KERAJAAN KANDIS “ATLANTIS NUSANTARA”
ANTARA CERITA DAN FAKTA
(Sebuah Hipotesa Lokasi Awal Peradaban di Indonesia)
MAKALAH SEMINAR
Oleh:
PEBRI MAHMUD AL HAMIDI
MEI 2009
RINGKASAN
Nenek moyang bangsa Indonesia diduga kuat oleh
para Arkeolog adalah ras Austronesia. Ras ini mendarat di Kepulauan Nusantara,
dan memulai peradaban neolitik. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa budaya
neolitik dimulai sekitar 5000 tahun lalu di kepulauan Nusantara. Bersamaan
dengan budaya baru ini bukti antropologi menunjukkan muncul juga manusia dengan
ciri fisik Mongoloid. Populasi Mongoloid ini menyebar di kawasan Nusantara
sekitar 5000 sampai 3000 tahun lalu dengan membawa bahasa Austronesia dan
teknologi pertanian.
Di Nusantara saat ini paling tidak terdapat 50
populasi etnik Mongoloid yang mendiaminya. Budaya dan bahasa mereka tergolong
dalam satu keluarga atau filum bahasa, yaitu bahasa-bahasa Austronesia yang
menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Lalu dari manakah populasi
Austronesia ini berasal dan daerah manakah pertama kalinya mereka huni di
Nusantara ini? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab oleh riset sejarah selama
ini. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah pengkajian dan analisis
yang komprehensif tentang bukti sejarah yang ada dan menelusuri hubungan
historis suatu daerah dengan daerah lainnya. Metode yang digunakan adalah
mengumpulkan cerita/tombo yang ada di masyarakat dan penelusuran fakta yang
mendukung tombo tersebut.
Kerajaan tertua di Pulau Jawa berdasarkan bukti
arkeologis adalah kerajaan Salakanegara dibangun abad ke-2 Masehi yang terletak
di Pantai Teluk Lada, Pandeglang Banten. Diduga kuat mereka berimigrasi dari
Sumatra. Sedangkan Kerajaan tertua di Sumatra adalah kerajaan Melayu Jambi
(Chu-po), yaitu Koying (abad 2 M), Tupo (abad ke 3 M), dan Kuntala/Kantoli (abad
ke 5 M). Menurut cerita/tombo adat Lubuk Jambi yang diwarisi dari leluhur
mengatakan bahwa disinilah lubuk (asal) orang Jambi, oleh karena itu daerah ini
bernama Lubuk Jambi. Dalam tombo juga disebutkan di daerah ini terdapat sebuah
istana kerajaan Kandis yang sudah lama hilang. Istana itu dinamakan istana
Dhamna, berada di puncak bukit yang dikelilingi oleh sungai yang jernih.
Penelusuran peninggalan kerajaan ini telah dilakukan selama 7 bulan (September
2008-April 2009), dan telah menemukan lokasi, artefak, dan puing-puing
yang diduga kuat sebagai peninggalan Kandis dengan ciri-ciri lokasi mirip dengan
sketsa Plato (347 SM) tentang Atlantis. Namun penemuan ini perlu dilakukan
penelitian arkeologis lebih lanjut.
PENDAHULUAN
Nusantara merupakan sebutan untuk negara
kepulauan yang terletak di kepulauan Indonesia saat ini. Catatan bangsa Tionghoa
menamakan kepulauan ini dengan Nan-hai yang berarti Kepulauan Laut
Selatan. Catatan kuno bangsa India menamainya Dwipantara yang berarti
Kepulauan Tanah Seberang, yang diturunkan dari kata Sanskerta dwipa
(pulau) dan antara (luar, seberang) dan disebut juga dengan Swarnadwiva
(pulau emas, yaitu Sumatra sekarang). Bangsa Arab menyebut daerah ini dengan Jaza’ir
al-Jawi (Kepulauan Jawa).
Migrasi manusia
purba masuk ke wilayah Nusantara terjadi para rentang waktu antara 100.000
sampai 160.000 tahun yang lalu sebagai bagian dari migrasi manusia purba “out
of Africa“. Ras Austolomelanesia (Papua) memasuki kawasan ini ketika
masih bergabung dengan daratan Asia kemudian bergerak ke timur, sisa
tengkoraknya ditemukan di gua Braholo (Yogyakarata), gua Babi dan gua Niah
(Kalimantan). Selanjutnya kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi, perpindahan
besar-besaran masuk ke kepulauan Nusantara (imigrasi) dilakukan oleh ras
Austronesia dari Yunan dan mereka menjadi nenek moyang suku-suku di wilayah
Nusantara bagian barat. Mereka datang dalam 2 gelombang kedatangan yaitu sekitar
tahun 2.500 SM dan 1.500 SM (Wikipedia, 2009).
Bangsa nenek moyang ini telah memiliki peradaban
yang cukup baik, mereka paham cara bertani yang lebih baik, ilmu pelayaran
bahkan astronomi. Mereka juga sudah memiliki sistem tata pemerintahan sederhana
serta memiliki pemimpin (raja kecil). Kedatangan imigran dari India pada
abad-abad akhir Sebelum
Masehi memperkenalkan kepada mereka sistem tata pemerintahan yang lebih maju
(kerajaan).
Kepulauan Nusantara saat ini paling tidak ada 50
populasi etnik yang mendiaminya, dengan karakteristik budaya dan bahasa
tersendiri. Sebagian besar dari populasi ini dengan cirri fisik Mongoloid,
mempunyai bahasa yang tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa. Bahasa
mereka merupakan bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari
satu nenek moyang. Sedangkan di Indonesia bagian timur terdapat satu populasi
dengan bahasa-bahasa yang tergolong dalam berbagai bahasa Papua.
Pusat Arkeologi Nasional telah berhasil meneliti
kerangka berumur 2000-3000 tahun, yaitu penelitian DNA purba dari situs
Plawangan di Jawa Tengah dan Gilimanuk Bali. Penelitian itu menunjukkan bahwa
manusia Indonesia yang hidup di kedua situs tersebut telah berkerabat secara
genetik sejak 2000-3000 tahun lalu. Pada kenyataannya hingga sekarang populasi
manusia Bali dan Jawa masih memiliki kekerabatan genetik yang erat hingga
sekarang.
Hasil penelitian Alan Wilson tentang asal usul
manusia di Amerika Serikat (1980-an) menunjukkan bahwa manusia modern berasal
dari Afrika sekitar 150.000-200.000 tahun lampau dengan kesimpulan bahwa hanya
ada satu pohon filogenetik DNA mitokondria, yaitu Afrika. Hasil penelitian ini
melemahkan teori bahwa manusia modern berkembang di beberapa penjuru dunia
secara terpisah (multi origin). Oleh karena itu tidak ada kaitannya manusia
purba yang fosilnya ditemukan diberbagai situs di Jawa (homo erectus, homo
soloensis, mojokertensis) dan di Cina (Peking Man) dengan perkembangan manusia
modern (homo sapiens) di Asia Timur. Manusia purba ini yang hidup sejuta tahun
yang lalu merupakan missing link dalam evolusi. Saat homo sapiens mendarat di
Kepulauan Nusantara, pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan masih tergabung dengan
daratan Asia sebagai sub-benua Sundaland. Sedangkan pulau Papua saat
itu masih menjadi satu dengan benua Australia sebagai Sahulland.
Teori kedua yang bertentangan dengan teori
imigrasi Austronesia dari Yunan dan India adalah teori Harry Truman. Teori ini
mengatakan bahwa nenek moyang bangsa Austronesia berasal dari dataran Sunda-Land
yang tenggelam pada zaman es (era pleistosen). Populasi ini peradabannya sudah
maju, mereka bermigrasi hingga ke Asia daratan hingga ke Mesopotamia,
mempengaruhi penduduk lokal dan mengembangkan peradaban. Pendapat ini diperkuat
oleh Umar Anggara Jenny, mengatakan bahwa Austronesia sebagai rumpun bahasa yang
merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah manusia. Rumpun ini memiliki
sebaran yang paling luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari
Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Bahasa tersebut kini
dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang. Pendapat Umar Anggara Jenny dan Harry
Truman tentang sebaran dan pengaruh bahasa dan bangsa Austronesia ini juga
dibenarkan oleh Abdul Hadi WM (Samantho, 2009).
Teori awal peradaban manusia berada di dataran
Paparan Sunda (Sunda-Land) juga dikemukan oleh Santos (2005). Santos menerapkan
analisis filologis (ilmu kebahasaan), antropologis dan arkeologis. Hasil
analisis dari reflief bangunan dan artefak bersejarah seperti piramida di Mesir,
kuil-kuil suci peninggalan peradaban Maya dan Aztec, peninggalan peradaban
Mohenjodaro dan Harrapa, serta analisis geografis (seperti luas wilayah, iklim,
sumberdaya alam, gunung berapi, dan cara bertani) menunjukkan bahwa sistem
terasisasi sawah yang khas Indonesia ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi
Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko. Setelah
melakukan penelitian selama 30 tahun Santos menyimpulkan bahwa Sunda Land
merupakan pusat peradaban yang maju ribuan tahun silam yang dikenal dengan Benua
Atlantis.
Dari kedua teori tentang asal usul manusia yang
mendiami Nusantara ini, benua Sunda-Land merupakan benang merahnya.
Pendekatan analisis filologis, antropologis dan arkeologis dari kerajaan
Nusantara kuno serta analisis hubungan keterkaitan satu dengan lainnya
kemungkinan besar akan menyingkap kegelapan masa lalu Nusantara. Penelitian ini
bertujuan untuk menelusuri peradaban awal Nusantara yang diduga adalah kerajaan
Kandis.
TINJAUAN PUSTAKA
Nusantara dalam Lintasan Sejarah
Kepulauan Nusantara telah melintasi sejarah
berabad-abad lamanya. Sejarah Nusantara ini dapat dikelompokkan menjadi lima
fase, yaitu zaman pra sejarah, zaman Hindu/Budha, zaman Islam, zaman Kolonial,
dan zaman kemerdekaan. Kalau dirunut perjalanan sejarah tersebut zaman
kemerdekaan, kolonial, dan zaman Islam mempunyai bukti sejarah yang jelas dan
tidak perlu diperdebatkan. Zaman Hindu/Budha juga telah ditemukan bukti sejarah
walaupun tidak sejelas zaman setelahnya. Zaman sebelum Hindu/Budha masih dalam
teka-teki besar, maka dalam menjawab ketidakjelasan ini dapat dilakukan dengan
analisa keterkaitan antar kerajaan. Urutan tahun berdiri kerajaan di Indonesia
dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1. Kerajaan di Indonesia berdasarkan tahun berdirinya
| No |
Nama Kerajaan |
Lokasi Situs |
PerkiraanTahun Berdiri |
| 1. |
Kerajaan Kandis* |
Lubuk Jambi, Riau |
Sebelum Masehi |
| 2. |
Kerajaan Melayu Jambi |
Jambi |
Abad ke-2 M |
| 3. |
Kerajaan Salakanegara |
Pandeglang, Banten |
150 M |
| 4. |
Kepaksian Skala Brak Kuno |
Gunung Pesagi, Lampung |
Abad ke-3 M |
| 5. |
Kerajaan Kutai |
Muara Kaman, Kaltim |
Abad ke-4 M |
| 6. |
Kerajaan Tarumanegara |
Banten |
Abad ke-4 M |
| 7. |
Kerajaan Koto Alang |
Lubuk Jambi, Riau |
Abad ke-4 M |
| 8. |
Kerajaan Barus |
Barus, Sumatra Utara |
Abad ke-6 M |
| 9. |
Kerajaan Kalingga |
Jepara, Jawa Tengah |
Abad ke-6 M |
| 10. |
Kerajaan Kanjuruhan |
Malang, Jawa Timur |
Abad ke-6 M |
| 11. |
Kerajaan Sunda |
Banten-Jawa Barat |
669 M |
| 12. |
Kerajaan Sriwijaya |
Palembang, Sumsel |
Abad ke-7 M |
| 13. |
Kerajaan Sabak |
Muara Btg. Hari, Jambi |
730 M |
| 14. |
Kerajaan Sunda Galuh |
Banten-Jawa Barat |
735 M |
| 15. |
Kerajaan Tulang Bawang |
Lampung |
771 M |
| 16. |
Kerajaan Medang |
Jawa Tengah |
820 M |
| 17. |
Kerajaan Perlak |
Peureulak, Aceh Timur |
840 M |
| 18. |
Kerajaan Bedahulu |
Bali |
882 M |
| 19. |
Kerajaan Pajajaran |
Bogor, Jawa Barat |
923 M |
| 20. |
Kerajaan Kahuripan |
Jawa Timur |
1009 M |
| 21. |
Kerajaan Janggala |
Sidoarjo, Jawa Timur |
1042 M |
| 22. |
Kerajaan Kadiri/Panjalu |
Kediri, Jawa Timur |
1042 M |
| 23. |
Kerajaan Tidung |
Tarakan, Kalimantan Timur |
1076 M |
| 24. |
Kerajaan Singasari |
Jawa Timur |
1222 M |
| 25. |
Kesultanan Ternate |
Ternate, Maluku |
1257 M |
| 26. |
Kesultanan Samudra Pasai |
Aceh Utara |
1267 M |
| 27. |
Kerajaan Aru/Haru |
Pantai Timur, Sumatra Utara |
1282 M |
| 28. |
Kerajaan Majapahit |
Jawa Timur |
1293 M |
| 29. |
Kerajaan Indragiri |
Indragiri, Riau |
1298 M |
| 30. |
Kerajaan Panjalu Ciamis |
Gunung Sawal, Jawa Barat |
Abad ke-13 M |
| 31. |
Kesultanan Kutai |
Kutai, Kalimantan Timur |
Abad ke-13 M |
| 32. |
Kerajaan Dharmasraya |
Jambi |
1341 M |
| 33. |
Kerajaan Pagaruyung |
Batu Sangkar, Sumbar |
1347 M |
| 34. |
Kesultanan Aceh |
Banda Aceh |
1360 M |
| 35. |
Kesultanan Pajang |
Jawa Tengah |
1365 M |
| 36. |
Kesultanan Bone |
Bone, Sulawesi Selatan |
1392 M |
| 37. |
Kesultanan Buton |
Buton |
Abad ke-13 M |
| 38. |
Kesultanan Malaka |
Malaka |
1402 M |
| 39. |
Kerajaan Tanjung Pura |
Kalimantan Barat |
1425 M |
| 40. |
Kesultanan Berau |
Berau |
1432 M |
| 41. |
Kerajaan Wajo |
Wajo, Sulawesi Selatan |
1450 M |
| 42. |
Kerajaan Tanah Hitu |
Ambon, Maluku |
1470 M |
| 43. |
Kesultanan Demak |
Demak, Jawa Tengah |
1478 M |
| 44. |
Kerajaan Inderapura |
Pesisir Selatan, Sumbar |
1500-an M |
| 45. |
Kesultanan Pasir/Sadurangas |
Pasir, Kalimantan Selatan |
1516 M |
| 46. |
Kerajaan Blambangan |
Banyuwangi, Jawa Timur |
1520-an M |
| 47. |
Kesultanan Tidore |
Tidore, Maluku Utara |
1521 M |
| 48. |
Kerajaan Sumedang Larang |
Jawa Barat |
1521 M |
| 49. |
Kesultanan Bacan |
Bacan, Maluku |
1521 M |
| 50. |
Kesultanan Banten |
Banten |
1524 M |
| 51. |
Kesultanan Banjar |
Kalimantan Selatan |
1526 M |
| 52. |
Kesultanan Cirebon |
Jawa Barat |
1527 M |
| 53. |
Kesultan Sambas |
Sambas, Kalimantan Barat |
1590-an M |
| 54. |
Kesultanan Asahan |
Asahan |
1630 M |
| 55. |
Kesultanan Bima |
Bima |
1640 M |
| 56. |
Kerajaan Adonara |
Adonara, Jawa Barat |
1650 M |
| 57. |
Kesultanan Gowa |
Goa, Makasar |
1666 M |
| 58. |
Kesultanan Deli |
Deli, Sumatra Utara |
1669 M |
| 59. |
Kesultanan Palembang |
Palembang |
1675 M |
| 60. |
Kerajaan Kota Waringin |
Kalimantan Tengah |
1679 M |
| 61. |
Kesultanan Serdang |
Serdang, Sumatra Utara |
1723 M |
| 62. |
Kesultanan Siak Sri Indrapura |
Siak, Riau |
1723 M |
| 63. |
Kasunanan Surakarta |
Solo, Jawa Tengah |
1745 M |
| 64. |
Kesltn. Ngayogyakarto Hadiningrat |
Yogyakarta |
1755 M |
| 65. |
Praja Mangkunegaran |
Jawa Tengah-Yogyakarta |
1757 M |
| 66. |
Kesultanan Pontianak |
Kalimantan Barat |
1771 M |
| 67. |
Kerajaan Pagatan |
Tanah Bumbu, Kalsel |
1775 M |
| 68. |
Kesultanan Pelalawan |
Pelalawan, Riau |
1811 M |
| 69. |
Kadipaten Pakualaman |
Yogyakarta |
1813 M |
| 70. |
Kesultanan Sambaliung |
Gunung Tabur |
1810 M |
| 71. |
Kesultanan Gunung Tabur |
Gunung Tabur |
1820 M |
| 72. |
Kesultanan Riau Lingga |
Lingga, Riau |
1824 M |
| 73. |
Kesultanan Trumon |
Sumatra Utara |
1831 M |
| 74. |
Kerajaan Amanatum |
NTT |
1832 M |
| 75. |
Kesultanan Langkat |
Sumatra Utara |
1877 M |
| 76. |
Republik Indonesia |
Kepulauan Nusantara |
17-8-1945 |
| Sumber: http://www.wikipedia.com
(dengan olahan), *Tahun berdiri berdasarkan tombo adat |
Dalam catatan sejarah terdapat informasi yang
terputus antara zaman pra sejarah dengan zaman Hindu/Budha. Namun dari Tabel 1
diatas dapat diperoleh gambaran bahwa peradaban Nusantara kuno bermula di
Sumatra bagian tengah dan ujung barat pulau Jawa. Dari abad ke-1 sampai abad
ke-4 daerah yang dihuni meliputi Jambi (kerajaan Melayu Tua), Lampung (Kepaksian
Skala Brak Kuno), dan Banten (kerajaan Salakanegara). Untuk mengetahui peradaban
awal Nusantara kemungkinan besar dapat diketahui melalui analisa keterkaitan
tiga kerajaan tersebut.
Kerajaan Melayu Tua di Jambi
Di daerah Jambi terdapat tiga kerajaan Melayu tua
yaitu, Koying, Tupo, dan Kantoli. Kerajaan Koying terdapat dalam catatan Cina
yang dibuat oleh K’ang-tai dan Wan-chen dari wangsa Wu (222-208) tentang
adanya negeri Koying. Tentang negeri ini juga dimuat dalam ensiklopedi
T’ung-tien yang ditulis oleh Tu-yu (375-812) dan disalin oleh Ma-tu-an-lin
dalam ensiklopedi Wen-hsien-t’ung-k’ao. Diterangkan bahwa di kerajaan Koying
terdapat gunung api dan kedudukannya 5.000 li di timur Chu-po (Jambi). Di utara
Koying ada gunung api dan di sebelah selatannya ada sebuah teluk bernama Wen.
Dalam teluk itu ada pulau bernama P’u-lei atau Pulau. Penduduk yang mendiami
pulau itu semuanya telanjang bulat, lelaki maupun perempuan, dengan kulit
berwarna hitam kelam, giginya putih-putih dan matanya merah. Melihat warna
kulitnya kemungkinan besar penduduk P’u-lei itu bukan termasuk rumpun
Proto-Negrito atau Melayu Tua yang sebelumnya menghuni daratan Sumatera
(Wikipedia, 2009).
Menurut data Cina Koying telah melakukan
perdagangan dalam abad ke 3 M juga di Pasemah wilayah Sumatra Selatan dan Ranau
wilayah Lampung telah ditemukan petunjuk adanya aktivitas perdagangan yang
dilakukan oleh Tonkin atau Tongkin dan Vietnam atau Fu-nan dalam abad itu juga.
Malahan keramik hasil zaman dinasti Han (abad ke 2 SM sampai abad ke 2 M) di
temukan di wilayah Sumatera tertentu.
Adanya kemungkinan penyebaran berbagai negeri di
Sumatera Tengah hingga Palembang di Selatan dan Sungai Tungkal di utara
digambarkan oleh Obdeyn (1942), namun dalam gambar itu kedudukan negeri Koying
tidak ada. Jika benar Koying berada di sebelah timur Tupo atau Thu-po, Tchu-po,
Chu-po dan kedudukannya di muara pertemuan dua sungai, maka ada dua tempat yang
demikian yakni Muara Sabak Zabaq, Djaba, Djawa, Jawa dan Muara Tembesi atau
Fo-ts’I, San-fo-tsi’, Che-li-fo-che sebelum seroang sampai di Jambi
Tchan-pie, Sanfin, Melayur, Moloyu, Malalyu. Dengan demikian seolah-olah
perpindahan Kerajaan Malayu Kuno pra-Sriwijaya bergeser dari arah barat ke timur
mengikuti pendangkalan Teluk Wen yang disebabkan oleh sedimen terbawa oleh
sungai terutama Batang Tembesi. Hubungan dagang secara langsung terjadi dalam
perdagangan dengan negeri-negeri di luar di sekitar Teluk Wen dan Selat Malaka
maka besar kemungkinan negeri Koying berada di sekitar Alam Kerinci.
Keberadaan Koying yang pernah dikenal di manca
negara sampai abad ke 5 M sudah tidak kedengaran lagi. Diperkirakan setelah
Koying melepaskan kekuasaanya atas kerajaan Kuntala, kejayaan pemerintahan
Koying secara perlahan-lahan menghilang. Koying yang selama ini tersohor sebagai
salah satu negara nusantara pemasok komoditi perdagangan manca negara sudah
tidak disebut-sebut lagi. Keadaan seperti ini sebenarnya tidak dialami Koying
saja, karena kerajaan lain pun yang pernah jaya semasa itu banyak pula yang
mengalami nasib yang sama.
Namun yang jelas, di wilayah Alam Kerinci sebelum
atau sekitar permulaan abad masehi telah terdapat sebuah pemerintahan berdaulat
yang diakui keberadaanya oleh negeri Cina yang disebut dengan negeri Koying atau
kerajaan Koying.
Kerajaan Kepaksian Sekala Brak
Sekala Brak adalah sebuah kerajaandi kaki Gunung
Pesagi (gunung tertinggi di Lampung) yang menjadi cikal-bakal suku bangsa/etnis
Lampung saat ini. Asal usul bangsa Lampung adalah dari Sekala Brak yaitu sebuah
Kerajaan yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau yang
secara administratif kini berada di Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala
Brak inilah bangsa Lampung menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran
Way atau sungai-sungai yaitu Way Komring, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih,
Way Sekampung dan Way Tulang Bawang beserta anak sungainya, sehingga meliputi
dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten.
Dalam catatan Kitab Tiongkok kuno yang disalin
oleh Groenevelt kedalam bahasa Inggris bahwa antara tahun 454 dan 464 Masehi
disebutkan kisah sebuah Kerajaan Kendali yang terletak di antara pulau Jawa dan
Kamboja. Hal ini membuktikan bahwa pada abad ke 3 telah berdiri Kerajaan Sekala
Brak Kuno yang belum diketahui secara pasti kapan mulai berdirinya. Kerajaan
Sekala Brak menjalin kerjasama perdagangan antar pulau dengan Kerajaan Kerajaan
lain di Nusantara dan bahkan dengan India dan Negeri Cina.
Kerajaan Salakanegara
Kerajaan Salakanagara (Salaka=Perak) atau
Rajatapura termasuk kerajaan Hindu. Ceritanya atau sumbernya tercantum pada
Naskah Wangsakerta. Kerajaan ini dibangun tahun 130 Masehi yang terletak di
pantai Teluk Lada (wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten). Raja pertamanya yaitu
Dewawarman yang memiliki gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gapura
Sagara yang memerintah sampai tahun 168 M.
Dalam Babad suku Sunda, Kota Perak ini sebelumnya
diperintah oleh tokoh Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya atau Aki Tirem, waktu itu
kota ini namanya Pulasari. Aki Tirem menikahkan putrinya yang bernama Pohaci
Larasati dengan Dewawarman. Dewawarman ini sebenarnya Pangeran yang asalnya dari
negri Palawa di India Selatan. Daerah kekuasaan kerajaan ini meliputi semua
pesisir selat Sunda yaitu pesisir Pandeglang, Banten ke arah timur sampai
Agrabintapura (Gunung Padang, Cianjur), juga sampai selat Sunda hingga Krakatau
atau Apuynusa (Nusa api) dan sampai pesisir selatan Swarnabumi (pulau Sumatra).
Ada juga dugaan bahwa kota Argyre yang ditemukannya Claudius Ptolemalus tahun
150 M itu kota Perak atau Salaknagara ini. Dalam berita Cina dari dinasti Han,
ada catatan dari raja Tiao-Pien (Tiao=Dewa, Pien=Warman) dari kerajaan Yehtiao
atau Jawa, mengirim utusan/duta ke Cina tahun 132 M.
Mitologi Minangkabau
Orang Minangkabau mengakui bahwa mereka merupakan
keturunan Raja Iskandar Zulqarnaen (Alexandre the Great) Raja Macedonia yang
hidup 354-323 SM. Dia seorang raja yang sangat besar dalam sejarah dunia.
Sejarahnya merupakan sejarah yang penuh dengan penaklukan daerah timur dan barat
yang tiada taranya. Dia berkeinginan untuk menggabungkan kebudayaan barat dengan
kebudayaan timur.
Dalam Tambo disebutkan bahwa Iskandar Zulkarnain
mempunyai tiga anak, yaitu Maharajo Alif, Maharajo Dipang, dan Maharajo Dirajo.
Maharajo Alif menjadi raja di Benua Ruhun (Romawi), Maharajo Dipang menjadi raja
di negeri Cina, sedangkan Maharajo Dirajo menjadi raja di Pulau Emas (Sumatera).
Kalau kita melihat kalimat-kalimat tambo sendiri,
maka dikatakan sebagai berikut: “…Tatkala maso dahulu, batigo rajo naiek
nobat, nan surang Maharajo Alif, nan pai ka banda Ruhum, nan surang Maharajo
Dipang nan pai ka Nagari Cino, nan surang Maharajo Dirajo manapek ka pulau ameh
nan ko…” (pada masa dahulu kala, ada tiga orang yang naik tahta kerajaan,
seorang bernama Maharaja Alif yang pergi ke negeri Ruhum (Eropa), yang seorang
Maharajo Dipang yang pergi ke negeri Cina, dan seorang lagi bernama Maharajo
Dirajo yang menepat ke pulau Sumatera).
Dalam versi lain diceritakan, seorang penguasa di
negeri Ruhum (Rum) mempunyai seorang putri yang sangat cantik. Iskandar
Zulkarnain menikah dengan putri tersebut. Dengan putri itu Iskandar mendapat
tiga orang putra, yaitu Maharaja Alif, Maharaja Depang, dan Maharaja Diraja.
Setelah ketiganya dewasa Iskandar berwasiat kepada ketiga putranya sambil
menunjuk-nunjuk seakan-akan memberitahukan ke arah itulah mereka nanti harus
berangkat melanjutkan kekuasaannya. Kepada Maharaja Alif ditunjuk kearah Ruhum,
Maharaja Depang negeri Cina, Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Nusantara).
Setelah Raja Iskandar wafat, ketiga putranya
berangkat menuju daerah yang ditunjukkan oleh ayahnya. Maharaja Diraja membawa
mahkota yang bernama “mahkota senggahana”, Maharaja Depang membawa senjata
bernama “jurpa tujuh menggang”, Maharaja Alif membawa senjata bernama
“keris sempana ganjah iris” dan lela yang tiga pucuk. Sepucuk jatuh ke bumi
dan sepucuk kembali ke asalnya jadi mustika dan geliga dan sebuah pedang yang
bernama sabilullah.
Berlayarlah bahtera yang membawa ketiga orang
putra itu ke arah timur, menuju pulau Langkapuri. Setibanya di dekat pulau
Sailan ketiga saudara itu berpisah, Maharaja Depang terus ke Negeri Cina,
Maharaja Alif kembali ke negeri Ruhum, dan Maharaja Diraja melanjutkan pelayaran
ke tenggara menuju sebuah pulau yang bernama Jawa Alkibri atau disebut juga
dengan Pulau Emas (Andalas atau Sumatra sekarang). Setelah lama berlayar
kelihatanlah puncak gunung merapi sebesar telur itik, maka ditujukan bahtera
kesana dan berlabuh didekat puncak gunung itu. Seiring menyusutnya air laut
mereka berkembang di sana.
Dari keterangan Tambo itu tidak ada dikatakan
angka tahunnya hanya dengan istilah “Masa dahulu kala” itulah yang
memberikan petunjuk kepada kita bahwa kejadian itu sudah berlangsung sangat lama
sekali, sedangkan waktu yang mencakup zaman dahulu kala itu sangat banyak sekali
dan tidak ada kepastiannya. Kita hanya akan bertanya-tanya atau menduga-duga
dengan tidak akan mendapat jawaban yang pasti. Di kerajaan Romawi atau Cina
memang ada sejarah raja-raja yang besar, tetapi raja mana yang dimaksudkan oleh
Tambo tidak kita ketahui. Dalam hal ini rupanya Tambo Alam Minangkabau tidak
mementingkan angka tahun selain dari mementingkan kebesaran kemasyuran nama-nama
rajanya.
Mitologi Lubuk Jambi[2]
Pulau Perca adalah salah satu sebutan dari nama
Pulau Sumatera sekarang. Pulau ini telah berganti-ganti nama sesuai dengan
perkembangan zaman. Diperkirakan pulau ini dahulunya merupakan satu benua yang
terhampar luas di bagian selatan belahan bumi. Karena perubahan pergerakan kulit
bumi, maka ada benua-benua yang tenggelam ke dasar lautan dan timbul pulau-pulau
yang berserakan. Pulau Perca ini timbul terputus-putus berjejer dari utara ke
selatan yang dibatasi oleh laut. Pada waktu itu Pulau Sumatera bagaikan
guntingan kain sehingga pulau ini diberi nama Pulau Perca. Pulau Sumatera telah
melintasi sejarah berabad-abad lamanya dengan beberapa kali pergantian nama
yaitu: Pulau Perca, Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Andalas dan terakhir Pulau
Sumatra.
Pulau Perca terletak berdampingan dengan
Semenanjung Malaka yang dibatasi oleh Selat Malaka dibagian Timur dan Samudra
Hindia sebelah barat sebagai pembatas dengan Benua Afrika. Pulau Perca
berdekatan dengan Semenanjung Malaka, maka daerah yang dihuni manusia pertama
kalinya berada di Pantai Timur Pulau Perca karena lebih mudah dijangkau dari
pada Pantai bagian barat. Pulau Perca yang timbul merupakan Bukit Barisan yang
berjejer dari utara ke selatan, dan yang paling dekat dengan Semenanjung Malaka
adalah Bukit Barisan yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi sekarang,
tepatnya adalah Bukit Bakau yang bertalian dengan Bukit Betabuh dan Bukit
Selasih (sekarang berada dalam wilayah Kenagorian Koto Lubuk Jambi Gajah
Tunggal, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau),
sedangkan daratan yang rendah masih berada di bawah permukaan laut.
Nenek moyang Lubuk Jambi diyakini berasal dari
keturunan waliyullah Raja Iskandar Zulkarnain. Tiga orang putra Iskandar
Zulkarnain yang bernama Maharaja Alif, Maharaja Depang dan Maharaja Diraja
berpencar mencari daerah baru. Maharaja Alif ke Banda Ruhum, Maharaja Depang ke
Bandar Cina dan Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Sumatra). Ketika berlabuh di
Pulau Emas, Maharaja Diraja dan rombongannya mendirikan sebuah kerajaan yang
dinamakan dengan Kerajaan Kandis yang berlokasi di Bukit Bakar/Bukit Bakau.
Daerah ini merupakan daerah yang hijau dan subur yang dikelilingi oleh sungai
yang jernih.
Maharaja Diraja sesampainya di Bukit Bakau
membangun sebuah istana yang megah yang dinamakan dengan Istana Dhamna. Putra
Maharaja Diraja bernama Darmaswara dengan gelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra
Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih
akrab dipanggil). Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris
berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial
gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri
yang cantik jelita yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan
Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu.
Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo tunggal menjadi raja di kerajaan
Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang
kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.
Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari
hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dan dari
hasil bumi seperti emas dan perak. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas,
sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit
Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat
berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih
dinamakan dengan tambang titah.
Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan
ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai
ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan
kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan
Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan
Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan
menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan
perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana
Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.
Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan
bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan
Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang
merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat
lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil
Putih di Bukit Selasih tersebut.
Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan
makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung
(Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran
penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut,
sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai
(Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi
dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).
Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka
mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan
antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu
kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis.
Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning
pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi.
Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi
menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama
Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam
peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Merapi (Sumatra Barat)
di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih
menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt.
Ketemenggungan.
Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar kerajaan
Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina belakang, dengan
ekspedisinya dikenal dengan ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja
Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kandis, Raja Sintong
beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka
kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar, kecemasan akan serangan musuh, maka
mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak
itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke
Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini dikelompkkan menjadi dua, yaitu
penelitian pendahuluan dan penelitian lanjutan. Penelitian pendahuluan terdiri
dari mengumpulkan cerita/tombo/mitologi di daerah Lubuk Jambi dengan melakukan
wawancara dengan pemangku adat setempat. Kemudian melakukan analisis topografi
untuk mencari titik lokasi yang diduga kuat sebagai lokasi kerajaan. Tahap
berikutnya adalah melakukan ekspedisi/pencarian lokasi. Penelitian lanjutan
adalah penelitian arkeologis untuk membuktikan kebenaran cerita/tombo. Data yang
didapatkan di lokasi dianalisis dan dicari keterkaitannya dengan bukti sejarah
dan cerita di daerah sekitarnya (Jambi dan Minangkabau). Penelitian pendahuluan
mulai dilaksanakan pada bulan September 2008 sampai April 2009, sementara
penelitian lanjutan belum dilaksanakan karena keterbatasan sumberdaya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Lokasi Kerajaan Kandis
Analisis topografi yang dilakukan pada peta
satelit yang diambil dari google earth, ditemukan lokasi yang dicirikan di dalam
tombo/cerita (bukit yang dikelilingi oleh sungai). Daerah tersebut berada pada
titik 0042’58 LS dan 101020’14 BT (Gambar 1) atau
berada hampir di titik tengah pulau Sumatra (perbatasan Sumatra Barat dan Riau).
Lokasinya berada di tengah hutan adat Lubuk Jambi, oleh pemerintah dijadikan
sebagai kawasan hutan lindung yang dinamakan dengan hutan lindung Bukit Betabuh.
Jarak lokasi dari jalan lintas tengah Sumatra lebih kurang 10 km ke arah barat,
dengan topografi perbukitan.

Gambar 1 Hipotesa Lokasi Istana Dhamna
Pencarian lokasi/ekspedisi dilakukan dengan
peralatan navigasi darat sederhana, yaitu menggunakan peta, kompas, dan teropong
binokuler. Pada lokasi yang dituju, ditemukan hal-hal yang mencirikan bukit
tersebut sebagai peninggalan peradaban manusia. Lebih kurang 2 km sebelum Bukit
Bakar ditemukan batu karst/karang laut yang berjejer, batu ini diduga sebagai
pagar lingkar luar kerajaan (Gambar 2)

Gambar 2 Batu Karst yang diduga sebagai pagar lingkar luar
kerajaan
Pada bukit yang dikelilingi oleh sungai yang
sangat jernih, pada bagian puncaknya ditemukan batu karst yang memenuhi puncak
bukit (Gambar 3). Batu karst itu pada lereng bagian timur dan utara tersingkap,
sedangkan lereng selatan dan barat tertimbun. Lereng tenggara ditemukan seperti
tiang batu yang diduga bekas menara istana (Gambar 4).

Gambar 3 Batu Karst yang memenuhi puncak bukit
Gambar 4 Tiang batu yang diduga bekas menara istana
Pada lereng timur bukit sebelah atas kira-kira 1200 m dari sungai ditemukan
mulut goa yang diduga pintu istana, akan tetapi pintu ini pada bagian dalam
sudah tertutup oleh reruntuhan batu. Pintu goa ini tingginya 5 meter dengan
ruangan di dalamnya sejauh 3 meter, dan dalam goa tersebut terlihat seperti ada
ruangan besar di dalamnya namun sudah tertutup (Gambar 5).
Gambar 5 Mulut goa yang diduga pintu masuk istana
Pada lereng bukit bagian selatan sampai ke barat
ditemukan teras sebanyak tiga tingkat, diduga bekas cincin air (Gambar 6),
sementara lereng utara sampai timur sangat curam dan terlihat seperti terjadi
erosi yang parah. Teras ini lebarnya rata-rata 4 m, jarak antara sungai dengan
teras pertama kira-kira 200 m, teras pertama dengan teras kedua kira-kira 400 m,
teras kedua dengan teras ketiga kira-kira 500 m dan panjang lereng diperkirakan
1500 m. Berdasarkan analisa di peta bukit ini dari timur ke barat
berdiameter 3000 m, dan dari utara ke selatan berdiameter 3000 m, beda elevasi
antara sungai dengan puncak bukit 245 m. Pada lereng barat daya, kira-kira pada
ketinggian lereng 800 m ditemukan mata air yang mengalir deras. Ukuran ini
berdasarkan perkiraan di lapangan dan pengukuran di peta satelit. Untuk
mendapatkan ukuran sebenarnya perlu pengukuran dilapangan.
Gambar 6 Teras yang diduga bekas cincin air
Gambar 7 Sketsa Lokasi situs kerajaan Kandis
Melihat ciri-ciri atau karakter lokasi, lokasi ini
sangat mirip dengan sketsa kerajaan Atlantis yang ditulis dalam mitologi Yunani
“Timeus dan Critias” karya Plato (360 SM). Mitologi ini menyebutkan “Poseidon
mengukir gunung tempat kekasihnya tinggal menjadi istana dan menutupnya dengan
tiga parit bundar yang lebarnya meningkat, bervariasi dari satu sampai tiga
stadia dan terpisah oleh cincin tanah yang besarnya sebanding”. Bangsa
Atlantis lalu membangun jembatan ke arah utara dari pegunungan, membuat rute
menuju sisa pulau. Mereka menggali kanal besar ke laut, dan di samping jembatan,
dibuat gua menuju cincin batu sehingga kapal dapat lewat dan masuk ke kota di
sekitar pegunungan; mereka membuat dermaga dari tembok batu parit. Setiap jalan
masuk ke kota dijaga oleh gerbang dan menara, dan tembok mengelilingi setiap
cincin kota. Tembok didirikan dari bebatuan merah, putih dan hitam yang berasal
dari parit, dan dilapisi oleh kuningan, timah dan orichalcum (perunggu atau
kuningan). Ada kemiripan mitologi ini dengan mitologi yang ada di Lubuk
Jambi.
Gambar 8 Perspektif Istana Dhamna menggunakan Sketsa
Kerajaan Atlantis
Ini hanya sebuah dugaan yang belum dibuktikan
secara ilmiah, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Survei
arkeologi yang dilakukan ke lokasi belum bisa menyimpulkan lokasi ini sebagai
peninggalan kerajaan karena belum cukup barang bukti untuk menyimpulkan seperti
itu. Namun sudah dapat dipastikan bahwa daerah tersebut pernah dihuni atau
disinggahi manusia dulunya.
Analisa Mitologi Minangkabau vs Mitologi Lubuk Jambi
Terlepas dari benar tidaknya sebuah mitologi,
kesamaan cerita dalam mitos tersebut akan mengantarkan pada suatu titik terang.
Tambo Minangkabau begitu indah didengar ketika pesta nikah kawin dalam bentuk
pepatah adat menunjukkan kegemilangan masa lalu. Tambo Minangkabau dan Tombo
Lubuk Jambi, dua cerita yang bertolak belakang. Minangkabau mengatakan bahwa
nenek moyangnya adalah Sultan Maharaja Diraja putra Iskandar Zulkarnain yang
berlabuh di puncak gunung merapi. Air laut semakin surut keturunan Maharaja
Diraja berkembang di sana hingga menyebar kebeberapa daerah di Sumatra. Lain
halnya dengan tambo Lubuk Jambi, tambo itu mengatakan bahwa nenek moyangnya
adalah Maharaja Diraja putra Iskandar Zulkarnain, berlabuh di Bukit Bakar dan
membangun peradaban di sana. Dari Lubuk Jambi keturunan-keturunannya menyebar ke
Minangkabau dan Jambi. Namun tambo tidak menyebutkan tahun. Itulah sebabnya
daerah ini dinamakan Lubuk Jambi yang berarti asalnya (lubuk) orang-orang Jambi.
Menurut ceritanya, Kandis sejak kalah perang dalam ekspedisi Sintong dan
penyembunyian peradaban mereka ceritanya disampaikan secara rahasia dari
generasi ke generasi oleh Penghulu Adat atau dikenal dalam istilahnya ”Rahasio
Penghulu”. Namun kebenaran cerita rahasia ini perlu dibuktikan.
Dari kedua tambo tersebut di atas, dapat ditarik
benang merah yaitu ”sama-sama menyebutkan bahwa nenek moyang mereka adalah
Iskandar Zulkarnain”. Tapi dalam catatan sejarah yang diketahui Iskandar
Zulkarnain (Alexander the Great/ Alexander Agung) tidak mempunyai keturunan.
Plato-Atlantis-Iskandar Zulkarnain-Kandis
Plato, filosof kelahiran Yunani (Greek
philosopher) yang hidup 427-347 Sebelum Masehi (SM). Plato adalah
salah seorang murid Socrates, filosof arif bijaksana, yang kemudian mati diracun
oleh penguasa Athena yang zalim pada tahun 399 SM. Plato sering bertualang,
termasuk perjalanannya ke Mesir. Pada tahun 387 SM dia mendirikan Academy di
Athena, sebuah sekolah ilmu pengetahuan dan filsafat, yang kemudian menjadi
model buat universitas moderen. Murid yang terkenal dari Academy tersebut adalah
Aristoteles yang ajarannya punya pengaruh yang hebat terhadap filsafat sampai
saat ini.
Dengan adanya Academy, banyak karya Plato yang
terselamatkan. Kebanyakan karya tulisnya berbentuk surat-surat dan
dialog-dialog, yang paling terkenal mungkin adalah Republic. Karya tulisnya
mencakup subjek yang terentang dari ilmu pengetahuan sampai kepada kebahagiaan,
dari politik hingga ilmu alam. Dua dari dialognya “Timeus dan Critias”
memuat satu-satunya referensi orisinil tentang pulau Atlantis.
Bagaimana hubungannya dengan Iskandar Zulkarnain,
Iskandar adalah anak dari Raja Makedonia, Fillipus II. Ketika berumur 13 tahun,
Raja Filipus mempekerjakan filsuf Yunani terkenal, Aristoteles, untuk menjadi
guru pribadi bagi Iskandar. Dalam tiga tahun, Aristoteles mengajarkan berbagai
hal serta mendorong Iskandar untuk mencintai ilmu pengetahuan, kedokteran, dan
filosofi.
Iskandar Zulkarnain murid dari Aristoteles, dan Aristoteles murid dari Plato.
Dari hubungan ini dapat diduga bahwa keturunan Iskandar Zulkarnain yang sampai
ke Lubuk Jambi terinspirasi untuk membangun sebuah peradaban/Negara yang ideal
seperti Atlantis. Maka mereka membangun sebuah istana dhamna “sebuah replika
Atlantis”. Namun semua ini masih perlu pengkajian yang lebih mendalam.
KESIMPULAN
Dari penelitian pendahuluan ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
- Bukit yang terletak pada 0042’58 LS dan 101020’14
BT diduga sebagai situs peninggalan Kandis yang dimaksudkan didalam
tombo/cerita adat.
- Kerajaan Kandis diduga sebagai peradaban awal di nusantara.
- Kerajaan Kandis merupakan replika dari kerajaan Atlantis yang hilang.
Kesimpulan ini masih bersifat dugaan atau hipotesa untuk melakukan penelitian
selanjutnya. Oleh karena itu penelitian arkeologis akan menjawab kebenaran
dugaan dan kebenaran tombo/mitos yang ada ditengah-tengah masyarakat.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemangku
Adat Kenogorian Lubuk Jambi Gajah Tunggal (Mahmud Sulaiman Dt. Tomo, Syamsinar
Dt. Rajo Suaro, Danial Dt. Mangkuto Maharajo Dirajo, Sualis Dt. Paduko Tuan, dan
Hardimansyah Dt. Gonto Sembilan), Drs. Sukarman, Mistazul Hanim, Nurdin Yakub
Dt. Tambaro, Abdul Aziz Dt. Dano, Bastian Dt. Paduko Sinaro, Ramli Dt. Meloan,
Marjalis Dt. Rajo Bandaro, dan Syaiful Dt. Paduko. Penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada Meutia Hestina, Apriwan Bandaro, dan teman-teman yang
membantu penulis dalam ekspedisi: Mudarman, bang Sosmedi, Yogie, Nepriadi,
Zeswandi, bang Izul, Diris, Ikos, dan Yusran. Mas Sam dan Erli terima kasih atas
informasinya.
DAFTAR PUSTAKA
Datoek Toeah. 1976. Tambo Alam Minangkabau. Pustaka Indonesia. Bukit Tinggi.
Graves, E. E. 2007. Asal-usul Elite Minangkabau Modern. Yayasan Obor
Indonesia. Jakarta.
Hall, D. G. E. tanpa tahun. Sejarah Asia Tenggara. Usaha Nasional. Surabaya.
Kristy, R (Ed). 2007. Alexander the Great. Gramedia. Jakarta.
Kristy, R (Ed). 2006. Plato Pemikir Etika dan Metafisika. Gramedia. Jakarta.
Marsden, W. 2008. Sejarah Sumatra. Komunitas Bambu. Depok.
Olthof, W.L. 2008. Babad Tanah Jawi. Penerbit Narasi. Yogyakarta.
Samantho, A. Y. 2009. Misteri Negara Atlantis mulai tersingkap?. Majalah
Madina Jakarta. Terbit Mei 2009.
Suwardi MS. 2008. Dari Melayu ke Indonesia. Penerbit Pustaka Pelajar
Yogyakarta.
Wikipedia. Ensiklopedi Bebas. http://wikipedia.org.
[1]Koordinator
Tim Penelusuran Peninggalan Kerajaan Kandis di Lubuk Jambi Negeri Gajah Tunggal,
Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau
[2]
Dikumpulkan dari cerita yang diwarisi secara turun temurun oleh Penghulu Adat
Lubuk Jambi