. Kemudian kucari dan kubaca tentang orang-orang hebat dan mulia zaman dahulu. Lalu kucari tentang kaum Ad, Tsamud, dan kaum-kaum lain. Bagiku mereka tampak sama saja: berlatar belakang Arab, atau setidaknya berada di jazirah sana

Timbul pikiran nakal dalam benakku: Kenapa tidak ada bangsa selain bangsa Arab di kitab mulia ini?; Bukankah Dia itu Tuhannya alam semesta?; Apakah Dia hanya Tuhannya bangsa Arab, dan diluar bangsa Arab secara langsung ataupun tidak langsung "dipaksa" percaya pada Tuhannya bangsa Arab itu?; Kalau Dia memang Tuhannya alam semesta mengapa Dia tidak melibatkan bangsa lain dalam Kitab Agung ini, seperti bangsa Viking atau suku Aztec misalnya?; Bukankah kalau kita menyebut "alam semesta" berarti sama saja menyebut seluruh bangsa di dunia ini bahkan sampai keluar galaksi (jika memang ada bangsa di luar galaksi)?; dan pertanyaan-pertanyaan nakal lain yang terpintas. Lebih spesifik lagi: Mengapa Dia tidak mengikutsertakan Indonesia, bangsaku ini, kedalam sejarah dunia? Mengapa selalu bangsa Arab? Lagi-lagi Arab, lagi lagi Arab. Mengapa ya Allah, mengapa?

Maafkan atas keingintahuanku yang membabi buta ini. Bukankah Kau sendiri yang menyuruh manusia sepertiku untuk berpikir dan membaca, sesuai kata pertama dalam firmanMu? "BACA!"

Lagi-lagi Arab, lagi-lagi Arab. Mana Indonesianya? Akibatnya aku minder menjadi bangsa Indonesia

Sebuah negara "tim hore" yang cuma meramaikan kancah dunia. Tidak dapat peran apa-apa. Figuran dalam sandiwara besar dan panjang dari sejarah dunia ini. Terbesit dalam hati kecilku sebuah doa kecil: andai saja bangsa ini ikut serta dalam sejarah dunia. Seperti Iraq dengan Mesopotamia-nya, Jerman dengan Hitler-nya, Yunani dengan para filsufnya, Andalusia dengan para ilmuwannya, atau bahkan Amerika dengan Bush-nya. Aku tak bangga menjadi bangsa Indonesia

Waktu berlalu cukup lama.

Seorang sahabat di lingkunganku tumbuh dan besar berbicara mengenai sebuah buku. Dia suka pada buku itu, walau diakui ceritanya tidak berakhir sesuai harapan. Aku tidak tertarik, karena dia menceritakan tentang sebuah negeri non sense, bernama Atlantis, sesuai yang diapaparkan buku itu. Betapa tidak, aku hanya tahu Atlantis dari film-film barat. Dan yang paling dekat kuketahui, aku teringat akan game Age of Mythology Expansion: The Titans, yang didalamnya ada kaum Atlantean (orang-orang atlantis).

Tapi karena cerita itu keluar dari mulut seorang sahabat, aku berpura-pura tertarik dan sesumbar meminjam buku itu. Dia menyanggupinya. Kupikir karena aku masih punya banyak waktu senggang, tak apalah sebagai pelipur sepi. Dan kubacalah buku berjudul NEGARA KELIMA karangan ES ITO itu.

Selepasnya, aku justru mendiskreditkan si penulis. Kupikir dia terlalu banyak nonton film. Film fiksi pula! Aku tidak meyakini apa-apa tentang hasil karyanya itu. Lalu aku mengemukakan pendapatku pada si empunya buku. Dia justru memberi pandangan bahwa bisa jadi si penulis salah, tapi bagaimana jika si penulis benar? Mengapa dia berani mengemukakan tulisan itu, sama beraninya dengan Dan Brown yang mengungkap Holy Grail, rahasia Monalisa, Madonna of the Rock, dan lain-lain? Bukankah harusnya dia punya data akurat agar tulisannya bisa dipertanggungjawabkan jika ada orang 'kurang kerjaan' minta buktinya?

Pandanganku terbagi dua. Jika ES ITO salah maka selesai perkara. Tapi jika benar?

Sejujurnya aku sedikit berharap bahwa si penulis menceritakan fakta yang kuat. Betapa tidak, dia menyebutkan bahwa peradaban tertua di Hindustan, Mesopotamia, Mesir, dan suku Indian di benua Amerika, berasal dari satu induk peradaban, yaitu peradaban pertama dan lebih tua dari peradaban yang pernah tercatat dalam sejarah, peradabannya Nabi Adam as, Plato menyebutnya dengan nama Peradaban Atlantis. Dan peradaban ini terletak di bumi Nusantara.

Tadi sudah kusebutkan bahwa keingintahuanku membabi buta. Rasa ingin tahu tentang Atlantis justru semakin kuat dan mendorongku mencari tahu lebih dalam lagi. Sebagai awal, aku meracau ke teman-temanku: jika mereka ada informasi tentang Atlantis, atau lokasi Nabi Adam as turun ke bumi, atau peradaban Nusantara Kuno, tolong beritahu aku. Sedangkan aku sendiri mencari literatur satu-satunya yang menjadi bukti tunggal tentang keberadaan Atlantis, sebuah karya Plato yang berjudul Timaeus and Critias. Memang ada bagian yang menyebutkan tentang kondisi alam Atlantis:

1. Tanahnya subur, banyak pepohonan. Rakyat Atlantis tidak akan pernah merasa khawatir akan kehabisan kayu.
2. Banyak ragam binatang, khususnya gajah dan banteng.
3. Mempunyai dua musim. Ini berarti Atlantis berada di daerah tropis. 4. Banyak gunung.
5. Dan beberapa keterangan lain, sayangnya aku lupa.

Memang semua ciri-ciri yang disebutkan ada di bumi Nusantara. Tapi aku tidak mau terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Menurut keterangan Plato, yang dijabarkan di buku NEGARA KELIMA, Atlantis adalah tanahnya Poseidon. Poseidon punya anak kembar laki-laki. Yang satu dipanggil Atlas. Yang satu lagi aku lupa siapa namanya. Tanah Atlantis diberikan pada Atlas, itulah mengapa tanah itu disebut Atlantis, negeri milik Atlas.

Di lain sisi, aku pernah mendengar bahwa Nabi Adam as punya anak kembar, bernama Habil dan Qabil.

Hanya itu informasi yang kutahu. Memang ada korelasi antara Poseidon dan Nabi Adam. Kupikir ibarat banana dan pisang, batu dan stone, langit dan sky. Hanya beda nama tapi merujuk ke satu objek.

Nah, jadi jika Atlantis adalah bumi Nusantara, sementara Poseidon adalah Nabi Adam as, berarti Nabi Adam as turun di bumi Nusantara. Hanya sampai di sini pencarianku. Buntu. Dari sisi agama aku tidak mendapat apa-apa lagi tentang Nabi Adam, kecuali doktrin bahwa dia adalah manusia pertama, sementara dari sisi lain aku juga tidak mendapat apa-apa lagi selain tetek bengeknya si Plato itu.

Buntu. Waktu berlalu cukup lama, lagi. Aku mulai patah semangat mencari tahu dimana sebenarnya letak Atlantis. Adakah korelasi antara Atlantis, Nusantara, Nabi Adam as, dan Poseidon?

Namun ternyata seorang mantan pacar ada yang terpengaruh dengan racauanku tentang Atlantis, Nusantara, Nabi Adam as, dan Poseidon. Yang tadi sudah kusebutkan. Dia rupanya juga mencari tahu tentang itu.

Kemarin, 25-08-07, aku menerima e-mail yang memberi link ke www.atlan.org. Sebuah e-mail dari mantan pacar yang masih peduli dengan pola pemikiran dan imajinasi-imajinasiku. Aku terkejut dan merasa bangga. Rupanya seorang profesor asal Brasil, bernama Arysio Santos, mengklaim telah menemukan benua yang hilang: Atlantis. Dan penemuannya itu merujuk ke bumi Nusantara. Bahkan dia juga mensinyalir bahwa Nusantara bukan hanya situs peradaban pertama, melainkan juga situs manusia pertama. Manusia pertama tidak lain dan tidak bukan adalah Nabi Adam as, yang Plato menyebutnya dengan nama Poseidon.

Selisih beberapa menit setelah kuungkapkan pada rekan kerjaku bahwa aku (juga ikut) menemukan pencarianku tentang peran Nusantara, dia menceritakan tentang cerita rakyat Badui. Katanya, rakyat Badui masih meyakini bahwa manusia pertama kali berada di tanah Badui, Banten. Ungkapan ini semakin membuatku sumringah. Percaya tidak percaya. Dan yang lebih ajaib lagi, somehow, paman dari Bos-ku tiba-tiba memastikan apakah aku mau ikut dengannya ke Badui. Pikiranku mendadak kacau balau. Tiba-tiba pertanyaanku terjawab bertubi-tubi, dan aku diberi kesempatan untuk membuktikan kebenaran jawaban itu.

Ada kekuatan ilahiah yang sedang bekerja padaku saat itu. Aku yakin, somehow, aku digariskan untuk menapak tilas asal muasal manusia. Yang ternyata asalnya dari bumi Nusantara. Dari tanah Atlantis. Jawabanku tentang peran Indonesia di kancah dunia sudah terjawab. Ternyata Indonesia punya peran yang sangat penting bagi peradaban lainnya. Betapa tidak, manusia pertama turun di bumi Nusantara!!! Dan pencarianku justru baru bermulai di sini. Insya Allah, aku akan segera berangkat ke Badui untuk berkunjung ke situs 'tanah asal' kita semua. Dan tulisan ini tidaklah berakhir sampai disini. Sama seperti pencarianku, tulisan ini justru baru dimulai.

http://benks.blogs.friendster.com/benks/2007/08/atlantis.html

tag : atlantis, sunda land, paparan sunda, indonesia, Poseidon, Nabi Adam, Nusantara

Jumat, 04 Desember 2009

Manusia Pertama ada di Indonesia

Manusia Pertama ada di Indonesia –Catatan dari ‘Eden In The East, The Drowned Continent’ karya Stephen Oppenheimer

Para ahli sejarah umumnya berpendapat bahwa Asia Tenggara adalah kawasan ‘pinggir’ dalam sejarah peradaban manusia. Dengan kata lain, peradaban Asia Tenggara bisa maju dan berkembang karena imbas-imbas migrasi, perdagangan, dan efek-efek yang disebabkan peradaban lain yang digolongkan lebih maju seperti Cina, India, Mesir, dan lainnya. Buku Eden In The East yang ditulis Oppenheimer seolah mencoba menjungkirbalikkan pendapat meinstream tersebut.

Oppenheimer mengemukakan pendapat bahwa justru peradaban-peradaban maju di dunia merupakan buah karya manusia yang pada mulanya menghuni kawasan yang kini menjadi Indonesia. Oppenheimer tidak main-main dalam mengemukakan pendapat ini. Hipotesisnya disandarkan kepada sejumlah kajian geologi, genetik, linguistik, etnografi, serta arkeologi.

Gagasan diaspora manusia dari kawasan Asia Tenggara dicoba untuk direkonstruksi dari peristiwa di akhir zaman es (Last Glacial Maximum) pada sekitar 20.000 tahun yang lalu. Pada saat itu, permukaan laut berada pada ketinggian 150 meter di bawah permukaan laut di zaman sekarang. Kepulauan Indonesia bagian barat, masih menyatu dengan benua Asia sebagai sebuah kawasan daratan maha luas yang disebut Paparan Sunda.

Ketika perlahan-lahan suhu bumi memanas, es di kedua kutub bumi mencair dan menyebabkan naiknya permukaan air laut, sehingga timbul banjir besar. Penelitian oseanografi menunjukan bahwa di Bumi ini pernah tiga kali terjadi banjir besar pada 14.000, 11.000, dan 8.000 tahun yang lalu. Banjir yang terakhir adalah peristiwa yang menyebabkan kenaikan permukaan air laut hingga setinggi 8-11 meter dari tinggi permukaan asalnya. Banjir tersebut mengakibatkan tenggelamnya sebagian besar kawasan Paparan Sunda hingga terpisah-pisah menjadi pulau-pulau yang kini kita kenal sebagai Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali.

Oppenheimer mengemukakan bahwa saat itu, kawasan Paparan Sunda telah dihuni oleh manusia dalam jumlah besar. Karena itulah, menurutnya, hampir semua kebudayaan dunia memiliki tradisi yang mengisahkan cerita banjir besar yang menenggelamkan sebuah daratan. Kisah-kisah semacam banjir Nabi Nuh as, olehnya dianggap sebagai salah satu bentuk transfer informasi antar generasi manusia tentang peristiwa mahadahsyat tersebut.

Menurut Oppenheimer, setelah terjadinya banjir besar tersebut, menusia mulai menyebar ke belahan bumi lainnya. Oppenheimer menyatakan bahwa hipotesisnya ini disokong oleh rekonstruksi persebaran linguistik terbaru yang dikemukakan Johanna Nichols. Nichols memang mencoba mendekonstruksi persebaran bahasa Austronesia. Sebelumnya, Robert Blust (linguis) dan Peter Bellwood (arkeolog) menyatakan bahwa persebaran bahasa-bahasa Austronesi a berasal dari daratan Asia ke Formosa (Taiwan) dan Cina Selatan (Yunnan) sebelum sampai ke Filipina, Indonesia, kepulauan Pasifik dan Madagaskar. Nichols menyatakan konstruksi yang terbalik di mana bahasa-bahasa Austronesia menyebar dari Indonesia-Malaysia ke kawasan-kawasan lainnya dan menjadi induk dari bahasa-bahasa dunia lainnya.

Oppenheimer berkeyakinan bahwa penduduk Malaysia, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan dewasa ini adalah keturunan dari para penghuni Paparan Sunda yang tidak hijrah setelah tenggeamnya sebagian kawasan tersebut. Dengan kata lain, ia hendak mengemukakan bahwa persebaran manusia di dunia berasal dari kawasan ini.

Pendapatnya ia perkuat dengan mengemukakan analisa tentang adanya kesamaan benda-benda neolitik di Sumeria dan Asia Tenggara yang diketahui berusia 7.500 tahun. Kemudian ciri fisik pada patung-patung peninggalan zaman Sumeria yang memiliki tipikal wajah lebar (brachycepalis) ala oriental juga memperkuat hipotesis tersebut.

Oppenhimer juga yakin bahwa tokoh dalam kisah Gilgamesh yang dikisahkan sebagai satu-satunya tokoh yang selamat dari banjir besar adalah karakter yang sama dengan Nabi Nuh as dalam kitab Bible dan Qur’an yang tak lain adalah karakter yang berhasil menyelamatkan diri dari banjir besar yang menenggelamkan paparan Sunda. Legenda Babilonia tua mengisahkan pula kedatangan tujuh cendekiawan dari timur yang membawa keterampilan dan pengtahuan baru. Kisah yang sama terdapat pula di dalam India kuno di Hindukush. Varian legenda semacam ini pun ternyata tersebar di kepulauan Nusantara dan Pasifik.

Oppenheimer lebih lanjut mengemukakan bahwa kisah yang serupa dengan kisah penciptaan Adam dan Hawa serta pertikaian Kain dan Abel (Qabil dan Habil) ternyata dapat ditemukan di kawasan Asia Timur dan Kepulauan Pasifik. Misalnya orang Maori di Selandia Baru, menyebut perempuan pertama dengan nama ‘Eeve’. Kemudian di Papua Nugini, kisah yang serupa dengan Kain dan Abel ada dalam wujud Kullabop dan Manip. Tradisi-tradisi di kawasan ini juga mengemukakan bahwa manusia pertama di buat dari tanah lempung yang berwarna merah.

Atas dasar berbagai hipotesis tersebut pula, Oppenheimer meyakini bahwa Taman Eden yang disebut-sebut dalam Bible ada di Paparan Sunda. Berbicara tentang Hipotesis Oppenheimer ini, saya juga jadi teringat salah satu ayat dalam Kitab Genesis yang dengan jelasmenyebut bahwa Eden ada di Timur. Mungkinkah Taman Eden memang berlokasi di Indonesia? Dan Manusia Pertama pun ditempatkan Tuhan di Indonesia? Wallaahu’alam.

Selasa, 01 Desember 2009

Ebook "BENARKAH SUNDALAND ITU ATLANTIS YANG HILANG?"

Selama lebih dari 2000 tahun, Atlantis yang hilang telah menjadi dongeng. Tetapi sejak abad pertengahan, kisah Atlantis menjadi populer di dunia Barat. Banyak ilmuwan Barat secara diam-diam meyakini kemungkinan keberadaannya. Di antara para ilmuwan itu banyak yang menganggap bahwa Atlantis terletak di Samudra Atlantis, bahkan ada yang menganggap Atlantis terletak di Benua Amerika sampai Timur Tengah. Penelitian pun dilakukan di wilayahwilayah tersebut. Akan tetapi, kebanyakan peneliti itu tidak memberikan bukti atau telaah yang cukup. Sebagian besar dari mereka hanya mengira-ngira. .

Hanya beberapa tempat di bumi yang keadaannya memiliki persayaratan untuk dapat diduga sebagai Atlantis sebagaimana dilukiskan oleh Plato lebih dari 20 abad yang lalu. Akan tetapi Samudera Atlantik tidak termasuk wilayah yang memenuhi persyaratan itu. Para peneliti masa kini malahan menunjuk Sundaland (Indonesia bagian barat hingga ke semenanjung Malaysia dan Thailand) sebagai Benua Atlantis yang hilang dan merupakan awal peradaban manusia . Fenomen Atlantis dan awal peradaban selalu merupakan impian para peneliti di dunia untuk membuktikan dan menjadikannya penemuan ilmiah sepanjang masa. Apakah pandangan geologi memberi petunjuk yang kuat terhadap kemungkinan ditemukannya Atlantis yang hilang. itu? Apabila jawabannya negatif, apakah peluang yang dapat ditangkap dari perdebatan ada tidaknya Atlantis dan kemungkinan lokasinya di wilayah Indonesia?.

Mau Ebook ini? download disini!!!
Mau Ebook ini? link download alternatif disini!!!


Selasa, 17 November 2009

“Out of Sundaland” : Perdebatan Terbaru



Rekan-rekan yang suka membaca atau mempelajari buku-buku tentang migrasi manusia modern berdasarkan analisis genetika molekuler (DNA), pasti pernah membaca nama Stephen Oppenheimer. Oppenheimer adalah salah satu tokoh utama bidang ini, yang produktif menuliskan hasil-hasil risetnya. Saat ini, Oppenheimer yang semula seorang dokter anak dan pernah bertugas di Afrika, Malaysia, dan Papua New Guinea; adalah research associate di Institute of Human Sciences, Oxford University. Salah satu bukunya yang terkenal “Out of Eden : the Peopling of the World” (2004), cetakan terbarunya baru saya beli dua minggu lalu. Ini adalah sebuah buku yang komprehensif tentang sejarah penghunian semua daratan di Bumi oleh manusia modern berdasarkan analisis DNA pada semua bangsa. Oppenheimer memang pernah terlibat dalam suatu proyek raksasa untuk pemetaan genome manusia seluruh dunia. Dari situ ia mendapatkan data untuk menyusun bukunya. Melalui buku ini, kita bisa menebak dengan mudah bahwa Oppenheimer adalah seorang pembela pemikiran migrasi manusia : Out of Africa, dan menyerang Multiregional. Saya tak akan menceritakan buku tersebut, saya akan bercerita tentang bukunya yang lain, yang menyulut perdebatanl.

Tahun 1998, Oppenheimer menerbitkan buku yang menggoncang kalangan ilmuwan arkeologi dan paleoantropologi,”Eden in the East : The Drowned Continent of Southeast Asia”. Buku ini penting bagi kita sebab Oppenheimer mendasarkan tesisnya yang kontroversial itu atas geologi Sundaland. Secara singkat, buku ini mengajukan tesis bahwa Sundaland adalah Taman Firdaus (Taman Eden), suatu kawasan berbudaya tinggi, tetapi kemudian tenggelam, lalu para penghuninya mengungsi ke mana-mana : Eurasia, Madagaskar, dan Oseania dan menurunkan ras-ras yang baru. Dari buku Oppenheimer inilah pernah muncul sinyalemen bahwa Sundaland adalah the Lost Atlantis – benua berkebudayaan maju yang tenggelam.

Tesis Oppenheimer (1998) jelas menjungkirbalikkan konsep selama ini bahwa orang-orang Indonesia penghuni Sundaland berasal dari daratan utama Asia, bukan sebaliknya. Apakah Oppenheimer benar ? Penelitian dan perdebatan atas tesis Oppenheimer telah berjalan 10 tahun. Saya ingin menceritakan beberapa perdebatan terbaru. Sebelumnya, saya ingin sedikit meringkas tesis Oppenheimer (1998) itu.

Dalam “Eden in the East: the Drowned Continent of Southeast Asia”, Oppenheimer berhipotesis bahwa bangsa-bangsa Eurasia punya nenek moyang dari Sundaland. Hipotesis ini ia bangun berdasarkan penelitian atas geologi, arkeologi, genetika, linguistk, dan folklore atau mitologi. Berdasarkan geologi, Oppenheimer mencatat bahwa telah terjadi kenaikan muka laut dengan menyurutnya Zaman Es terakhir. Laut naik setinggi 500 kaki pada periode 14.000-7.000 tahun yang lalu dan telah menenggelamkan Sundaland. Arkeologi membuktikan bahwa Sundaland mempunyai kebudayaan yang tinggi sebelum banjir terjadi. Kenaikan muka laut ini telah menyebabkan manusia penghuni Sundaland menyebar ke mana-mana mencari daerah yang tinggi. Terjadilah gelombang besar migrasi ke arah Eurasia.

Oppenheimer melacak jalur migrasi ini berdasarkan genetika, linguistik, dan folklore. Sampai sekarang orang-orang Eurasia punya mitos tentang Banjir Besar itu, menurut Oppenheimer itu diturunkan dari nenek moyangnya. Hipotesis Oppenheimer (1998) yang saya sebut ”Out of Sundaland” punya implikasi yang luas. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa Taman Firdaus (Eden) itu bukan di Timur Tengah, tetapi justru di Sundaland. Adam dan Hawa bukanlah ras Mesopotamia, tetapi ras Sunda (!). Nah…implikasinya luas bukan ? Hipotesis Oppenheimer (1998) segera menyulut perdebatan baik di kalangan ahli genetika, linguistik, maupun mitologi. Saya akan meringkas beberapa perdebatan pro dan kontra yang terbaru (2007-2008). Di buku-bukunyanya yang terbaru (Out of Eden, 2004; dan Origins of the British, 2007), Oppenheimer tak menyebut sekali pun tesis Sundaland-nya itu.

Sanggahan terbaru datang dari bidang mitologi dalam sebuah Konferensi Internasional Association for Comparative Mythology yang berlangsung di Edinburgh 28-30 Agustus 2007. Dalam pertemuan itu, Wim van Binsbergen, seorang ahli mitologi dari Belanda, mengajukan sebuah makalah berjudul ”A new Paradise myth? An Assessment of Stephen Oppenheimer’s Thesis of the South East Asian Origin of West Asian Core Myths, Including Most of the Mythological Contents of Genesis 1-11”. Makalah ini mengajukan keberatan-keberatan atas tesis Oppenheimer bahwa orang-orang Sundaland sebagai nenek moyang orang-orang Asia Barat. Binsbergen (2007) menganalisis argumennya berdasarkan complementary archaeological, linguistic, genetic, ethnographic, dan comparative mythological perspectives.

Menurut Binsbergen (2007), Oppenheimer terutama mendasarkan skenario Sundaland-nya berdasarkan mitologi. Pusat mitologi Asia Barat (Taman Firdaus, Adam dan Hawa, kejatuhan manusia dalam dosa, Kain dan Habil, Banjir Besar, Menara Babel) dihipotesiskan Oppenheimer sebagai prototip mitologi Asia Tenggara/Oseania, khususnya Sundaland. Meskipun Oppenheimer telah menerima tanggapan positif dari para ahli arkeologi yang punya spesialisasi Asia Tenggara, Oppenheimer tak punya bukti kuat atau penelitian detail untuk arkeologi trans-kontinental dari Sundaland ke Eurasia.

Binsbergen (2007) menantang hipotesis Oppenheimer atas argument detailnya menggunakan comparative mythology. Beberapa keberatan atas hipotesis tersebut : (1) keberatan metodologi (bagaimana mitos di Sundaland/Oseania yang umurnya hanya abad ke-19 AD dapat menjadi nenek moyang mitos di Asia Barat yang umurnya 3000 tahun BC ?), (2) kesulitan teoretis akan terjadi membandingkan dengan yakin mitos yang umurnya terpisah ribuan tahun dan jaraknya lintas-benua, juga yang sebenarnya isi detailnya berbeda; (3) pandangan monosentrik (misal dari Sundaland) saja sudah tak sesuai dengan sejarah kebudayaan manusia yang secara anatomi modern (lebih muda daripada Paleolitikum bagian atas); (4) Oppenheimer tak memasukkan unsur katastrofi alam yang bisa mengubah jalur migrasi manusia.; (5) mitos bahwa Banjir Besar menutupi seluruh dunia harus ditafsirkan atas pandangan dunia saat itu, bukan pandangan dunia seperti sekarang.

Dalam pertemuan comparative mythology sebelumnya (Kyoto, 2005, Beijing 2006), Binsbergen mengajukan pandangan yang lebih luas dan koheren tentang sejarah panjang Old World mythology yang mengalami transmisi yang komplek dan multisentrik, tak rigid monosentrik seperti hipotesis Oppenheimer (1998). Winsbergen juga mendukung tesisnya itu berdasarkan genetika molekuler menggunakan mitochondrial DNA type B.

Itulah sanggahan terbaru atas tesis Oppenheimer (1998). Dukungan terbaru untuk hipotesis Oppenheimer (1998), baru-baru ini datang dari sekelompok peneliti arkeogenetika yang sebagian merupakan rekan sejawat Oppenheimer. Kelompok peneliti dari University of Oxford dan University of Leeds ini mengumumkan hasil peneltiannya dalam jurnal “Molecular Biology and Evolution” edisi Maret dan Mei 2008 dalam makalah berjudul “Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia” (Soares et al., 2008) dan “New DNA Evidence Overturns Population Migration Theory in Island Southeast Asia” (Richards et al., 2008).

Richards et al. (2008) berdasarkan penelitian DNA menantang teori konvensional saat ini bahwa penduduk Asia Tenggara saat ini (Filipina, Indonesia, dan Malaysia) datang dari Taiwan 4000 (Neolithikum) tahun yang lalu. Tim peneliti menunjukkan justru yang terjadi adalah sebaliknya dan lebih awal, bahwa penduduk Taiwan berasal dari penduduk Sundaland yang bermigrasi akibat Banjir Besar di Sundaland.

Pemecahan garis-garis mitochondrial DNA (yang diwarisi para perempuan) telah berevolusi cukup lama di Asia Tenggara sejak manusia modern pertama kali dating ke wilayah ini sekitar 50.000 tahun yang lalu. Ciri garis-garis DNA menunjukkan penyebaran populasi pada saat yang bersamaan dengan naiknya mukalaut di wilayah ini dan juga menunjukkan migrasi ke Taiwan, ke timur ke New Guinea dan Pasifik, dan ke barat ke daratan utama Asia Tenggara – dalam 10.000 tahun.

Sementara itu Soares et al. (2008) menunjukkan bahwa haplogroup E, suatu komponen penting dalam keanekaragaman mtDNA (DNA mitokondria), berevolusi in situ selama 35.000 tahun terakhir, dan secara dramatik tiba-tiba menyebar ke seluruh pulau-pulau Asia Tenggara pada periode sekitar awal Holosen, pada saat yang bersamaan dengan tenggelamnya Sundaland menjadi laut-laut Jawa, Malaka, dan sekitarnya. Lalu komponen ini mencapai Taiwan dan Oseania lebih baru, sekitar 8000 tahun yang lalu. Ini membuktikan bahwa global warming dan sea-level rises pada ujung Zaman Es 15.000–7.000 tahun yang lalu, sebagai penggerak utama human diversity di wilayah ini.

Oppenheimer dalam bukunya “Eden in the East” (1998) itu berhipotesis bahwa ada tiga periode banjir besar setelah Zaman Es yang memaksa para penghuni Sundaland mengungsi menggunakan kapal atau berjalan ke wilayah-wilayah yang tidak banjir. Dengan menguji mitochondrial DNA dari orang-orang Asia Tenggara dan Pasifik, kita sekarang punya bukti kuat yang mendukung Teori Banjir. Itu juga mungkin sebabnya mengapa Asia Tenggara punya mitos yang paling kaya tentang Banjir Besar dibandingkan bangsa-bangsa lain.

Nah, begitulah, cukup seru mengikuti perdebatan yang meramu geologi, genetika, biologi molekuler, linguistik, dan mitologi ini. Pihak mana yang mau didukung atau disanggah ? Sebaiknya, masuklah lebih detail ke masalahnya agar argument kita kuat, begitulah menilai perdebatan.

Oleh : Awang H. Satyana
Kupas Tuntas Hubungan Peradaban Kuno Atlantis, Legenda Lemuria dengan Indonesia