[Peneliti] : Kemana Arah RI Sebagai Pewaris Peradaban Atlantis ?

“Setelah mempelajari masalah itu untuk waktu yang sangat lama, kami mampu menentukan lokasi dan mengidentifikasi pilar Timur tersebut berada di Indonesia. Tepatnya di antara Selat Sunda yang memisahkan Jawa dan Sumatra,” tulis Santos dalam bukunya.
Pandangan Santos dalam buku itu, menunjukkan bahwa Indonesia adalah pewaris utama peradaban besar dan dasar bagi peradaban besar dunia lainnya.
Sesungguhnya, buku ini melanjutkan tesis Plato dalam buku Timaeus dan Critia, seorang filsuf Yunani, yang menyebut bahwa Atlantis adalah induk segala peradaban. Lewat tesis ini, Santos kemudian menemukan bahwa jauh di bawah perairan Samudra Indo-Pasifik, terdapat sisa-sisa pegunungan sangat besar dari benua yang hilang.
Dari sisa-sisa itu ditemukan bahwa Indonesia adalah tempat di mana “pulau rempah-rempah” (Moluccas atau Maluku) yang menakjubkan berada. Pulau di kawasan itu membuat para petualang dan penjelajah mengalami ‘demam emas’ karena membayangkan keuntungan luar biasa yang bisa mereka dapatkan di sana.
Temuan Santos juga lebih mencengangkan. Menurutnya, riset antropologi menyebutkan bahwa, diketahui bahwa orang Hindu sebenarnya berasal dari Indonesia. Mereka pindah ke India ketika rumah asli mereka tenggelam karena bencana ledakan gunung berapi.
Bahkan, ungkap Santos dalam bukunya itu, dapat dipastikan bahwa penggunaan simbolisme salib untuk tujuan religius berasal dari masa yang jauh sebelum kedatangan agama Kristen.
Fakta-fakta bahwa Indonesia adalah warisan peradaban Atlantis makin jelas karena Garis Waktu Internasional (GWI) yang sempurna ini di tempatkan di Indonesia (Lanka) menjadikan tempat ini sebagai lokasi sesungguhnya dari Ibu kota kekaisaran Atlantis yang mendunia.
Terlebih jika melihat warisan zaman ‘sisa’ seperti temuan manusia purba Homo Wajakensis, Candi Borobudur dan Prambanan, serta kerajaan Majapahit dan Sriwijaya.
Mau kembali menjadi peradaban besar? Orang bijak berkata, “waktu adalah sungai, buku adalah perahu dan kata-kata adalah senjata.” Dalam realitas, hampir semua peradaban besar berepistema sama: penghormatan pada waktu-buku-kata. Barangkali, dan ini sayangnya, bangsa Indonesia belum serius menyadarinya.
Banyak orang terbenam oleh kebutuhan sehari-hari, hedonisme dan konsumerisme. Semua disibukkan oleh hal-hal kecil dan melupakan hal-hal besar. “Kita disibukkan oleh ‘sinetron politik’ berjudul Century, kerbau, bangsat dan cicak-buaya sebagai opera sabun para elit korup tanpa malu. Kembali bekerja dan tinggalkan keluh kesah.,” kata M Yudhie Haryono, Direktur Nusantara Centre, Sabtu.
Padahal, katanya, Indonesia mewarisi peradaban Atlantis yang mengagumkan. Lantas, bagaimana dan hendak kemana dengan ke-Indonesiaan sekarang? Berpikir, belajar, berkarya dan bekerja, merupakan sebagian jawaban yang dibutuhkan bukan?
Sumber : inilah.com
Posted on
Minggu, 07 Februari 2010
by
jose,
under
atlantis,
atlantis nusantara,
indonesia.
0
komentar.
Link ke posting ini
MUNGKIN NUSANTARALAH ATLANTIS YANG HILANG ITU
“Telah 9000 tahun berlalu sejak perang yang berlangsung antara mereka yang tinggal di luar Pilar-Pilar
Heracles dan mereka yang tinggal di dalamnya. Di satu sisi, kota Athena dilaporkan menjadi
pemimpin perlawanan; sementara pihak satunya dipimpin oleh raja-raja Atlantis, suatu pulau yang
bahkan lebih luas dibanding Libya dan Asia, yang kemudian tenggelam karena gempa bumi, dan
menjadi tembok lumpur yang menghalangi seluruh pelayaran melalui samudera itu.”(Critias-360SM)
Konon hanya dua catatan yang menceritakan tentang Atlantis, yaitu Dialog Timeaus dan Critias, keduanya dicatat oleh Plato sekitar 360SM. Dialog ini adalah percakapan antara Socrates (guru Plato), Hermocrates, Timeaus dan Critias. Socrates menjelaskan tentang masyarakat ideal versinya, sementara Timeaus dan Critias bercerita tentang kisah yang bukan fiksi. Kisah ini merupakan kisah konflik antara bangsa Athena dan Atlantis 9000 tahun sebelum masa Plato. Kisah yang sudah terlupakan tetapi muncul kembali dibawa oleh Solon (600 tahun SM), seorang Sage dari Hellena yang mendapatkan secara lisan dari pendeta Mesir di Sais.
Solon menyampaikan kisah ini kepada Dropides, kakek buyut Critias. Dropides menyampaikannya kepada putranya, (yang juga bernama) Critias, dan diteruskan kepada Critias, sang cucu. Selama lebih dari 2000 tahun, Atlantis menjadi dogeng dan banyak ilmuwan yang tidak berani secara terang-terangan mengakui adanya Atlantis. Tetapi sejak abad pertengahan, kisah Atlantis menjadi populer di dunia Barat. Banyak yang menganggap Atlantis (jika ada) terletak di Samudra Atlantis, bahkan ada yang menganggap Atlantis terletak di Amerika sampai Timur Tengah. Para penduduknya dianggap sebagai Dewa, makhluk luar angkasa, atau bangsa yang superior.
Tetapi kebanyakan peneliti tidak memberikan bukti atau telahaan yang cukup. Sebagian besar hanyalah mengira-ngira. Salah satu peneliti yang mengklaim telah menemukan Atlantis adalah Robert Sarmast, seorang arsitek Amerika keturunan Persia. Ia menyebutkan bahwa Atlantis dan Taman Firdaus adalah 17 Torchbearers’s Newsletter sama. Fakta menyebutkan bahwa benua Atlantis tenggelam secara perlahan-lahan karena serangkaian bencana, termasuk gempa bumi. Hanya beberapa tempat di bumi yang mempunyai kecenderungan seperti itu dan Samudra Atlantis tidak termasuk. Sarmast menunjukkan bahwa Laut Mediterania adalah lokasi Atlantis, tepatnya sebelah tenggara Cyprus dan terkubur sedalam 1500 meter di dalam air.
Penelitian menunjukkan bahwa permukaan air di daerah Mediterania 5000 tahun lalu jauh lebih rendah dibanding masa sekarang. Hal ini dibantah oleh Prof. Arysio Santos dari Brasil. Santos mengatakan jika Atlantis dan Taman Firdaus adalah sama, maka seharusnya deskripsi ini harus sejalan dengan seluruh tradisi keagamaan dan kepercayaan, seperti Budhisme, Hinduisme, Islam, Kristen, kepercayaan Indian Amerika, dll, yang menceritakan tentang Taman Firdaus, sebagai tempat asal mula manusia. Santos menuduh bahwa penemuan Sarmast terlalu terburu-buru dan hanya menguntungkan pihakpihak tertentu.
Dengan ‘penemuan’ Sarmast, kunjungan wisatawan ke Cyprus melonjak tajam. Para penyandang dana penelitian Sarmast, seperti editor, produser film, agen media dll mendapat keuntungan besar. Jika Sarmast benar, mereka juga akan terkenal dan jika tidak, mereka telah mengantungi uang yang sangat besar. Sementara itu, Dr. Pavlos Flourentzos, seorang arkeolog Cyprus sendiri menolak penemuan Sarmast, karena Plato secara tegas mengatakan bahwa Atlantis berada di luar Laut Mediterania.
Pernyataan ini didukung oleh Dr. Michel Morisseau, seorang ahli geologis Perancis yang tinggal di pulau Cyprus. Dia mengatakan,”Aku sangat terkejut mendengar berita (penemuan) itu karena tidak berhubungan sama sekali dengan fakta geologis dan kita harus berhati-hati jika dalam mengumumkan hal tersebut.” Bahkan Morisseau menantang Sarmast untuk debat terbuka. Hanya sehari setelah pengumumannya tanggal 14 Nopember 2004, Sarmast telah mendulang bantahan karena ‘memilih’ lokasi Atlantis di Mediterania yang merupakan salah satu daerah paling sering dikunjungi oleh peneliti, oceanographer dan ahli volkanologis.
Santos menggunakan pendekatan yang berbeda dalam mengungkap lokasi Atlantis. Mitos dan tradisi dari banyak bangsa bersumber dari Banjir Besar dan hancurnya Taman Firdaus, sesuai dengan kisah Atlantis. Tidak dapat disangkal bahwa Atlantis adalah Taman Firdaus itu. Jejak-jejak cerita Atlantis, menurutnya, dapat ditemukan di banyak sumber, tidak hanya pada dialog Temaeus dan Critias. Misalnya: Alexander yang Agung, pernah melewati sepasang pilar emas Hercules dan Dionysus (alias Atlas) dengan Hieroglyph yang sama ketika memasuki daerah Timur (Indus). Atlas adalah saudara kembar Hercules. Dengan kata lain, ada sepasang pilar Hercules dan Atlas di Gibraltar yang merupakan batas daerah Barat, dan sepasang di ujung Indus sebagai batas Timur. * Alam Critias disebutkan bahwa pada pilar emas tertulis hukum, aturan dan keputusan raja yang ditulis dengan upacara pengorbanan banteng kepada Poseidon.
Upacara ini adalah khas Indus yang disebut sebagai Gomedha sebagai peringatan atas hilangnya surga (Gomeda-dvipa). Contoh lain tradisi pilar adalah Pilar Delhi yang didirikan oleh Raja Ashoka untuk memperingati kemenangannya. Terbuat dari satu baja utuh tahan karat yang masih bertahan hingga saat ini tanpa mengalami oksidasi sedikit pun. Suatu teknologi 2500 tahun lalu yang bisa jadi diwarisi dari Atlantis. * Menurut Plato tembok Atlantis terbungkus emas, perak, perunggu, timah dan tembaga. Pada masa itu hingga saat ini, hanya beberapa tempat di dunia yang merupakan produsen timah utama.
Salah satunya disebut sebagai Kepulauan Timah dan logam, Tashish, Tartessos dan nama lain, tidak lain adalah Indonesia. Jika Plato benar, maka Atlantis sesungguhnya adalah Indonesia. * 9000 tahun sebelum 600 SM, adalah masa 18 Torchbearers’s Newsletter kehancuran Atlantis. Jaman es terakhir yang menyebabkan banjir besar terjadi tepat 9600 SM (11.600 tahun lalu). Bagaimana Solon dapat menunjukkan waktu dengan tepat? * Bangsa Maya mempunyai mitos asal mula mereka. Berasal dari pulau atau benua yang disebut sebagai Aztlan, leluhur mereka terpaksa mengungsi karena bencana gunung berapi yang menenggelamkan tanah mereka. Mereka melewati kepulauan di Samudra Pasifik dan perjalanan ini ditulis dalam Codex Boturini.
Jika Aztlan adalah Atlantis, maka benua itu terletak di Timur Jauh, seputar Indonesia. Menurut Noel, ahli mitologi dari Perancis, mengatakan bahwa Taman Firdaus Hinduisme disebut Svarna Dvipa (pulau Emas) dalam Sansekerta. Svarna Dvipa sekarang disebut Sumatera, dianggap Taman Firdaus dan merupakan episentrum bumi dan disebut Pusar Bumi (Mangkubumi). Di luar pembuktian di atas, masih banyak bukti lain yang dikemukakan oleh Santos dengan memperhatikan geologis, arkeologis, dan tradisi oral maupun lisan yang menunjukkan bahwa Atlantis kemungkinan besar terletak di regional Lembah Indus yang membentang dari Asia Kecil (India) hingga Indonesia dengan pusat peradaban justru di Indonesia. Plato mengungkapkan tiga tempat dengan nama Atlantis, di mana satu adalah pulau kecil sebagai ibukotanya.
Dia juga menyebut ‘Yunani Kuna’ sebagai musuh dan penakluk Atlantis yang ia maksud sebagai bangsa Arya dan Aryanavarta (Negara Para Arya), Atlantis yang tenggelam. Sisa-sisa Atlantis sekarang membentuk kepulauan Indonesia dengan sekian banyak gunung berapi yang berada di atas permukaan laut ketika bencana datang. Daerah ini kemudian disebut oleh bangsa Yunani sebagai Wilayah Kematian yang tidak bisa dilayari. Sebagian besar benua Atlantis tenggelam di bawah Laut Cina Selatan.
Wilayah Atlantis yang kedua adalah sebagian daerah India di mana sisa-sisanya masih bisa dilihat dari peninggalan di Lembah Indus dan Gangga dengan warisan peradaban Harappa dan Mohenjo-Daro. Dapat disimpulkan setelah manusia berpindah dari daerah padang rumput dan gurun di Afrika, mereka menemukan iklim ideal untuk bertani dan mengembangkan peradaban. Semua terjadi pada jaman Pleistocene (1.8 juta lalu) yang berakhir 11.600 tahun lalu. Pleistocene adalah zaman es dengan permukaan air laut 100-150 m di bawah saat ini. Ketika es mencair, sebagian besar wilayah Indonesia dan sekitarnya hingga di bawah Laut Cina Selatan terendam air dan menenggelamkan hampir 20 juta penduduknya. Atlantis yang tenggelam ini disebut Atlantis Lemuria dan menjadi Wilayah Kematian. Penduduk Atlantis sendiri terbagi dua, yaitu Arya dan Dravida. Sebutan Tanah Leluhur (Serendip) sebenarnya adalah bahasa Dravida dari Taprobane (Sumatra), yang disebut sebagai Taman Firdaus.
Tempat dengan sekian banyak nama: Sheol (neraka) oleh Yahudi untuk kawasan yang rusak; Hades oleh Yunani, Amenti atau Punt oleh Mesir, Dilmun oleh Mesopotamia, Svarga oleh Hindu, Avalon oleh Celts dan lain lain. Apa yang diceritakan dalam kisah Injil tentang bencana besar sejalan dengan yang dikisahkan Plato dan didukung oleh bukti geologis dan arkeologis. Setiap kali kita berusaha untuk menemukan sumber dari catatan tersebut, kita selalu berakhir pada India dan Indonesia sebagai dua Atlantis. Indonesia, pada masa itu disebut sebagai Ultima Thule (Batas Akhir), perbatasan yang tidak boleh dilewati oleh kapal. Di sini terletak sepasang Pilar Hercules dan Atlas, seperti si kembar Gemini, Castor dan Pollux yang diambil dari tradisi Hindu, Kembar Ashvin. Sama seperti kembar Seth dan Osiris di Mesir.
Hercules berasal dari
Baal Melkart, dewa bangsa Phoenicia, yang berasal dari
Bala-Rama (Rama yang Perkasa). Sementara Atlas
(Atlantis) adalah Krishna.
Kembar ini merepresentasikan dua ras manusia:
berambut pirang (Aryo-Semites) dan berambut
kemerahan (Dravida) yang ditakdirkan untuk bersaing
memperebutkan dunia ini. Keduanya berasal dari Taman
Firdaus (Lemuria). Dari Lemuria lahirlah lima ras manusia:
merah, putih, kuning, hitam dan coklat.
Perang perebutan ini digambarkan seperti Deva
melawan Asura dalam Hindu, atau Putra Terang melawan
Putra Kegelapan dan juga disebut dalam Kitab Wahyu di
Injil. Armageddon (bahasa Yahudi) sesungguhnya berarti
Tempat Berkumpul, sama seperti Shambhalla dalam
bahasa Sansekerta.
Artinya, tempat di mana dua pasukan
bertemu untuk menyelesaikan perbedaan melalui perang
dan menutup jaman Kali Yuga.
Edgar Cayce, yang dijuluki Sleeping Prophet,
menyebut dua bangsa ini sebagai Putra Hukum Tunggal
dan Putra Belial yang sesungguhnya berasal dari satu
sumber tetapi kemudian memilih dua jalan berbeda dalam
menangani permasalahan mereka. Putra Belial
menggunakan kemampuan mereka untuk menaklukkan
dunia sementara Putra Hukum Tunggal bertujuan untuk
melestarikan apa yang ada.
Setelah ribuan tahun berlalu, tidak peduli warna kulit
atau kebangsaan kita, manusia tetap belum bisa belajar
dari pengalaman. Perang yang terus menerus, pola pikir
yang eksploitatif dan rasa superioritas terhadap kelompok
lain masih mewarnai jalan hidup dan kesadaran kita.
Posted on
Selasa, 05 Januari 2010
by
jose,
under
atlantis,
benua yang hilang,
indonesia,
nusantara,
nusantara kuno.
2
komentar.
Link ke posting ini
Peneliti AS menyatakan Atlantis is Indonesia
Benua Kuno Atlantis Ada di Indonesia?

JAKARTA -- Para peneliti AS menyatakan bahwa Atlantis is
Indonesia. Hingga kini cerita tentang benua yang hilang 'Atlantis' masih
terselimuti kabut misteri. Sebagian orang menganggap Atlantis cuma dongeng
belaka, meski tak kurang 5.000 buku soal Atlantis telah ditulis oleh para pakar.
Bagi para arkeolog atau oceanografer moderen, Atlantis tetap merupakan obyek
menarik terutama soal teka-teki dimana sebetulnya lokasi sang benua. Banyak
ilmuwan menyebut benua Atlantis terletak di Samudera Atlantik.
Sebagian arkeolog Amerika Serikat (AS) bahkan meyakini benua Atlantis dulunya
adalah sebuah pulau besar bernama Sunda Land (Paparan Sunda), suatu wilayah yang
kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua
itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.
''Para peneliti AS ini menyatakan bahwa Atlantis is Indonesia,'' kata Ketua
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Umar Anggara Jenny, Jumat
(17/6), di sela-sela rencana gelaran 'International Symposium on The Dispersal
of Austronesian and the Ethnogeneses of the People in Indonesia Archipelago,
28-30 Juni 2005.
Kata Umar, dalam dua dekade terakhir memang diperoleh banyak temuan penting soal
penyebaran dan asal usul manusia. Salah satu temuan penting ini adalah hipotesa
adanya sebuah pulau besar sekali di Laut Cina Selatan yang tenggelam setelah
zaman es.
Hipotesa itu, kata Umar, berdasarkan pada kajian ilmiah seiring makin
mutakhirnya pengetahuan tentang arkeologimolekuler. Tema ini, lanjutnya, bahkan
akan menjadi salah satu hal yang diangkat dalam simposium internasional di Solo,
28-30 Juni.
Menurut Umar, salah satu pulau penting yang tersisa dari benua Atlantis -- jika
memang benar -- adalah Pulau Natuna, Riau. Berdasarkan kajian biomolekuler,
penduduk asli Natuna diketahui memiliki gen yang mirip dengan bangsa Austronesia
tertua.
Bangsa Austronesia diyakini memiliki tingkat kebudayaan tinggi, seperti bayangan
tentang bangsa Atlantis yang disebut-sebut dalam mitos Plato. Ketika zaman es
berakhir, yang ditandai tenggelamnya 'benua Atlantis', bangsa Austronesia
menyebar ke berbagai penjuru.
Mereka lalu menciptakan keragaman budaya dan bahasa pada masyarakat lokal yang
disinggahinya dalam tempo cepat yakni pada 3.500 sampai 5.000 tahun lampau. Kini
rumpun Austronesia menempati separuh muka bumi.
Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Harry Truman Simanjuntak, mengakui
memang ada pendapat dari sebagian pakar yang menyatakan bahwa benua Atlantis
terletak di Indonesia. Namun hal itu masih debatable.
Yang jelas, terang Harry, memang benar ada sebuah daratan besar yang dahulu kala
bernama Sunda Land. Luas daratan itu kira-kira dua kali negara India. ''Benar,
daratan itu hilang. Dan kini tinggal Sumatra, Jawa atau Kalimantan,'' terang
Harry. Menurut dia, sah-sah saja para ilmuwan mengatakan bahwa wilayah yang
tenggelam itu adalah benua Atlantis yang hilang, meski itu masih menjadi
perdebatan.
Dominasi Austronesia Menurut Umar Anggara Jenny, Austronesia sebagai rumpun
bahasa merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah manusia. Rumpun ini
memiliki sebaran yang paling luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang
tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Bahasa tersebut
kini dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang.
''Pertanyaannya dari mana asal-usul mereka? Mengapa sebarannya begitu meluas dan
cepat yakni dalam 3500-5000 tahun yang lalu. Bagaimana cara adaptasinya sehingga
memiliki keragaman budaya yang tinggi,'' tutur Umar.
Salah satu teori, menurut Harry Truman, mengatakan penutur bahasa Austronesia
berasal dari Sunda Land yang tenggelam di akhir zaman es. Populasi yang sudah
maju, proto-Austronesia, menyebar hingga ke Asia daratan hingga ke Mesopotamia,
mempengaruhi penduduk lokal dan mengembangkan peradaban. Tapi ini masih
diperdebatan.
(imy )
Posted on
by
jose,
under
atlantis,
austronesia,
benua yang hilang,
indonesia,
paparan sunda,
sunda land,
zaman es.
0
komentar.
Link ke posting ini
Perdebatan terbaru: Atlantis Yang Hilang Itu Adalah Indonesia?
Rekan-rekan yang suka membaca atau mempelajari buku-buku tentang migrasi
manusia modern berdasarkan analisis genetika molekuler (DNA), pasti pernah
membaca nama Stephen Oppenheimer.

Oppenheimer adalah salah satu tokoh utama bidang ini, yang produktif menuliskan hasil-hasil risetnya. Saat ini, Oppenheimer yang semula seorang dokter anak dan pernah bertugas di Afrika, Malaysia, dan Papua New Guinea; adalah research associate di Institute of Human Sciences, Oxford University.

Salah satu bukunya yang terkenal “Out of Eden : the Peopling of the World” (2004). Ini adalah sebuah buku yang komprehensif tentang sejarah penghunian semua daratan di Bumi oleh manusia modern berdasarkan analisis DNA pada semua bangsa.
Oppenheimer memang pernah terlibat dalam suatu proyek raksasa untuk pemetaan genome manusia seluruh dunia. Dari situ ia mendapatkan data untuk menyusun bukunya. Melalui buku ini, kita bisa menebak dengan mudah bahwa Oppenheimer adalah seorang pembela pemikiran migrasi manusia : Out of Africa, dan menyerang Multiregional.
Namun kita tidak akan membahas buku tersebut, kita akan membahas tentang bukunya yang lain, yang menyulut perdebatan.
Tahun 1998, Oppenheimer menerbitkan buku yang menggoncang kalangan ilmuwan arkeologi dan paleoantropologi,”Eden in the East : The Drowned Continent of Southeast Asia”.
Buku ini penting bagi kita sebab Oppenheimer mendasarkan tesisnya yang kontroversial itu atas geologi Sundaland. Secara singkat, buku ini mengajukan tesis bahwa Sundaland adalah Taman Firdaus (Taman Eden), suatu kawasan berbudaya tinggi, tetapi kemudian tenggelam, lalu para penghuninya mengungsi ke mana-mana : Eurasia, Madagaskar, dan Oseania dan menurunkan ras-ras yang baru. Dari buku Oppenheimer inilah pernah muncul sinyalemen bahwa Sundaland adalah the Lost Atlantis – benua berkebudayaan maju yang tenggelam.
Tesis Oppenheimer (1998) jelas menjungkirbalikkan konsep selama ini bahwa orang-orang Indonesia penghuni Sundaland berasal dari daratan utama Asia, bukan sebaliknya. Apakah Oppenheimer benar? Penelitian dan perdebatan atas tesis Oppenheimer telah berjalan 10 tahun. Disini kita akan membahas beberapa perdebatan terbaru. Sebelumnya, sedikit tentang ringkasan tesis Oppenheimer (1998) itu.
Dalam “Eden in the East: the Drowned Continent of Southeast Asia”, Oppenheimer berhipotesis bahwa bangsa-bangsa Eurasia punya nenek moyang dari Sundaland. Hipotesis ini ia bangun berdasarkan penelitian atas geologi, arkeologi, genetika, linguistk, dan folklore atau mitologi.
Berdasarkan geologi, Oppenheimer mencatat bahwa telah terjadi kenaikan muka laut dengan menyurutnya Zaman Es terakhir. Laut naik setinggi 500 kaki pada periode 14.000-7.000 tahun yang lalu dan telah menenggelamkan Sundaland.
Arkeologi membuktikan bahwa Sundaland mempunyai kebudayaan yang tinggi sebelum banjir terjadi. Kenaikan muka laut ini telah menyebabkan manusia penghuni Sundaland menyebar ke mana-mana mencari daerah yang tinggi. Terjadilah gelombang besar migrasi ke arah Eurasia.
Oppenheimer melacak jalur migrasi ini berdasarkan genetika, linguistik, dan folklore. Sampai sekarang orang-orang Eurasia punya mitos tentang Banjir Besar itu, menurut Oppenheimer itu diturunkan dari nenek moyangnya. Hipotesis Oppenheimer (1998) yang kita sebut ”Out of Sundaland” punya implikasi yang luas.
Bahkan ada yang menyebutkan bahwa Taman Firdaus (Eden) itu bukan di Timur Tengah, tetapi justru di Sundaland. Adam dan Hawa bukanlah ras Mesopotamia, tetapi ras Sunda!. Nah…implikasinya luas bukan?
Hipotesis Oppenheimer (1998) segera menyulut perdebatan baik di kalangan ahli genetika, linguistik, maupun mitologi. Kita akan meringkas beberapa perdebatan pro dan kontra yang terbaru (2007-2008). Di buku-bukunyanya yang terbaru (Out of Eden, 2004; dan Origins of the British, 2007), Oppenheimer tak menyebut sekali pun tesis Sundaland-nya itu.
Sanggahan terbaru datang dari bidang mitologi dalam sebuah Konferensi Internasional Association for Comparative Mythology yang berlangsung di Edinburgh 28-30 Agustus 2007.

Wim van Binsbergen
Dalam pertemuan itu, Wim van Binsbergen, seorang ahli mitologi dari Belanda, mengajukan sebuah makalah berjudul :
”A new Paradise myth? An Assessment of Stephen Oppenheimer’s Thesis of the South East Asian Origin of West Asian Core Myths, Including Most of the Mythological Contents of Genesis 1-11”.
Makalah ini mengajukan keberatan-keberatan atas tesis Oppenheimer bahwa orang-orang Sundaland sebagai nenek moyang orang-orang Asia Barat. Binsbergen (2007) menganalisis argumennya berdasarkan complementary archaeological, linguistic, genetic, ethnographic, dan comparative mythological perspectives.
Menurut Binsbergen (2007), Oppenheimer terutama mendasarkan skenario Sundaland-nya berdasarkan mitologi. Pusat mitologi Asia Barat (Taman Firdaus, Adam dan Hawa, kejatuhan manusia dalam dosa, Kain dan Habil, Banjir Besar, Menara Babel) dihipotesiskan Oppenheimer sebagai prototip mitologi Asia Tenggara/Oseania, khususnya Sundaland.
Meskipun Oppenheimer telah menerima tanggapan positif dari para ahli arkeologi yang punya spesialisasi Asia Tenggara, Oppenheimer tak punya bukti kuat atau penelitian detail untuk arkeologi trans-kontinental dari Sundaland ke Eurasia.
Binsbergen (2007) menantang hipotesis Oppenheimer atas argument detailnya menggunakan comparative mythology. Berikut adalah beberapa keberatan atas hipotesis tersebut :
(1) Keberatan metodologi (bagaimana mitos di Sundaland/Oseania yang umurnya hanya abad ke-19 AD dapat menjadi nenek moyang mitos di Asia Barat yang umurnya 3000 tahun BC?)
(2) Kesulitan teoretis akan terjadi membandingkan dengan yakin mitos yang umurnya terpisah ribuan tahun dan jaraknya lintas-benua, juga yang sebenarnya isi detailnya berbeda
(3) Pandangan monosentrik (misal dari Sundaland) saja sudah tak sesuai dengan sejarah kebudayaan manusia yang secara anatomi modern (lebih muda daripada Paleolitikum bagian atas)
(4) Oppenheimer tak memasukkan unsur katastrofi alam yang bisa mengubah jalur migrasi manusia
(5) Mitos bahwa Banjir Besar menutupi seluruh dunia harus ditafsirkan atas pandangan dunia saat itu, bukan pandangan dunia seperti sekarang.
Dalam pertemuan comparative mythology sebelumnya (Kyoto, 2005, Beijing 2006), Binsbergen mengajukan pandangan yang lebih luas dan koheren tentang sejarah panjang Old World mythology yang mengalami transmisi yang komplek dan multisentrik, tak rigid monosentrik seperti hipotesis Oppenheimer (1998). Winsbergen juga mendukung tesisnya itu berdasarkan genetika molekuler menggunakan mitochondrial DNA type B.
Itulah sanggahan terbaru atas tesis Oppenheimer (1998). Dukungan terbaru untuk hipotesis Oppenheimer (1998), baru-baru ini datang dari sekelompok peneliti arkeogenetika yang sebagian merupakan rekan sejawat Oppenheimer.
Kelompok peneliti dari University of Oxford dan University of Leeds ini mengumumkan hasil peneltiannya dalam jurnal “Molecular Biology and Evolution” edisi Maret dan Mei 2008 dalam makalah berjudul:
“Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia”
(Soares et al., 2008)
dan
“New DNA Evidence Overturns Population Migration Theory in Island Southeast Asia” (Richards et al., 2008).
Richards et al. (2008) berdasarkan penelitian DNA menantang teori konvensional saat ini bahwa penduduk Asia Tenggara saat ini (Filipina, Indonesia, dan Malaysia) datang dari Taiwan 4000 (Neolithikum) tahun yang lalu. Tim peneliti menunjukkan justru yang terjadi adalah sebaliknya dan lebih awal, bahwa penduduk Taiwan berasal dari penduduk Sundaland yang bermigrasi akibat Banjir Besar di Sundaland.
Pemecahan garis-garis mitochondrial DNA (yang diwarisi para perempuan) telah berevolusi cukup lama di Asia Tenggara sejak manusia modern pertama kali datang ke wilayah ini sekitar 50.000 tahun yang lalu.
Ciri garis-garis DNA menunjukkan penyebaran populasi pada saat yang bersamaan dengan naiknya muka laut di wilayah ini dan juga menunjukkan migrasi ke Taiwan, ke timur ke New Guinea dan Pasifik, dan ke barat ke daratan utama Asia Tenggara – dalam 10.000 tahun.
Sementara itu Soares et al. (2008) menunjukkan bahwa haplogroup E, suatu komponen penting dalam keanekaragaman mtDNA (DNA mitokondria), berevolusi selama 35.000 tahun terakhir, dan secara dramatik tiba-tiba menyebar ke seluruh pulau-pulau Asia Tenggara pada periode sekitar awal Holosen, pada saat yang bersamaan dengan tenggelamnya Sundaland menjadi laut-laut Jawa, Malaka, dan sekitarnya.

Lalu komponen ini mencapai Taiwan dan Oseania lebih baru, sekitar 8000 tahun yang lalu. Ini membuktikan bahwa global warming dan sea-level rises pada ujung Zaman Es 15.000–7.000 tahun yang lalu, sebagai penggerak utama human diversity di wilayah ini.
Oppenheimer dalam bukunya “Eden in the East” (1998) itu berhipotesis bahwa ada tiga periode banjir besar setelah Zaman Es yang memaksa para penghuni Sundaland mengungsi menggunakan kapal atau berjalan ke wilayah-wilayah yang tidak banjir.
Dengan menguji mitochondrial DNA dari orang-orang Asia Tenggara dan Pasifik, kita sekarang punya bukti kuat yang mendukung Teori Banjir. Itu juga mungkin sebabnya mengapa Asia Tenggara punya mitos yang paling kaya tentang Banjir Besar dibandingkan bangsa-bangsa lain.
Nah, begitulah, cukup seru mengikuti perdebatan yang meramu geologi, genetika, biologi molekuler, linguistik, dan mitologi ini. Pihak mana yang mau didukung atau disanggah ? Sebaiknya, masuklah lebih detail ke masalahnya agar argument kita kuat, begitulah menilai perdebatan.
Posted on
by
jose,
under
atlantis,
atlantis nusantara,
indonesia,
paparan sunda,
sunda land,
sundaland.
4
komentar.
Link ke posting ini
Asia Tenggara, Tanah Asal Peradaban Kuno Dunia?

Ulasan Buku : Eden In The East
Oleh: Daud Tanudirja, M.A,. Dr.
Artikel di Jurnal Humaniora Volume XV, No. 2/2003
Abstrak:
Hampir semua tulisan tentang sejarah peradaban menempatkan Asia Tenggara sebagai kawasan 'pinggiran'. Kawasan yang kebudayaannya dapat subur berkembang hanya karena imbas migrasi manusia atau riak-riak difusi budaya dari pusat-pusat peradaban lain, entah yang berpusat di Mesir, Cina, maupun India. Namun, Stephen Oppenheimer berpendapat lain. Dokter ahli genetik yang belajar banyak tentang sejarah peradaban ini malah melihat kawasan Asia Tenggara sebagai tempat cikal bakal peradaban kuno berasal. Munculnya peradaban di Mesopotamia, Lembah Sungai Indus, dan Cina justru dipicu oleh kedatangan para migran dari Asia Tenggara. Oppenheimer tidak bergurau. Sebaliknya, tesisnya sarat didukung oleh data yang diramu dari hasil kajian arkeologi, etnografi, linguistik, geologi, maupun genetika.
Rekonstruksi Oppenheimer diawali dari saat berakhirnya puncak Jaman Es (Last Glacial Maximum) sekitar 20.000 tahun yang lalu. Ketika itu, muka air laut masih sekitar 150 m di bawah muka air laut sekarang. Kepulauan Indonesia bagian barat masih bergabung dengan benua Asia menjadi dataran luas yang dikenal sebagai Paparan Sunda. Namun, ketika bumi memanas, timbunan es yang ada di kutub meleleh dan mengakibatkan banjir besar yang melanda dataran rendah di berbagai penjuru dunia. Data geologi dan oseanografi mencatat setidaknya ada tiga banjir besar yang terjadi pada sekitar 14.000, 11.000, dan 8,000 tahun lalu. Banjir besar yang terakhir bahkan menaikkan muka air laut hingga 5-10 meter lebih tinggi dari yang sekarang. Yang paling parah dilanda banjir adalah Paparan Sunda dan pantai Cina Selatan. Paparan Sunda malah menjadi pulau-pulau yang terpisah, antara lain Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumatera. Padahal, waktu itu kawasan ini sudah cukup padat dihuni manusia prasejarah yang berpenghidupan sebagai petani dan nelayan. Bagi Oppenheimer, kisah 'Banjir Nuh' atau 'Benua Atlantis yang hilang' tidak lain adalah rekaman budaya yang mengabadikan fenomena alam dahsyat ini. Di kawasan Asia Tenggara, kisah atau legenda seperti ini juga masih tersebar luas di antara masyarakat tradisional.
Kata Kunci:
sejarah peradaban, sintesis, karya arkeologi
tag : asia tenggara, atlantis, sunda land, paparan sunda, austronesia, polynesia, benua yang hilang, indonesia
Posted on
by
jose,
under
asia,
asia tenggara,
nusantara,
nusantara kuno.
4
komentar.
Link ke posting ini
Menguak Sejarah Alternatif Nusantara
"Ingin membangkitkan kejayaan masa atlantis yang diyakini bukan di wilayah dekat Eropa, melainkan di NUSANTARA."
BUBARKAN INDONESIA
BEBASKAN NUSANTARA
BENTUK NEGARA KELIMA!!!
... akhirnya ... dengan berbagai penafsiaran, mereka dapat menemukan titik kapan dan di mana akan mendeklarasikan negara kelima
Aku menemukan buku ini pada deretan buku laris di gramedia plasa semanggi. pada awalnya, aku menganggap novel ini hanya akan bercerita tentang sebuah realitas pembunuhan serta delik dan pola pengungkapan. ternyata negara kelima jauh dari itu.sangat provokatif dan menggugah semangat muda! ada baiknya lewat forum ini
aku berbagi cerita tentang novel ini. aku berani menyabutnya sebagai, Petualangan Sejarah dalam Kegelisahan dan Harapan "menjanjikan ketegangan yang tiada habis, mengalir deras, berkelok-kelok, penuh kejutan, spekulatif, penuh intrik dan narasinya yang tidak terduga"
Demikian penilaian yang diberikan oleh kritikus sastra Maman S Mahayana pada cover depan novel terbitan Serambi ini. Penilaian yang saya -pribadi kurang sepakati sepenuhnya. Terlalu dangkal rasanya apabila menilai novel ini, hanya dari konflik dan alur ceritanya. Sebab jauh dari yang kita bayangkan â€"ketika melihat cover dan pengantarnya, novel ini menyajikan sebuah penelusuran identitas dan pesan yang luar biasa.
Bubarkan Indonesia
Bebaskan Nusantara
Bentuk Negara Kelima
Pesan itu muncul dalam sebuah gelombang teror cyber yang dilakukan oleh sebuah kelompok yang menamakan dirinya kelompok patriotik. Tidak lama berselang terjadi rentetan pembunuhan. Dimulai dengan terbunuhnya puteri perwira polisi yang menjadi komandan Detsus Antiteror Polda Metro Jaya "yang juga memimpin tim untuk memburu kelompok patrotik. Pesan dari pembunuh ditinggalkan dalam bentuk goresan darah membentuk piramid dengan belahan diagonal pada bagian tengahnya.
Perburuan pun dimulai, tetapi rentetan pembunuhan tidak kunjung berhenti. Identifikasi kasus melibatkan seorang sejarawan senior yang telah lama berkutat dengan masalah simbol dan tanda dari masa silam. Interogasi yang dilakukan terhadap orang-orang yang disinyalir terlibat dalam kelompok patriotik itu hanya menambah kebingungan. Mereka hanya memberikan jawaban dalam bentuk teka-teki tentang negara kelima yang dijanjikan. Dimulai dengan narasi teka-teki negara pertama hingga keempat yang pernah terwujud di daratan nusantara.
Solon membawa berita
Plato membuat cerita
Sejarah mencari asalnya
Satu satu kosong kosong kosong terlalu lama
Teka-teki negara pertama yang keluar dari mulut tahanan menjadi tabir awal untuk memecahkan kasus ini. Seorang perwira pertama polisi, Inspektur Satu Timur Mangkuto ditetapkan menjadi tersangka utama rentetan kasus pembunuhan. Sekaligus ia dituduh terlibat dalam kelompok yang disebut polisi sebagai Kelompok Patriotik Radikal (Keparad). Tuduhan yang membuat anak muda itu melarikan diri dan berusaha untuk memecahkan sendiri teka-teki ini. Penemuan sebuah identitas dari masa lalu. Itulah yang terjadi ketika Timur Mangkuto bersama dengan Eva Duani, seorang sejarawan mulai menguak teka-teki Keparad. Kelompok itu mencita-citakan sebuah negara yang akan mengulangi kejayaan Atlantis pada masa sebelas ribu tahun yang silam.
Sebuah fakta yang baru ditemukan ketika mereka mempelajari kitab Timaues and Critias karangan Plato "satu-satunya sumber otentik yang menceritakan benua Atlantis.
Atlantis, sebelas ribu tahun yang lalu, berada di kawasan Nusantara kuno. Itulah fakta yang mereka temukan. Lengkap dengan bukti dan teori yang dipaparkan oleh sejarawan senior lulusan Sorbonne, Profesor Duani Abdullah. Dengan rapi, ES Ito menjalin rentetan cerita ini dengan mengembangkan berbagai teori yang pernah ada. Sebuah benda bernama serat ilmu "dengan bentuk piramid dengan belahan diagonal pada bagian alasnya- yang pada masa Atlantis disebut sebagai pillar Orichalcum, menjadi objek pencarian dari kelompok patriotik yang membawa mereka pada pengembaraan menuju daerah-daerah yang (sengaja ) dilupakan oleh sejarah Indonesia modern.
Jenius!
Kemampuan ES Ito untuk menghubungkan tiap plot cerita sungguh luar biasa. Penulis muda "yang menyembunyikan identitasnya itu, dengan gemilang menghubungkan antara kitab Timaes and Critias Plato dengan Tambo Adat Alam Minangkabau. Ia berhasil menjadikan sebuah mitologi "seolah menjadi jembatan fakta yang menghubungkan dua plot sejarah lewat penaklukan Iskandar Agung yang disebut-sebut dalam Tambo Minangkabau sebagai cikal bakal orang Minang.
Dengan jembatan itu, alur sejarah dikembangkan hingga Indonesia modern. Sampai pada akhirnya lima buah teka-teki itu bisa dijawab dengan tuntas. Saya terbius oleh novel ini, bukan saja karena kejeniusan pengarangnya dalam merangkai setiap plot sejarah menjadi jalinan cerita dan teka-teki yang menarik. Tetapi lebih dari itu, pengarang ini memiliki dua hal sekaligus yang amat langka saat ini, kecerdasan yang ditopang oleh keberanian. Bukan saja memaparkan sejarah dengan luar biasa, ES Ito juga berani untuk mengkritisinya bahkan pada beberapa hal mencibir habis beberapa fakta sejarah yang ia mainkan begitu saja. Begitu juga dengan lembaga kepolisian, ES Ito tidak hanya memaparkan sebuah cerita detektif, tetapi juga memberikan kritik pedas pada pola dan kinerja mereka.
"anak muda adalah kegelisahan, derap langkahnya adalah perubahan" Lebih dari semua itu, novel ini sarat dengan gagasan dan semangat muda. Mimpi-mimpi anak muda terbalut rapi oleh sebuah semangat menghadapi generasi tua yang korup dan generasi muda sampah. Ide-ide pada Negara Kelima mengingatkan kita pada mimpi-mimpi generasi bunga, 1968. Suatu masa ketika anak muda melihat segalanya mungkin. Dimana kontradiksi-kontradiksi dimunculkan sebagai simbol dan semangat generasi mereka. Sebuah pencarian identitas di tengah kegamangan menatap dunia.
Negara Kelima, terlepas dari kekurangannya pada beberapa hal, terutama masalah editing. Memberikan angin segar di tengah stagnansi ide pembaruan anak muda. ES Ito -anak muda kelahiran tahun delapan puluh satu itu, masih sangat muda. Ia telah membuka ruang untuk mimpi-mimpi besar dari generasi tanpa identitas. Lewat Negara Kelima ini, ES Ito telah menyumbangkan satu hal pada generasinya yaitu identitas sejarah. Dan identitas itu telah ia temukan.
Tidak salah pada bagian akhir tulisan ini, saya kutip petikan akhir pada novel "Nusantara ini bukan sekedar serpihan bekas kolonial Belanda! Nusantara kita mungkin lebih tua dari negeri-negeri utara. Hegemoni utara yang membuat negeri-negeri selatan menjadi kerdil dan lupa akan sejarah panjang mereka"
sumber:
milis: indo-marxist@yahoogroups.com
http://toko.serambi.co.id

RAGANYA INDONESIA TETAPI JIWANYA TIDAK LAGI NUSANTARA
SATU KELOMPOK BERKUASA SISANYA PENGAYA SAJA
SEBAGIAN KECIL KELOMPOK KAYA SISANYA MENANGGUNG DERITA
BUBARKAN INDONESIA BEBASKAN NUSANTARA BENTUK NEGARA KELIMA
Menjanjikan ketegangan yang seperti tiada habis,Mengalir deras, Berkelok
kelok,Penuh kejutan,,,,Penuh intrik,Spekulatif,Mengecuh dengan melihat narasinya
yang tak terduga,Maman S Mahyana,kritikus/Dosen FIB UI
Sebuah novel provokatif yang asyik data sejarah terasa renyah
tag : nusantara, atlantis, negara kelima, nusantara kuno, es ito
Posted on
by
jose,
under
atlantis,
es ito,
negara kelima,
nusantara,
nusantara kuno.
0
komentar.
Link ke posting ini
Aku adalah orang Atlantis (2)
I AM ATLANTEAN! (Aku adalah orang Atlantis!) -- Sebuah polemik antara aku dan entah siapa.
Setelah menemukan jawaban-jawaban pertanyaan batinku -yang kutulis dalam blog fs "AM I ATLANTEAN?"- aku tidak berhenti sampai di situ. Aku kerap kali memberitahu, bahkan menanam dogma pada orang-orang sekitarku mengenai keberadaan Atlantis, sesuai dengan keyakinanku, bahwa Atlantis adalah Indonesia. Berharap timbul sifat nasionalisme tinggi pada diri mereka, sama sepertiku setelah aku membaca Negara Kelima milik Es Ito. [Terima kasih pada Es Ito akan hal ini]. Banyak dari mereka yang tidak percaya, tidak peduli. Tapi sedikit yang peduli dan percaya sepertiku. Aku tak gentar menghadapi cemoohan dari kaum pesimis dan bantahan dari kaum terdidik, karena aku didukung mereka yang optimis, cinta negeri, dan walaupun tidak (baca: kurang) terdidik, mereka punya keyakinan. Terutama tentang keberadaan Atlantis di Indonesia.
Bantahan-bantahan yang datang tidak hanya disampaikan secara langsung kepadaku, tetapi juga yang disampaikan kepada kami yang percaya hal ini. Melalui situs-situs dan blog-blog tertentu. Contohnya seperti yang kubaca dari sebuah blog, aku lupa URL-nya .[Kalau mau search, coba ketik "Benarkah Indonesia itu Atlantis _ « Dongeng Geologi" tanpa kutip]. Sebuah blog tentang dialog antara penulis dengan Sulastama Raharja, yang oleh penulis dipanggil si Komo.
Mereka dengan berandalkan risetnya yang njelimet dan tingkat pendidikan tinggi serta minat baca yang tinggi, membantah dengan memberikan sumber-sumber bantahannya. Menurut ini, menurut itu, kata si anu, berdasarkan teori gituan, dan sebagainya. Mungkin mereka menganggap keberadaan Atlantis di Nusantara itu hanya hal gaib. Sementara aku menganggap bahwa hal gaib adalah fakta yang tertunda, yang penjelasan ilmiahnya belum bisa dibuktikan.
Contohnya seperti ketika Sang Pujaan, Nabi Muhammad SAW melarang umatnya meniup makanan ketika menyuap makanan panas. Orang-orang pada zamannya mungkin tidak tahu alasan ilmiah mengapa hal itu dilarang. Mereka hanya mematuhi berdasarkan kredibilitas Nabi Muhammad SAW. Sementara orang-orang setelah zamannya, sebelum penjelasan sains tentang hal itu terungkap, menjauhi larangannya -mungkin- karena ada alasan gaib di balik larangan itu. Tapi ketika ilmu pengetahuan mampu menjelaskannya, ternyata udara yang keluar dari mulut kita ketika kita meniup makan panas adalah udara kotor. Jadi sebenarnya Nabi Muhammad SAW melarang kita "mengotori" makanan yang hendak kita makan. Atau kita dilarang makan makanan yang kotor. Haruslah yang baik dan bermanfaat. Nabi Muhammad sendiri mungkin tahu alasan rasional mengapa ia melarang kita melakukan hal itu. Tapi ia sengaja tidak memberikan alasan logis kepada kita agar kita mencari tahu sendiri apa maksud dibalik itu. Kalau kita mencari tahu sendiri berarti kita belajar. Kalau belajar berarti kita mengamalkan ayat Al Quran yang turun pertama: IQRA! Sebuah kesinambungan yang sangat menarik dan sangat masuk akal.
Kembali ke Atlantis, bukan kembali ke laptop. Karena aku tak pernah meninggalkan laptop.
Membaca "Benarkah Indonesia itu Atlantis _ « Dongeng Geologi" http://rovicky.wordpress.com, aku mempunyai 2 pertanyaan: satu bersifat introspektif, yaitu "Apakah aku salah memahami penjelasan-penjelasan yang kubaca tentang Atlantis?". Dua, yang bersifat merendahkan, yaitu "Apakah mereka tidak memahami dengan baik penjelasan-penjelasan seperti yang kupahami?"
Ada (baca: banyak) perbedaan pemahaman tentang Atlantis, terutama tentang risetnya Prof Santos (www.atlan.org). Ini kuambil langsung dan mentah-mentah tanpa diedit, dari blog "Benarkah Indonesia itu Atlantis _ « Dongeng Geologi":
PERBEDAAN PEMAHAMAN I
[Penulis:] 1. Pak Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India , Sri Lanka , Sumatra , Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya.
[Jawaban si Komo yang ditulis oleh pemilik blog:] komo: kalau melihat figure 20 dari http://www.bernardharrisonandfriends.com/pdfs/continental.pdf , pada jaman es antara 1,6 juta - 100 ribu tahun yang lalu, daerah yang saat ini di namakan indonesia sudah tidak menyatu. Pada saat air laut surut, sumatera, kalimantan dan jawa menyatu dengan asia, maluku, papua menyatu dengan australia sementara sulawesi dan nusatenggara sebagai pulau2 sendiri. Jadi ketetapan Pak Santos spekulatif dan kurang akurat. Hal ini didukung oleh jenis2 fauna yang berbeda antara Papua dengan Jawa/Sumatera/Kalimantan, fauna2 di papua lebih mirip dengan autralia dan fauna di jawa/sumatera/kalimantan lebih mirip dengan di Asia.
[Aku:] Penempatan tanda baca dari blog tersebut membingungkan pembaca, khususnya aku, yang pernah mengenyam pendidikan jurnalistik. Jadi menurut pemahamanku tentang jawaban si Komo, si Komo mengatakan bahwa Sumatera-Kalimantan-Jawa menyatu dengan Asia, Maluku-Papua menyatu dengan Australia, sementara Sulawesi-Nusatenggara masing-masing berdiri sendiri.
Pemahamanku: menurut si Komo, riset Prof Santos tidak akurat karena Sumatera-Kalimantan-Jawa-Maluku-Papua dianggap tergabung dalam pangea Asia. Padahal menurut penjelasannya Prof Santos -dan mudah-mudahan sama dengan pemahamanku- adalah, Sumatera-Kalimantan-Jawa memang menyatu dengan Asia, Maluku-Papua memang menyatu dengan Australia, sementara Sulawesi-Nusatenggara memang masing-masing berdiri sendiri. Prof Santos memang menggambarkan seperti itu, sama seperti pendapat si Komo. Tapi kenapa si Komo malah memahami bahwa Prof Santos mengatakan pulau-pulau di Indonesia dulunya tergabung?
Sulit dicerna? Jadi begini. Prof Santos bilang A. Si Komo mendengar dan memahaminya sebagai B. Lalu Si Komo mencari tahu tentang hal itu dan ternyata fakta yang didapat adalah A. Lalu ia bilang ke publik bahwa Prof Santos salah karena telah berkata B, sementara -menurut si Komo- yang benar adalah A. Dan si Komo mengklaim kebenarannya tentang perihal A itu didapat bukan dari Prof Santos. Sementara ketika Prof Santos bilang A, aku memahaminya sebagai A. Jadi ketika si Komo bilang "Prof-Santos-salah-karena-telah-berkata-B,-padahal-yang-benar-A", aku jadi bingung. Bagiku, apa yang dibilang Prof Santos dan si Komo sama-sama A, tapi si Komo telah "memfitnah" Prof Santos. Fitnahnya adalah bahwa Prof Santos telah berkata B.
A yang dimaksud adalah "Sumatera-Kalimantan-Jawa menyatu dengan Asia, Maluku-Papua menyatu dengan Australia, sementara Sulawesi-Nusatenggara masing-masing berdiri sendiri". Dan B yang dimaksud adalah "Pulau-pulau di Indonesia dulunya tergabung".
Sudah bisa dicerna? Kuharap sudah, karena aku bingung bagaimana lagi cara menjelaskannya. Mari lanjut.
PERBEDAAN PEMAHAMAN II
[Penulis:] 2. Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) ... Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa)...
[Jawaban si Komo yang ditulis oleh pemilik blog:] komo: "Super Volcano Toba terjadi 73.000 BC tahun yang lalu, merupakan letusan terhebat dalam 2 juta tahun terakhir. Teori plato di atas jadi kurang akurat karena menyebutkan letusan Krakatau yang paling dasyat. Mengacu kepada http://mirrorh.com/timeline.html, Atlantis Kingdom(?) mungkin ada pada 23.400 B.C , jadi tidak mungkin letusan Toba menenggelamkan Atlantis, karena letusan Toba terjadi sebelumnya.
[Aku:] Duh.. ada 2 kesalahpahaman di sini.
Pertama terjadi antara si Penulis dengan si Komo. Si Penulis bilang: "Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau". Lalu dibantah oleh si Komo: "Super Volcano Toba terjadi 73.000 BC tahun yang lalu, merupakan letusan terhebat dalam 2 juta tahun terakhir". Rupanya si Komo benar-benar memberi ketegasan bahwa letusan yang paling dahsyat adalah letusan Toba, dilihat dari kata "Super Volcano Toba"-nya. Mungkin si Komo ini orang Batak ya? Orang Batak yang bisa disebut "murtad" karena bernama Sunda. Kok segitu tegasnya menekan bahwa letusan Toba-lah yang paling hebat? Aih, sudahlah, ayo kembali ke masalah.
Jika ada pernyataan begini: "Presiden Indonesia terhebat di kemudian hari adalah Suharto". Lalu tiba-tiba dari lain pihak terdengar argumen: "Presiden terhebat adalah Soekarno".
Dari kasus "presiden terhebat" di atas, aku memahaminya demikian: Soekarno hebat, setelah itu (juga) Suharto. Dari kasus "letusan terhebat" di atasnya lagi, aku memahami: Letusan Toba dahsyat, kemudian kedahsyatannya diikuti Krakatau. Antara ranking 1a (Toba/Soekarno) dan 1b (Krakatau/Suharto). Mungkin benar letusan Toba adalah yang paling hebat selama 2 juta tahun terakhir. Walaupun berdasarkan tayangan National Geographic Channel yg pernah kutonton menyatakan letusan Tambora adalah yang paling hebat. Dan mungkin Plato tidak kenal Toba, yang dia tahu Krakatau. Sama halnya seperti ABG sekarang menganggap bahwa Ikhsan Idol memiliki suara yang unik, padahal aku tahu dari siapa Ikshan Idol mencontoh suara seperti itu. Eddie Vedder. Mungkin Plato sama seperti ABG sekarang. Karena ketidaktahuannya akan "ada letusan hebat sebelum letusan Krakatau", jadinya ia mengira bahwa letusan Krakatau-lah yang paling hebat. Dan si Komo mengklarifikasi bahwa letusan Toba-lah yang paling hebat, dengan menilai kesalahan Plato.
Kesalahpahaman ke dua, mari fokus ke kalimat terakhir dari jawaban si Komo: "...jadi tidak mungkin letusan Toba menenggelamkan Atlantis, karena letusan Toba terjadi sebelumnya."
Memang bukan letusan Toba yang menenggelamkan Atlantis. Adalah Krakatau yang menenggelamkan Atlantis, karena di gunung itulah pusat kota Atlantis berada. Sumatera-Kalimantan-Jawa yang menyatu dengan Asia adalah teritori utama Atlantis. Gunung besar itulah yang kemudian diwujudkan menjadi stupa terbesar dan teratas di Candi Borobudur. Bicara tentang Candi Borobudur, coba datangi lagi ke sana dan cermati relief-reliefnya secara akurat. Tidakkah relief itu sama seperti cerita Atlantis? Tentang sebuah negeri yang gemah-ripah-loh-jinawi, kemudian musnah terkena bencana. Candi Borobudur adalah sebuah monumen untuk mengenang Atlantis. Candi Borobudur adalah "miniatur" Atlantis.
"The pyramid complex of Borobudur (Java) has been hailed as the most significant monument in the Southern Hemisphere and, perhaps, even of the whole world." [www.atlan.org]
Maksudnya, dibanding segala monumen dunia ini, Kompleks Candi Borobudur adalah monumen paling meyakinkan tentang keberadaan Atlantis.
PERBEDAAN PEMAHAMAN III
[Penulis:] 3. Ilmuwan Brazil (Prof Santos) itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat.
[Jawaban si Komo yang ditulis oleh pemilik blog:] komo: agak susah dimengerti kenapa letusan gunung berapi menyebabkan lapisan es mencair. Letusan super volcano Toba menyebabkan terjadinya penurunan suhu bumi 4-5 derajat, letusan gunung Tambora menyebabkan tahun tanpa musim panas di Eropa. Yang mungkin terjadi akibat letusan gunung berapi adalah debu akibat letusan gunung berapi terlempar ke atas/ udara, berada di tamosfer bumi cukup lama dan menghalangi sinar matahari sehingga terjadi penurunan suhu bumi. Tekanan sedimen dan air di dasar samudera menyebabkan gempa merupakan spekulasi yang kurang akurat, mengenai penyebab gempa bisa dilihat di http://earthquake.usgs.gov/learning/kids/eqscience.php atau di http://earthsci.org/education/teacher/basicgeol/earthq/earthq.html#OginofEarthquakes .
[Aku:] Yang oleh si Komo diperkirakan mungkin terjadi -mengenai mencairnya lapisan es ini- adalah benar: "Yang mungkin terjadi akibat letusan gunung berapi adalah debu akibat letusan gunung berapi terlempar ke atas/udara, berada di atmosfer bumi cukup lama dan menghalangi sinar matahari sehingga terjadi penurunan suhu bumi."
Hal ini senada dengan Prof Santos:
"The explosion of Mt. Krakatoa caused a giant tsunami, which ravaged the lowlands of Atlantis and Lemuria. It also triggered the end of the last Ice Age by covering the continental glaciers with a layer of soot (fly ash) which precipitated their melting by increasing the absorption of sunshine. " [www.atlan.org]
"Ledakan Gn. Krakatau menyebabkan tsunami besar, yang menghancurkan dataran rendah Atlantis dan Lemuria. Ledakan tersebut juga memicu berakhirnya zaman es dengan menutup benua es dengan lapisan asap tebal (debu yang berterbangan) yang lelehannya diakibatkan dari meningkatnya penyerapan sinar matahari."
Singkat kata, saat Krakatau meletus, selain terjadi tsunami, juga terjadi global warming. Terjadi efek rumah kaca. Panas matahari yang masuk ke bumi tidak bisa keluar karena tertutup asap tebal yang terbentuk dari debu-debu letusan Krakatau. Itulah yang menyebabkan lapisan es mencair.
Apa yang dibilang "mungkin" oleh si Komo adalah apa yang dijelaskan oleh Prof Santos. Kesalahpahaman yang terjadi seperti PERBEDAAN PEMAHAMAN I kembali terjadi si sini. Prof Santos bilang A. Si komo memahaminya sebagai B. Lalu setelah riset, si Komo bilang yang benar adalah A dan pendapat si Prof Santos salah (si Komo mengira Prof Santos bilang B, karena begitulah yang dipahami si Komo).
Hahaha...aku jadi teringat iklan susu kental manis. "Ini teh susu," kata si Ujang. Lalu si Gendo bilang, "Susu kok dibilang teh?"
Wah, sudah mulai ngawur nih aku. Bagaimana tidak, si penulis sepertinya ngawur duluan. Apa yang tidak dikatakan Prof Santos malah dibilang Prof Santos yang mengatakannya. Lalu si Komo mengatakan apa yang sebenarnya dikatakan oleh Prof Santos. Wah kalau begini terus, aku capek juga harus "meralat" pendapat si penulis dan si Komo.
Akhirnya kuputuskan untuk menyudahi "bantahan" terhadap blog "Benarkah Indonesia itu Atlantis _ « Dongeng Geologi" ini. Percuma. Lagipula, sekarang sudah azan Shubuh. Sudah waktunya... Tapi tunggu sebentar. Untuk menutupi blog ini, aku ingin melempar pertanyaan tentang budaya Nusantara kepada siapa saja yang membaca blog ini.
Jika ada yang pernah/sedang diluar negeri, siapapun dimanapun itu, aku mau tahu: apakah di sana ada struktur pemerintahan seperti di Indonesia? Struktur pemerintahan sampai yang terkecil: Rukun Tetangga?
Mungkin RT-RW ini salah satu sisa peninggalan budaya Atlantis.
Oh iya, tambahan... ini ada beberapa kutipan dari comment pembaca blog tersebut:
1. "nek gunung mbledos bagian yang hilang mananya ? puncaknya atau seluruh gunungnya ? Kalau seluruhnya gunungnya mungkin tidak ya ? mungkin tidak ya bisa membelah jawa dan sumatera."
Tanggapanku mengenai komentar di atas: Krakatau meletus...meledak... semuanya meledak. Duar! Seperti itulah yang kutonton di National Geographic Channel, acara Behind The News, episode Krakatoa. That's why Plato bilang letusan Krakatau yang paling hebat, karena letusannya itu menghancurkan dirinya sediri. Yang tadinya menghubungkan Jawa dan Sumatera, kini jadi pemisah antar keduanya.
2. "Malu kalau Indonesia sebagai Atlantis, lha gimana, pejabatnya kaya gitu? korup terus... Masa peradaban tinggi menghasilkan mental uelek banget."
Memang, awalnya Atlantis adalah bangsa yang, let's say, saling tenggang rasa, tepo seliro, dll. Tapi kemudian orang-orangnya pada bejad. Mungkin karena ketamakan dan keangkuhan, menganggap negerinya adalah yang paling hebat. Jadi Allah menurunkan azab pada mereka. Memusnahkan negerinya. Tapi tidak memusnahkan jejaknya. Candi Borobudur adalah jejaknya. Sama seperti Laut Mati, jejak dari kaumnya Nabi Luth. Atau mumi masal di Pompeii, untuk memberi kita pelajaran akan kebiasaan buruk Kaligula.
Lagian, kalau aku boleh memaparkan penalaranku, mental bangsa kita yang tadi disebut "uelek" (aku tak tahu apa artinya), itu diakibatkan penjajahan non-fisik dari bangsa barat. Mereka (baca: bangsa barat) tidak bisa menjajah Nusantara secara fisik, karena, sudah menjadi turunan dari Atlantis-Sriwijaya-Majapahit bahwa bangsa ini adalah bangsa yang "hebat". Perang 3,5 abad pun diladeni, tak kenal menyerah. Seandainya Indonesia dijajah fisik selama satu milenium pun, aku yakin, akan tetap dilawan sampai bisa mendapatkan sendiri kemerdekaannya. Karena ketidakmampuan bangsa barat -yang somehow sudah tahu bahwa Nusantara adalah Atlantis, that's why mereka mau merebutnya- dalam menjajah fisik bangsa ini, akhirnya mereka menjajah dengan cara non-frontal. Dengan kebudayaan: Pop culture, apalah namanya.
3. "Ya ampun, soal atlantis disibukin, soal adam air yg menghilang begitu dekatnya belum bisa diketemui, alah rek.waduh seh.gombloooo."
Nah ini menarik... membuatku bercermin. Tapi aku bukan ahli mencari pesawat hilang, orang hilang, atau kotak hitam. Aku juga bukan ahli apa-apa. Aku ahli tidur. Tapi Atlantis lebih menarik bagiku, sama halnya naik angkutan umum lebih menarik bagiku ketimbang naik kendaraan pribadi. Dan perihal Atlantis ini membuatku tidak tidur malam ini.
Soal hilangnya Adam Air, hmmm... mungkinkah itu konspirasi? *) Tulisan ini diposting dekat dengan kejadian hilangnya Adam Air di... dimana aku lupa, 11 Januari 2007. Jadi wajar dia menulis demikian. Jangan mengira bahwa dari waktu dekat ini terjadi pesawat hilang lagi.
4. "Saya baru-baru ini nemuin artikel dalam bhs jawa mengenai bangsa Atlantis. Kira2 seperti ini yang mereka tulis:
“PENGARUH GAIB BANGSA ATLANTIS TERHADAP ORANG-ORANG DI P. JAWA”
... Menurut Lead Beater: sarjana dari Inggris ini, dalam bukunya yang berjudul “The Occult History of Java” (Sejarah Kegaiban di P.Jawa), menyebutkan diwaktu itu pulau Jawa dihuni oleh bangsa gaib, yaitu yang disebut Bangsa Atlantis. Bangsa ini memiliki ilmu teknologi tingkat tinggi (mutakhir). Mereka bisa mengubah rupa manusia menjadi rupa binatang atau monster yang mengerikan. Juga memiliki senjata pamungkas, yang ampuh seperti laser saat ini. Hanya karena mereka sangat tamak, lalu mereka melupakan kekuasaan Tuhan, maka dengan seketika Tuhan memusnahkan mereka karena telah salah mempergunakan senjata pamungkasnya.
...BERSAMBUNG... (maaf, lanjutannya lain waktu, nyambi kerja siy)"
Hahahaha.. atasannya datang ya? Takut ketahuan main internet saat jam kantor? Hahaha... payah tuh bos!! Tapi benar-benar menarik. Lebih menarik daripada Mulan Jameela plus Agnes Monica plus Siti Nurhaliza tidur bersama denganku.
5. "Pak Rovicky ini sepertinya belum baca buku Santos ya.. Pasti belum juga baca buku Plato yg menjadi deskripsi awal tentang Atlantis.. Dimaklumilah.."
Rovicky sepertinya si nama pemilik blog. Komentar ini... Aku sependapat dengan komentar ini.
...Tapi azan subuh sudah dikumandangkan beberapa waktu lalu. Aku harus bergegas. Dan aku belum tidur.
tag : atlantis, sunda land, paparan sunda, benua yang hilang, indonesia
Posted on
by
jose,
under
atlantis,
benua yang hilang,
indonesia,
paparan sunda,
sunda land.
2
komentar.
Link ke posting ini











