Nusantara Asal Peradaban Dunia? ATAP bangunan itu sangat khas. Disebut tongkonan, rumah adat Toraja menjadi salah satu arsitektur tradisional paling gampang dikenal di Indonesia. Materialnya uru, kayu lokal yang seawet jati. Arahnya selalu utara. Atapnya melengkung.
Meski orang Toraja tinggal di pegunungan, atap lengkung indah itu ternyata terkait dengan citra lautan atau perairan. Bentuk rumah dengan atap lengkung itu menggambarkan perahu.
"Model atap itu menggambarkan perahu yang digunakan Puang Buralangi pada saat berlayar ke Toraja, ribuan tahun silam," kata C.F. Palimbong, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Toraja-Toraja Utara, kepada Tempo beberapa waktu lalu. Dalam mitologi Toraja, Puang Buralangi adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan.
Buralangi ini diciptakan Tuhan di bagian utara langit dan kemudian diturunkan di daerah yang disebut Pongko sebelum pergi ke Toraja dan beranak-pinak di sana. Letak Pongko itu di daerah utara. Itu sebabnya, tongkonan selalu menghadap utara. Tidak ada kepastian di mana Pongko itu berada. "Pongko yang saya pahami adalah Tiongkok atau Cina," kata Palimbong.
Kisah penciptaan Buralangi juga bercerita tentang banjir besar yang merendam daerahnya. "Karena kondisi ini pulalah Puang Buralangi menggunakan perahu ke Toraja," ujarnya. Perahu ini kemudian diabadikan dalam bentuk atap rumah.
l l l
Versi lain mitologi banjir di Toraja, dengan sedikit perbedaan detail, diungkap oleh Stephen Oppenheimer beberapa pekan silam dalam sebuah diskusi di gedung LIPI, Jakarta. Saat itu ia menjelaskan teorinya yang ia tulis dalam buku setebal 800 halaman, Eden in the East: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara (edisi Inggris terbit pada 1998, bahasa Indonesia bulan lalu). Inilah buku yang menarik untuk dibicarakan. Sensasional tapi argumentasinya memikat karena bersangkut-paut dengan masa lalu sejarah kita yang misterius. "Karakter khas mitologi di kawasan Indonesia dan Asia Tenggara adalah banyaknya cerita banjir," kata ilmuwan genetika dari Universitas Oxford, London, Inggris, itu.
Kisah banjir ini yang menjadi satu dasar teori Oppenheimer bahwa banyak peradaban tertua di dunia berasal dari kawasan Indonesia, terutama dari wilayah Paparan Sunda, yang sekarang sudah tenggelam menjadi Laut Jawa dan Laut Cina Selatan. Dasar lain yang digunakan Oppenheimer adalah pemetaan genetika.
Paparan Sunda alias Sundaland itu wilayah dataran luas yang berada di wilayah Indonesia dan sekitarnya sekarang. Sebelum dipisahkan oleh laut karena Zaman Es berakhir sekitar 6.000 tahun sebelum Masehi, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan masih menyatu dengan Asia Daratan. Daratan ini juga menghubungkan Kalimantan dengan wilayah selatan Cina.
Oppenheimer percaya, saat Paparan Sunda itu belum tenggelam, penduduknya sudah memiliki kemampuan teknologi bertani, mencari ikan, atau membuat tembikar. Kemampuan pertanian ini boleh dibilang paling tua di dunia. "Belum ada masyarakat lain (di dunia saat itu) yang bisa melakukannya," kata Oppenheimer.
Begitu Paparan Sunda direndam air secara mendadak, penduduknya menyingkir. Mereka membawa serta teknologi pertanian dan sebangsanya ini ke seluruh dunia. Ke barat, pengaruh para imigran dari wilayah Indonesia dan sekitarnya ini sampai Eropa, sedangkan ke timur sampai ke Benua Amerika dengan melewati Selat Bering, yang ribuan tahun lalu masih bisa dilewati dengan berjalan kaki, tidak perlu menggunakan perahu.
Menurut Oppenheimer, peradaban tua Sumeria, 5.000 tahun SM, juga dipengaruhi oleh peradaban orang-orang berpenutur Austronesia-keluarga bahasa yang mencakup bahasa-bahasa di Indonesia-dari Asia Tenggara. Selama ini para ahli sejarah menyatakan di Sumeria sistem hukum sudah dikembangkan, teknik militer sudah cukup maju karena terus terjadi perang antarkota. Roda, salah satu temuan teknologi paling berpengaruh di dunia, juga sudah diciptakan. Dan terutama huruf telah digunakan, yaitu dalam bentuk huruf paku.
Namun Oppenheimer melihat beberapa temuan dari wilayah Sumeria menunjukkan kesamaan dengan kebiasaan atau teknologi Austronesia. Gerabah yang ditemukan di Ur, salah satu kota tua Sumeria, menunjukkan beberapa kesamaan dengan gerabah di kelompok penutur Austronesia di Asia Tenggara seperti cat merah. Begitu pula, ada temuan patung-patung dengan rajah. Seni membuat rajah alias tato itu khas Austronesia. Di Sepik Tengah, Papua Nugini, beberapa suku lokal sampai kini, seperti dilihat Oppenheimer, saat bertahun-tahun menjadi dokter yang meneliti penyakit malaria di Papua Nugini, masih mempraktekkan seni membuat rajah ini.
Tidak hanya teknologi yang disebarkan para penduduk Asia Tenggara ribuan tahun silam ke berbagai penjuru dunia, tapi juga mitologi kisah banjir. Gilgamesh, kisah banjir bandang Sumeria yang memiliki kesamaan dengan banjir Nuh, menurut Oppenheimer, bertolak dari kisah tenggelamnya Paparan Sunda di wilayah Nusantara dahulu kala.
l l l
Sampai dua abad silam, cerita banjir Nuh adalah satu-satunya legenda tentang banjir besar yang dikenal dunia mutakhir. Munculnya mitologi banjir besar, yang sebagian sangat mirip kisah Nuh, baru muncul saat tablet-tablet tulisan huruf paku, semacam buku dari kerajaan tua Sumeria, ditemukan di Irak oleh Hormuzd Rassam pada 1853. Tablet-tablet itu pertama kali diterjemahkan oleh arkeolog Inggris, George Smith, pada awal 1870.
Tablet itu berisi kisah Gilgamesh, Raja Sumeria. Dalam cerita itu, Gilgamesh bertemu dengan Utnapishtim di negeri timur yang mengaku selamat dari banjir besar yang melanda negerinya karena naik perahu besar. Dalam perahu itu, ia membawa semua benih yang bisa ditanam. Setelah beberapa hari, ia melepas burung untuk mengetahui apakah sudah tampak ada daratan. Belakangan arkeolog Inggris lain, Sir Leonard Woolley, pada 1929, menyimpulkan bahwa kisah Utnapishtim dan banjir Nuh itu sama.
Rupanya Utnapishtim bukan satu-satunya kisah tentang air bah yang mirip banjir Nuh. Beberapa kisah serupa mulai teridentifikasi. Di Wales-negeri kecil yang pemerintahannya menyatu dengan Inggris-ada dongeng Danau Llion yang menyembur dan membanjirkan seluruh daratan kecuali Dwyfan dan Dwyfach. Mereka selamat dengan kapal tanpa tiang dan kembali mendiami Pulau Pridain (Britania). Kapal itu berisi sepasang binatang dari setiap makhluk hidup.
Di Lituania, ada dongeng bahwa Pramzimas, sang dewa tertinggi, sudah muak terhadap keburukan manusia sehingga mengirim Wandu dan Wejas. Karena terlalu bersemangat bekerja mengirim air bah, dalam 20 hari tersisa sangat sedikit manusia.
Tapi di Asia Tenggara dan wilayah berpenutur Austronesia lain, seperti di kepulauan Pasifik, menurut Oppenheimer, kisah banjir seperti Nabi Nuh dan Sumeria ini sangat banyak. "Mayoritas dongeng tersebut diceritakan oleh penduduk minoritas yang tinggal di pulau kecil," kata Oppenheimer. Rupanya, di pulau kecil ini, bayangan banjir selalu ada. Kisah air bah pun dianggap "kontekstual" sehingga mitologi bisa awet dan diturunkan selama ribuan tahun.
Di Tahiti, misalnya, ada kisah banjir setinggi gunung, selama sepuluh hari. Jelas bukan tsunami, yang mungkin sudah dikenal di daerah itu, karena lamanya sampai 10 hari. Adapun suku Ami, salah satu suku pribumi di Taiwan, memiliki ciri sama dengan dongeng di Tibet-Burma dan Austro-Asiatik di India Timur. Kisahnya tentang banjir bandang yang singkat, menyelamatkan diri dengan kotak kayu, mendarat di gunung, dan inses orang yang selamat.
Selain tema air bah, yang memiliki sejumlah kemiripan adalah mitologi proses penciptaan dunia serta Habil dan Qabil. Bagi Oppenheimer, hal-hal ini bukan kebetulan. Karena itu, sumbernya pasti dari satu wilayah dan wilayah tersebut, menurut dia, ada kemungkinan di Asia Tenggara. "Mitos banjir pasti datang dari Kepulauan Asia Tenggara-dari kawasan Nusantara, yang kehilangan sebagian besar daratan (setelah Zaman Es berakhir)," tutur Oppenheimer dalam bukunya.
Apalagi kadang kesamaan mitologi ini disertai jejak genetika. Kisah Kalevala, misalnya, berasal dari Finlandia. Dan di negeri itu-serta sejumlah wilayah Eropa utara lain, seperti Estonia-ditemukan jejak-jejak genetis yang serupa dengan Asia Tenggara.
l l l
Dalam peta Journey of Mankind (Perjalanan Umat Manusia) yang dipaparkan di salah satu situs Internet, Oppenheimer memaparkan teori yang dipercaya sebagian besar ahli dunia tentang persebaran manusia sejak lahir di tanah Afrika sekitar 170 ribu tahun silam. Ini adalah persebaran manusia modern, Homo sapiens.
Pada 90-85 ribu tahun silam, sekelompok manusia meninggalkan Afrika ke timur, lewat Laut Merah. Dalam 10 ribu tahun, mereka terus bergeser mengikuti garis pantai Asia hingga sampai ke pantai di Cina.
Setelah Toba meledak-ledakan gunung terbesar yang diketahui umat manusia sekarang sehingga menyisakan Danau Toba-sekitar 74 ribu tahun silam, penduduk di Asia Tenggara menyebar hingga ke Papua dan Australia serta sebagian ada yang kembali ke barat, ke India. Wilayah Asia Tenggara kemudian dihuni orang yang menjadi nenek moyang Austronesia. Mereka inilah yang terkena banjir dan, menurut Oppenheimer, melakukan arus balik perjalanan mempengaruhi negeri-negeri jauh sampai ke Eropa.
Teori ini bertentangan dengan penyebaran Austronesia yang semula dipercaya berasal dari Taiwan. Teori Taiwan sebagai asal-muasal orang Austronesia, disebut teori Out of Taiwan, dibuat berdasarkan pendekatan bahasa. Keluarga rumpun bahasa Melayu itu, jika dirunut, sampai ke suku-suku pribumi di Taiwan (orang Tionghoa masuk Taiwan baru mulai abad ke-17).
Menurut teori yang dikemukakan Peter Belwood pada akhir 1970-an, orang Taiwan masuk wilayah Indonesia dan sekitarnya baru pada 4.000-3.500 tahun sebelum Masehi. Batas waktu ini jauh lebih muda daripada teori Oppenheimer, yang menyatakan bahwa orang Austronesia sudah ada di wilayah ini sejak, mungkin, 50 ribu tahun silam dan mengembangkan teknologi pertanian di sini.
Arkeolog seperti Harry Truman Simanjuntak, profesor dari Universitas Indonesia, tetap memegang teori Belwood ini. "Arkeologi dan linguistik kurang mendukung (teori Oppenheimer)," katanya. Ia merujuk pada sejumlah temuan seperti tembikar yang waktunya tidak melebihi batas 4.000 tahun itu.
Harry bahkan memperkuat temuan Belwood dengan teori bahwa jalur penyebaran dari Taiwan ini tidak hanya lewat Filipina-Kalimantan, tapi juga menyusuri pantai Indocina, kemudian menyeberang ke Sumatera dan Jawa. Teori ini berdasarkan perbedaan gaya tembikar di Indocina-Sumatera-Jawa bagian tengah dengan wilayah lain.
Tapi Oppenheimer berkukuh. "Bahasa bisa menyebar, tapi orangnya (bisa jadi) tidak menyebar," katanya. Jadi mungkin saja bahasa Austronesia memang menyebar dari Taiwan, tapi penduduknya tetap yang itu-itu saja.
Selain itu, ia mengajukan temuan arkeolog Thailand yang menunjukkan bahwa peradaban di Asia Tenggara lebih tua daripada sekadar 4.000 tahun silam. Arkeolog itu, mendiang Surin Pookajorn, menemukan butir beras dari era 7.000-5.000 tahun sebelum Masehi di Semenanjung Melayu. Batas waktu ini lebih tua beberapa tahun dibanding kedatangan orang Austronesia dari Taiwan.
Oppenheimer juga merujuk pada fakta bahwa di beberapa suku di Nusa Tenggara, teknologi beras tidak muncul sampai beberapa puluh tahun lalu. Padahal beras-dan tanaman lain seperti tebu-dipandang sebagai salah satu ciri peradaban Austronesia. "Penghuni di Indonesia sudah ada di sini jauh lebih lama, jauh lebih lama dalam kerangka waktu dibanding dalam Out of Taiwan," katanya.
Dari sisi genetis, pendekatan Oppenheimer itu didukung oleh para pakar genetika. Penelitian hampir 100 ilmuwan genetika Asia, termasuk Profesor Sangkot Marzuki yang memimpin Lembaga Eijkman, sudah memetakan genetika manusia Asia. Hasilnya? "Asia Tenggara adalah pusat penyebaran (manusia modern) setelah Afrika," kata Sangkot.
Teori Oppenheimer memang tidak sedramatis teori mendiang Arysio Nunes dos Santos, profesor fisika nuklir dari Brasil, yang menulis bahwa negeri Atlantis, seperti yang dikisahkan Plato, ada di wilayah Paparan Sunda itu. Seperti dikatakan Harry Truman Simanjuntak, teori Oppenheimer, meski ditentangnya, lebih masuk akal.
Nur Khoiri, Rudy Prasetyo, Muhammad Adnan Husain (Toraja) sources
Dari Peradaban awal manusia di Atlantis (Nusantara) ke Plato lalu kembali Indonesia kini.
“Setiap umat mempunyai batas waktu (ajal-nya), makakala ia telah tiba, maka mereka tidak akan bisa mengundurkannya sesaat pun, tidak pula mereka bisa memajukannya.” (QS 7:34)
Bulan-bulan ini bangsa Indonesia diharu-biru oleh berbagai isu, ketegangan konflik dan meningkatnya suhu politik, serta berbagai perilaku aneh para politisi dan kontestan pemilu caleg yang gagal. Ada yang stress, depresi berat, lalu gila. Ada yang ‘mutung’ mengambil kembali barang bantuannya yang sudah diberikannya ketika kampanye tapi gagal menang pileg. Bahkan tidak sedikit yang bunuh diri, dan-atau melakukan pembunuhan.
Fenomena-fenomena aneh dalam praktek kehidupan sosial dan sistem politik bangsa Indonesia saat ini semakin memperlihatkan praktek dan perwujudan cara berfikir (filsafat/pandangan dunia) yang jauh dari realisasi asasi nilai-nilai luhur Panca Sila: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyaratan-perwakilan”. Jelasnya hampir semua (sebagian besar) perilaku sosial-politik bangsa Indonesia kini didominasi kendali paham pikir keserakahan materialistis. Prinsip falsafah Pancasilais: ”Ketuhanan Yang Maha Esa” dan ”Kemanusiaan yang adil dan beradab” telah tergusur oleh falsafah ”Keuangan yang maha kuasa” dan ”Kebinatangan yang zalim dan biadab”.
Praktek kehidupan sosial-politik dan ekonomi anak bangsa tak lagi terpimpin oleh semangat kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah-Kebijaksaan. Demokrasi masih menjadi sekedar menjadi alat formal-prosedural pengumpul legitimasi untuk berkuasanya para elite politik-ekonomi. Paling tidak itulah yang dirasakan oleh beberapa pengamat dan tokoh-tokoh yang prihantin dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini.
Lalu apa hubungannya dengan Plato, filosof kelahiran Yunani (Greek philosopher) yang hidup 427-347 Sebelum Masehi (SM)? Plato adalah salah seorang murid Socrates, filosof arif bijaksana, yang kemudian mati diracun oleh penguasa Athena yang zalim pada tahun 399 SM. Setelah kematian gurunya, Plato sering bertualang, termasuk perjalanannya ke Mesir.
Pada tahun 387 SM dia kembali ke Athena dan mendirikan Academy, sebuah sekolah ilmu pengetahuan dan filsafat, yang kemudian menjadi model buat universitas moderen. Murid yang paling terkenal dari Academy tersebut adalah Aristoteles yang ajarannya punya pengaruh yang hebat terhadap filsafat sampai saat ini.
Demi pemeliharaan Academy, banyak karya Plato yang terselamatkan. Kebanyakan karya tulisnya berbentuk surat-surat dan dialog-dialog, yang paling terkenal adalah Republic. Karya tulisnya mencakup subjek yang terentang dari ilmu pengetahuan sampai kepada kebahagiaan, dari politik hingga ilmu alam.
Dua dari dialognya, Timeaus and Critias, memuat satu-satunya referensi orsinil tentang pulau Atlantis (the island of Atlantis).
Plato menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Prof. Dr. Aryso Santos, menegaskan teorinya bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan ciri-ciri dari 12 lokasi di muka bumi yang diduga para sarjana lain sebagai situs Atlantis, seperti luas wilayahnya, cuacanya, kekayaan alamnya, gunung berapinya, dan cara bertaninya, dll. yang akhirnya Santos menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia sekarang. Salah satu buktinya adalah sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Aryso Santos juga menerapkan analisis filologis (ilmu kebahasaan), antropologis dan arkeologis dalam penelitiannya. Dia banyak mendapatkan petunjuk dari reflief-relief dari bangunan-bangunan dan artefak bersejarah dan piramida di Mesir, kuil-kuil suci peninggalan peradaban Maya dan Aztec di Amerika Selatan, candi-candi dan artefak-artefak bersejarah peninggalan peradaban Hindu di lembah sungai Hindustan (Peradaban Mohenjodaro dan Harrapa). Juga dia mengumpulkan petunjuk-petunjuk dari naskah-naskah kuno, kitab-kita suci berbagai agama seperti the Bible dan kitab suci Hindu Rig Veda, Puranas, dll.
Konteks Indonesia Secara Geologis dan Geografis
Menurut Prof. Dr. H. Priyatna Abdul Rasyid, Ph.D. Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis: bukanlah suatu kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU No. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air yang berasal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Samosir, yang merupakan puncak gunung Toba yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Kata Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu pengetahuan-teknologi, dan lain-lainnya. Plato menduga bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.
Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es di muka bumi mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos, dengan mengutip teori para geolog, menamakannya sebagai Heinrich Events, bencana katastrop yang berdampak global. Beberapa artikel resume dari buku Aryso Santos ini dipublikasikan di situs internetnya di http://www.atlan.org.
Menurut Santos, dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”
Priyatna mengatakan: ”Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.”
Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.
Menurut Priyatna, bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya.
Koran Republika, Sabtu, 18 Juni 2005 menulis bahwa para peneliti AS menyatakan bahwa Atlantis is Indonesia. Hingga kini cerita tentang benua yang hilang ‘Atlantis’ masih terselimuti kabut misteri. Sebagian orang menganggap Atlantis cuma dongeng belaka, meski tak kurang 5.000 buku soal Atlantis telah ditulis oleh para pakar.
Bagi para arkeolog atau oceanografer moderen, Atlantis tetap merupakan obyek menarik terutama soal teka-teki di mana sebetulnya lokasi sang benua. Banyak ilmuwan menyebut benua Atlantis terletak di Samudera Atlantik.
Sebagian arkeolog Amerika Serikat (AS) bahkan meyakini benua Atlantis dulunya adalah sebuah pulau besar bernama Sunda Land, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.
”Para peneliti AS ini menyatakan bahwa Atlantis is Indonesia,” kata Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Umar Anggara Jenny, Jumat (17/6), di sela-sela rencana gelaran ‘International Symposium on The Dispersal of Austronesian and the Ethnogeneses of the People in Indonesia Archipelago, 28-30 Juni 2005.
Kata Umar, dalam dua dekade terakhir memang diperoleh banyak temuan penting soal penyebaran dan asal usul manusia. Salah satu temuan penting ini adalah hipotesa adanya sebuah pulau besar sekali di Laut Cina Selatan yang tenggelam setelah zaman es.
Hipotesa itu, kata Umar, berdasarkan pada kajian ilmiah seiring makin mutakhirnya pengetahuan tentang arkeologi molekuler. Tema ini, lanjutnya, bahkan menjadi salah satu hal yang diangkat dalam simposium internasional di Solo, 28-30 Juni 2005
Menurut Umar, salah satu pulau penting yang tersisa dari benua Atlantis — jika memang benar — adalah Pulau Natuna, Riau. Berdasarkan kajian biomolekuler, penduduk asli Natuna diketahui memiliki gen yang mirip dengan bangsa Austronesia tertua.
Bangsa Austronesia diyakini memiliki tingkat kebudayaan tinggi, seperti bayangan tentang bangsa Atlantis yang disebut-sebut dalam mitos Plato. Ketika zaman es berakhir, yang ditandai tenggelamnya ‘benua Atlantis’, bangsa Austronesia menyebar ke berbagai penjuru.
Mereka lalu menciptakan keragaman budaya dan bahasa pada masyarakat lokal yang disinggahinya dalam tempo cepat yakni pada 3.500 sampai 5.000 tahun lampau. Kini rumpun Austronesia menempati separuh muka bumi.
Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Harry Truman Simanjuntak, mengakui memang ada pendapat dari sebagian pakar yang menyatakan bahwa benua Atlantis terletak di Indonesia. Namun hal itu masih debatable.
Yang jelas, terang Harry, memang benar ada sebuah daratan besar yang dahulu kala bernama Sunda Land. Luas daratan itu kira-kira dua kali negara India. ”Benar, daratan itu hilang. Dan kini tinggal Sumatra, Jawa atau Kalimantan,” terang Harry. Menurut dia, sah-sah saja para ilmuwan mengatakan bahwa wilayah yang tenggelam itu adalah benua Atlantis yang hilang, meski itu masih menjadi perdebatan yang perlu diverifikasi secara ilmiah oleh berbagai pihak yang berwenang (otoritatif), misalnya Badan Arkeologi Nasional RI.
Dominasi Austronesia
Menurut Umar Anggara Jenny, Austronesia sebagai rumpun bahasa merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah manusia. Rumpun ini memiliki sebaran yang paling luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Bahasa tersebut kini dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang.
”Pertanyaannya dari mana asal-usul mereka? Mengapa sebarannya begitu meluas dan cepat yakni dalam 3500-5000 tahun yang lalu. Bagaimana cara adaptasinya sehingga memiliki keragaman budaya yang tinggi,” tutur Umar.
Salah satu teori, menurut Harry Truman, mengatakan penutur bahasa Austronesia berasal dari Sunda Land yang tenggelam di akhir zaman es. Populasi yang sudah maju, proto-Austronesia, menyebar hingga ke Asia daratan hingga ke Mesopotamia, mempengaruhi penduduk lokal dan mengembangkan peradaban.
Apa yang diungkap Prof. Dr. Umar Anggara Jenny dan Harry Truman tentang sebaran dan pengaruh bahasa dan bangsa Austronesia ini dibenarkan oleh Prof.Dr. Abdul Hadi WM, budayawan dan sastrawan terkemuka Indonesia.
Konteks Indonesia secara Filosofis dan Ruhaniyah
Secara filosofis dan historis, apa yang telah dirumuskan oleh para Founding Fathers Republik Indonesia menjadi Panca Sila, apakah secara langsung atau tidak, mungkin terinspirasi atau ada kemiripan (paralelisme) dengan konsep Plato tentang “Negara Ideal” yang tertulis dalam karyanya “Republic”. Konsep Plato tentang sistem kepemimpinan masyarakat dan siapa yang berhak memimpin bangsa, bukanlah berdasarkan sistem demokrasi formal-prosedural yang liberal ala demokrasi Barat (Amerika) saat ini. Secara sederhana konsep kepemimpinan Platonis adalah “King Philosopher” atau “Philospher King”. Konsep ini Plato dapatkan dari kisah tentang sistem pemerintahan dan negara Atlantis.
Menurut Plato suatu bangsa hanyalah akan selamat hanya bila dipimpin oleh orang yang dipimpin oleh “kepala”-nya (oleh akal sehat dan hati nuraninya), dan bukan oleh orang yang dipimpin oleh “otot dan dada” (arogansi), bukan pula oleh “perut” (keserakahan), atau oleh “apa yang ada di bawah perut” (hawa nafsu). Hanya para filosof, yang dipimpin oleh kepalanya, yaitu para pecinta kebenaran dan kebijaksanaan-lah yang dapat memimpin dengan selamat, dan bukan pula para sophis (para intelektual pelacur, demagog) seperti orang kaya yang serakah (tipe Qarun, “manusia perut” zaman Nabi Musa), atau tipe Bal’am (ulama-intelektual-penyihir yang melacurkan ilmunya kepada tiran Fir’aun). Plato membagi jenis karakter manusia menjadi 3: “manusia kepala” (para filosofof-cendikiawan-arif bijaksana), “manusia otot dan dada” (militer), dan “manusia perut” (para pedagang, bisnisman-konglomerat). Negara akan hancur dan kacau bila diserahkan kepemimpinannya kepada “manusia otot-dada” atau “manusia perut”, menurut Plato.
Dr. Jalaluddin Rakhmat menjelaskan dalam konteks terminologi agama mutakhir: Islam, istilah Philosophia atau Sapientia, era Yunani itu identik dengan terminologi Hikmah dalam al-Qur’an. Istilah Hikmah terkait dengan Hukum (hukum-hukum Tuhan Allah SWT yang tertuang dalam Kitab-Kitab Suci para Nabi dan para Rasul Allah, utamanya Al-Qur’an al-Karim, dan Sunnah Rasulullah terakhir Muhammad SAW, yang telah merangkum dan melengkapi serta menyempurnakan ajaran dan hukum rangkaian para nabi dan rasul Allah sebelumnya. Hukum yang berdasarkan dan bergandengan dengan Hikmah, bila ditegakkan oleh para Hakim dalam sebuah sistem Hukumah (pemerintahan) inilah yang akan benar-benar dapat merealisasikan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah-kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan, serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Maka semakin jelaslah mengapa konsep kepemimpinan berdasarkan Panca Sila itu terkait erat dengan konsep kepemimpinan negara versi Plato, karena ia mengambilnya dari peradaban tertua yang luhur dari peradaban umat manusia pertama (Adam As dan keturunannya) yang mendapat hidayah dan ilmu langsung dari Tuhan YME: Allah SWT. Dan entah benar atau tidak, lokasinya adalah di Nusantara (Asia Tenggara).
Surga Atlantis, Yunani dan Indonesia
Plato mendapatkan ilham filsafat politiknya serta informasi tentang peradaban dan perikehidupan bangsa antik yang luhur Atlantis, dari Socrates gurunya, juga dari jalur kakeknya yang bernama Critias. Di mana Critias mendapatkan berita tentang Atlantis dari Solon yang mendapatkannya dari para pendeta (ruhaniawan) di Mesir kuno.
Menurut penelitian Aryso Santos, para pendeta (rohaniwan) Mesir kuno ini, mewarisi informasi tentang Atlantis ini dari para leluhurnya yang berasal dari Hindustan (India yang merupakan peradaban Atlantis ke-2) dari peradaban bangsa Atlantis pertama di Sunda Land (Lemuria) atau Nusantara. Aryso Santos juga menemukan banyak informasi-informasi yang mengarahkan kesimpulannya dari artefak-artefak dan situs bersejarah di Mesir.
Aryso Santos juga menemukan bahwa cerita tentang Atlantis terkait dengan kisah para “dewa’ dalam mitologi Yunani dan perikedupan manusia pertama, keluarganya dan masyarakat keturunannya,. Cerita ini ada kemiripan dengan kisah Zeus dalam mitology dan legenda Yunani, juga dengan kisah dalam kitab suci Hindu Rig Veda, Puranas, dll. “All nations, of all times, believed in the existence of a Primordial Paradise where Man originated and developed the fist civilization ever. This story, real and true, is told in the Bible and in Hindu Holy Books such a the Rig Veda, the Puranas and many others. That this Paradise lay “towards the Orient” no one doubts, excepting some die-hard scientists who stolidly hold that the different civilizations developed independently from each other even in such unlikely, late places such as Europe, the Americas or the middle of the Atlantic Ocean. This, despite the very considerable contrary evidence that has developed from essentially all fields of the human sciences, particularly the anthropological ones. It is mainly on those that we base our arguments in favor of the reality of a pristine source of human civilization traditionally called Atlantis or Eden, etc.” tulis Aryso Santos.
Yang cukup mengejutkan adalah bahwa Peradaban kuno Atlantis, yang kemungkinan adalah peradaban pertama umat manusia, justru sudah beradab (civilized) dan punya kemampuan sains dan teknologi, dan sistem kemasyarakatan dan ketatanegaraan ideal yang cukup maju yang tak terbayangkan oleh kita sekarang itu dapat terjadi 11.600 tahun yang lalu. Dari sudut pandang umat Islam, hal ini tidaklah mengherankan, karena Nabi Adam, sebagai manusia (kalifatullah) pertama telah diajari Allah semua ilmu pengetahuan tentang nama-nama (QS 2 : 30)
Sebuah bangsa kepulauan, yang menurut anggapan Plato berlokasi di tengah Samudra Atlantik, dihuni oleh suatu ras manusia yang mulia dan sangat kuat (noble and powerfull). Rakyat tanah air tersebut sangat makmur sejahtera yang sangat bersyukur atas segala karunia sumber daya alam yang diketemukan di seantero kepulauan mereka. Kepulauan itu adalah sebuah pusat perdagangan dan kegiatan komersial. Pemerintahan negeri itu memperjalankan para penduduknya untuk memperdagankan hasil buminya sampai ke Afrika dan Eropa
Negara Atlantis.
Menurut cerita Plato Atlantis adalah wilayahnya Poseidon, dewa laut. Ketika Poseidon jatuh cinta kepada wanita yang bisa mati, Cleito, dia membuat sebuah sumur di puncak bukit di tengah-tengah pulau dan membuat kanal-kanal air berbentuk lingkaran cincin di sekitar sumur tersebut untuk melindungi istrinya itu. Cleito melahirkan lima pasang anak kembar laki-laki yang menjadi penguasa pertama Atlantis. Negeri pulau itu dibagi-bagi di antara para saudara laki-lakinya. Yang tertua, Atlas, raja pertama Atlantis, diberi kontrol atas pusat bukit dan area sekitarnya.
Pada puncak tengah bukit, untuk menghormati Poseidon, sebuah bangunan candi, kuil atau istana dibangun yang menempatkan sebuah patung emas raksasa dari Poseidon yang mengendarai sebuat kereta yang ditarik kuda terbang. Di sinilah para penguasa Atlantis biasa mendiskusikan hukum, menentapkan keputusan dan memberi penghormatan kepada Poseidon.
Untuk memfasilitasi perjalanan dan perdagangan, sebuah kanal (saluran) air dibuat memotong cincin-cincin kanal air yang melingkari wilayah, sehingga terbentuk jalan air sepanjang 9 km ke arah selatan menuju laut.
Kota Atlantis menduduki tempat pada wilayah luar lingkaran cincin air, menyebar di sepanjang dataran melingkar sepanjang 17 km. Inilah tempat yang padat penduduk di mana mayoritas pendudukanya tinggal.
Di belakang kota terhampar seuatu lahan subur sepanjang 530 km dan selebar 190 km yang dikitari oleh kanal air lain yang digunakan untuk memngumpulkan air dari sungai-sungai dan aliran air pengunungan. Iklimnya memungkinkan mereka dapat 2 kali panenan dalam setahun. Pada saat musim penghujan, lahan disirami air hujan dan pada musim panas/kemarau, lahan diairi irigasi dari kanal-kanal air.
Mengitari dataran di sebelah utaranya ada pengunungan yang menjulang tinggi ke langit. Pedesaaan, danau-danau dan sungai dan meadow menandai titik-titik pengunungan.
Disamping hasil panenan, kepulauan besar tersebut menyediakan semua jenis tanaman herbal, buah-buahan dan kacang-kacangan, dan sejumlah hewan termasuk gajah, yang memenuhi kepulauan.
Dari generasi ke generasi orang-orang Atlantean hidup dengan sederhana, hidup penuh dengan kebaikan. Namun lambat-laun mereka mulai berubah. Keserakahan dan kekuasaan mulai mengkorupsi mereka. Ketika Maha Dewa Zeus melihat ketidakdapatmatian (immortality) para penduduk Atlantis, maka Dia mengumpulkan para dewa lainnya untuk menentukan sebuah hukuman yang layak bagi mereka.
Segera, dalam sebuah bencana besar mereka lenyap. Kepulauan Atlantis, penduduknya, dan ingatan-ingatanya musnah tersapu lautan.
Ringkasan cerita yang dikisahkan Plato ini sekitar tahun 360 SM dalam dialognya Timaeus and Critias. Karya tulis Plato ini adalah satu-satunya referensi yang diketahui mengenai Atlantis. Ini telah menimbulkan kontroversi dan perdebatan lebih dari 2 ribu tahun lamanya. http://www.enlightenmentpathsir.com/rememberingatlantis.htm
Replika Situs Atlantis yang dibangun Nabi Iskandar Zulkarnain telah diketemukan di Sumatra ?
Beberapa orang yang penulis temukan secara tak sengaja, antara Januari-Mei tahun ini telah mengaku menemukan jejak-jejak situs yang diduga kemungkinan besar adalah replika situs Atlantis. Menurut pengakuan mereka, mereka terdorong oleh ilham dan mimpi serta cerita-cerita tambo, mitos dan legenda yang diwarisi dari leluhur mereka tentang cerita istana Dhamna yang hilang di tengah pulau Sumatra, di sekitar perbatasan Propinsi Sumatra Barat, Jambi dan Riau.
Sekitar 6 bulan mereka melakukan riset dan ekspedisi ke lokasi, dengan partisipasi seorang arkeolog dan panduan beberapa tokoh masyarakat adat setempat mereka menemukannya di tengah bukit dan hutan yang sukar dijangkau manusia. Di tempat yang sekarang dikenal sebagai Lubuk Jambi itu konon telah diketemukan oleh masyarakat setempat berbagai artefak dan sisa bangunan peninggalan kerajaan Kandis, yang diduga Atlantis itu di dekat sungai Kuantan Singgigi. Beberapa foto dirimkan oleh mereka kepada penulis sebagai bukti hasil ekspedisi mereka. Namun demikian, menurut informasi yang mereka dapat, tempat tersebut dijaga dan dipelihara, selain oleh masyarakat adat setempat juga oleh kekuatan makluk supra natural tertentu yang menjaganya ribuan tahun. Bahkan menurut mereka, jarum kompas yang mereka bawa ke tempat itu pun tidak bisa berfungsi lagi, karena pengaruh kutub magnetis bumi pun menjadi hilang di sana. Salah satu dari tim ekspedisi itu mengaku melihat dan merasakan kehadiran semacam siluman macan/harimau yang menjaga tempat itu. Wallahu ‘alam bi shawab.
Namun terlepas dari benar tidaknya pengakuan mereka, ada juga beberapa pihak yang mengaitkan diketemukannya bukti-bukti situs Atlantis sebagai peradaban umat manusia pertama dengan sejarah kehidupan Nabi Adam As dan anak-cucu keturunannya, dengan prediksi kebangkitan kembali agama-agama dan spiritualisme dunia menjelang akhir zaman. Ini konon terhubung dengan persiapan kedatangan Imam Mahdi dan mesianisme kebangkitan kembali Nabi Isa al-Masih, sebelum kiamat tiba.
Inilah yang mungkin masih menjadi pertanyaan tersirat ES Ito yang menulis novel Negara Kelima. Bagaimanakah revolusi menuju negara ke lima itu mendapatkan jalannya?
Nusantara, Indonesia sekarang, menurut Tato Sugiarto, telah dipersiapkan Tuhan YME sebagai negeri tempat persemaian dan tumbuh kembangnya kearifan ilahiah dan shopia perennialis yang berevolusi melalui berbagai agama dunia dan kearifan-kearifan lokal nusantara, yang merefleksikan falsafah Bhineka Tunggal Ika. Menurut pria kelahiran 1937, mantan tea taster dan market analisis PT perkebunan I – IX Sumatara Utara – Aceh, walau terjadi paradoks –di balik krisis lingklungan seiring dengan krisis peradaban global, mengutip Alvin Tofler, terjadi pula gejala-gejala kebangkitan agama-agama, yang paralel dengan kebangkitan spiritualisme menurut John Naisbit. Ini menutut Tato, adalah pertanda masa transisi proses kebangkitan umat manusia menyosong tranformasi menuju “Kebangkitan Peradaban Mondial Millenium Ketiga”.
Gejala ini juga terlihat jelas di kawasan Nusantara ini, dan pesan-pesannya pun dipahami para ahli makrifat yang waskita. Walau fenomena ini tampil paradoksal, namun sesungguhnya bersifat komplementer, merupakan survival instinct manusia. Ini merupakan peringatan dini dalam mengatisipasi apocaliptic threats yang akan hadir di masa datang. Prophetic intelegence yang relevan dengan itu berabad-abad yang lampau sebenarnya telah diisyaratkan dalam Injil dan al-Qur’an sebagai nubuat (ramalan) Kebangkitan Isa al-Masih (QS 3: 55, QS 19:33) ataupun yang dalam pagelaran wayang purwo ditampilkan sebagai mitos “Kresna Gugah”.
Tato Sugiarto menjelaskan: Wayang Purwo warisan Wali Songo adalah “tontonan dan tuntunan” adiluhung yang cocok dengan semua agama. Tampil sebagai seni budaya yang sarat dengan muatan aneka ilmu pengetahuan. Medium pendidikan massal ini dikemas sebagai total arts, yang kehadirannya mewakili pagelaran seni makrifat atau meditative arts. Kini wayang purwo telah melampaui batas wilayah Nusantara, lalu diakui sebagai warisan dunia, yaitu sejak dinyatakan oleh UNESCO (PBB) sebagai “A Masterpiece of the Oral and Intangible heritage of Humanity” pada tgl 7 November 2003 di Paris Perancis.
Dalam ungkapan seorang aktifis urban sufism di Jakarta, Rani Angraini, “karena di sinilah peradaban luhur pertama umat manusia berawal, maka di sini pula peradaban umat manusia bangkit kembali dan berakhir di penghujung zaman.” Wallahu ‘Alam bi shawab. (AYS)
Banyak sekali penafsiran umum akan nama Nusantara, mungkin yang paling
populer adalah rujukan penamaan Nusantara yang dapat diakses di situs wikipedia,
di sana disebutkan bahwa ‘Nusantara merupakan istilah yang dipakai oleh orang
Indonesia untuk menggambarkan wilayah kepulauan Indonesia dari Sabang sampai
Merauke’; pertanyaannya, apakah hanya sebatas itu sajakah wilayah Nusantara
dulu?
Candi Penataran
Nusa sendiri sering diartikan dengan pulau atau kepulauan, penamaan dari
leluhur kita dahulu dalam bahasa sansekerta, sedang dalam bahasa sansekerta
dengan peradaban yang lebih lama, istilah Nusa disebut dengan Nuswa.
Hasil dari penelitian kita terhadap beberapa rontal kuno dan beberapa
prasasti, Nuswantara [atau Nusantara, selanjutnya kita bahasakan dengan
Nusantara] adalah gabungan dari dua kata, Nusa dan Antara. Nusa sendiri dalam
bahasa sansekerta kuno mempunyai arti “sebuah tempat yang dapat ditinggali”
…jadi tidak disebutkan secara jelas bahwa itu adalah pulau.
Konsepsi dari Nusantara sendiri adalah sebuah kesatuan wilayah yang dipimpin
oleh suatu pemerintahan [kerajaan] secara absolut. Jadi dalam Nusantara terdapat
satu Kerajaan Induk dengan puluhan bahkan ratusan kerajaan yang menginduk
[bedakan menginduk dengan jajahan]. Dalam sebuah periodesasi jaman, Kerajaan
induk itu mempunyai seorang pimpinan [raja] dengan kewenangannya yang sangat
absolut, sehingga kerajaan-kerajaan yang menginduk sangat hormat dan loyal
kepada Kerajaan Induk dan satu sama lain antara kerajaan yang menginduk akan
saling bersatu dalam menghadapi ancaman keamanan dari negara-negara di luar
wilayah Nusantara, sehingga tak pelak kesatuan dari Nusantara sangat disegani,
dihormati dan ditakuti oleh negara-negara lain pada jaman dahulu.
Kerajaan Induk biasanya dipimpin oleh seorang raja dengan gelar Sang Maha
Prabu atau Sang Maha Raja, atau pada periode jaman sebelumnya dengan Sang Rakai
atau Sang Mapanji, serta dibantu oleh Patih [sekarang setara dengan Perdana
Menteri] yang bergelar Sang Maha Patih.
Sedangkan kerajaan-kerajaan yang menginduk, istilah Kerajaan juga seringkali
disebut dengan Kadipaten yang dipimpin oleh raja yang bergelar Kanjeng Prabu
Adipati atau Kanjeng Ratu Adipati [apabila dipimpin oleh seorang raja wanita],
dan Patih-nya bergelar Sang Patih.
Pimpinan Kerajaan Induk tidaklah selamanya turun-temurun, tidak tergantung
dari besar-kecilnya wilayah, tapi dilihat dari sosok pimpinannya yang mempunyai
kharisma sangat tinggi, kecakapannya dalam memimpin negara dan keberaniannya
dalam mengawal Nusantara, sehingga negara-negara lain [kerajaan yang
menginduk/Kadipaten] akan dengan suka rela menginduk di bawah sang pemimpin,
apalagi sang pemimpin biasanya dianggap mewarisi karisma dari pada dewa, dalam
pewayangan-pun beberapa nama raja disebutkan sebagai Dewa sing ngejawantah.
Nusantara, atau Indonesia kini [dari bahasa melayu dan pengembangan penamaan
wilayah nusantara pada jaman masa kolonial], dahulu dikenal dunia sebagai bangsa
yang besar dan terhormat. Orang luar bilang Nusantara adalah “jamrud
khatulistiwa” karena di samping Negara kita ini kaya akan hasil bumi juga
merupakan Negara yang luar biasa megah dan indah.
Bahkan di dalam pewayangan, Nusantara ini dulu diberikan istilah berbahasa
kawi/Jawa kuno, yaitu :
“Negara kang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata
tentrem kerto raharja”
Artinya dalam bahasa Indonesia kurang lebih yaitu :
“Luas berwibawa yang terdiri atas daratan dan pegunungan, subur makmur, rapi
tentram, damai dan sejahtera“
Sehingga tidak sedikit negara-negara yang dengan sukarela bergabung di bawah
naungan bangsa kita.
Hal ini tentu saja tidak lepas peranan dari leluhur-leluhur kita yang beradat
budaya dan berakhlak tinggi. Di samping bisa mengatur kondisi Negara sedemikian
makmur, leluhur kita juga bahkan dapat mengetahui kejadian yang akan terjadi di
masa depan dan menuliskannya ke dalam karya sastra. Hal ini bertujuan sebagai
panduan atau bekal anak cucunya nanti supaya lebih berhati-hati menjalani roda
kehidupan.
Akan tetapi penulisannya tidak secara langsung menggambarkan berbagai
kejadian di masa mendatang, digunakanlah perlambang sehingga kita harus jeli
untuk dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan perlambang itu tadi.
Digunakannya perlambang karena secara etika tidaklah sopan apabila manusia
mendahului takdir, artinya mendahului Tuhan yang Maha Wenang.
Leluhur kita yang menuliskan kejadian masa depan adalah Maharaja di Kerajaan
Dahana Pura bergelar Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya dalam karyanya Jayabaya
Pranitiradya dan Jayabaya Pranitiwakyo. Sering juga disebut “Jangka Jayabaya”
atau oleh masyarakat sekarang dikenal dengan nama “Ramalan Jayabaya”, sebetulnya
istilah ramalan kuranglah begitu tepat, karena “Jangka Jayabaya” adalah sebuah
Sabda, Sabda Pandhita Ratu dari Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya, yang artinya
adalah akan terjadi dan harus terjadi.
Leluhur lainnya adalah R. Ng. Ranggawarsita yang menyusun kejadian mendatang
ke dalam tembang-tembang, antara lain Jaka Lodang, Serat Kalatidha, Sabdatama,
dll.
Kaitannya dengan penanggalan jaman yang ada di Jangka Jayabaya, kita berhasil
menemukan bahwa sejarah Nusantara tidak sekerdil sejarah yang tertulis di
buku-buku pelajaran sejarah sekolah yang resmi atau literasi sejarah yang ada.
Bahkan lebih dari itu, kami menemukan bukti tentang kebesaran leluhur Nusantara
yang di peradaban-peradaban sebelumnya mempunyai wilayah yang lebih besar dari
yang kita duga selama ini.
Data yang diperoleh terdapat di beberapa relief dan prasasti yang dapat
dilihat dan dimengerti oleh semua orang. Pola pembacaan yang telah berhasil
dipetakan dengan mendokumentasikan lebih dari 20 jenis aksara purba asli
Nusantara yang dapat dipakai untuk membaca prasasti dan rontal-rontal kuno,
mulai dari Aksara Pra Budi Ratya, Pudak Sategal, Sastra Gentayu, Sastra
Wiryawan, Sastra Budhati, Sastra Purwaresmi, Aksara Pajajaran, Aksara Hendra
Prawata, Aksara Jamus Kalihwarni, Aksara Keling, Aksara Budha yang ada di
Magelang, Aksara Nagari Mojopoit, dll. Sebagai bahan perbandingan, aksara
Pallawa yang ada di India itu masih setara dengan jaman Kerajaan Singasari, jadi
masih terhitung sangat muda.
kembali ke Jangka Jayabaya, telah berhasil dipetakan periodesasi terciptanya
bumi sampai ke titik akhir menjadi 3 Jaman Kali [Jaman Besar] atau Tri Kali, dan
setiap Jaman Kali terbagi menjadi 7 Jaman Kala [Jaman Sedang] atau Sapta Kala,
dan 1 Jaman Kala terbagi menjadi 3 Mangsa Kala [Jaman Kecil] atau Mangsa Kala,
serta berhasil mengurutkan sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara yang
mayoritas telah dihilangkan dari sejarah resmi.
Tri Kali atau 3 Jaman Besar itu terdiri dari : 1. Kali Swara – jaman penuh
suara alam 2. Kali Yoga – jaman pertengahan 3. Kali Sangara – jaman
akhir
Masing-masing Jaman Besar berusia 700 Tahun Surya, suatu perhitungan tahun
yang berbeda dengan Tahun Masehi maupun Tahun Jawa, perhitungan tahun yang
digunakan sejak dari awal peradaban. Konversi setiap Jaman Besar [Kali]
masing-masing berbeda], saat ini yang telah berhasil dikonversikan adalah
penghitungan Kali Sangara [jaman akhir], di mana 1 [satu] Tahun Surya setara
dengan 7 Tahun Wuku, satu tahun Wuku terdiri dari 210 hari yang berarti 1 [satu]
Tahun Surya pada jaman besar Kali Sangara itu sama dengan 1.470 hari.
Berikut adalah uraian tentang pembagian jaman disertai dengan silsilah
Kerajaan-kerajaan Besar [Kerajaan Induk] di Nusantara mulai dari jaman Kali
Swara, Kali Yoga, sampai Kali Sangara.
1. Kali Swara [ jaman penuh suara alam ] Dibagi atas 7 Jaman Sedang
[saptakala], yaitu :
1.1. Kala Kukila [burung] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala]
: 1.1.1 Mangsa Kala Pakreti [mengerti] 1.1.2 Mangsa Kala Pramana
[waspada] 1.1.3 Mangsa Kala Pramawa [terang]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Kukila : Keling,
Purwadumadi, Purwacarita, Magadha, Gilingwesi, Sadha Keling
1.2. Kala Budha [mulai munculnya kerajaan] Dibagi atas 3 Jaman Kecil
[mangsa kala] : 1.2.1 Mangsa Kala Murti [kekuasaan] 1.2.2 Mangsa Kala
Samsreti [peraturan] 1.2.3 Mangsa Kala Mataya [manunggal dengan Sang
Pencipta]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Budha
: Gilingwesi, Medang Agung, Medang Prawa, Medang Gili/Gilingaya, Medang Gana,
Medang Pura, Medang Gora, Grejitawati, Medang Sewanda
1.3. Kala Brawa [berani/menyala] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala]
: 1.3.1 Mangsa Kala Wedha [pengetahuan] 1.3.2 Mangsa Kala Arcana [tempat
sembahyang] 1.3.3 Mangsa Kala Wiruca [meninggal]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Brawa : Medang
Sewanda, Medang Kamulyan, Medang Gili/Gilingaya
1.4. Kala Tirta [air bah] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala]
: 1.4.1 Mangsa Kala Raksaka [kepentingan] 1.4.2 Mangsa Kala Walkali
[tamak] 1.4.3 Mangsa Kala Rancana [percobaan]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Tirta : Purwacarita,
Maespati, Gilingwesi, Medang Gele/Medang Galungan
1.5. Kala Rwabara [keajaiban] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala]
: 1.5.1 Mangsa Kala Sancaya [pergaulan] 1.5.2 Mangsa Kala Byatara
[kekuasaan] 1.5.3 Mangsa Kala Swanida [pangkat]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Rwabara
: Gilingwesi, Medang Kamulyan, Purwacarita, Wirata, Gilingwesi
1.6. Kala Rwabawa [ramai] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala]
: 1.6.1 Mangsa Kala Wibawa [pengaruh] 1.6.2 Mangsa Kala Prabawa
[kekuatan] 1.6.3 Mangsa Kala Manubawa [sarasehan/ pertemuan]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Rwabawa
: Gilingwesi, Purwacarita, Wirata Anyar
1.7. Kala Purwa [permulaan] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala]
: 1.7.1 Mangsa Kala Jati [sejati] 1.7.2 Mangsa Kala Wakya
[penurut] 1.7.3 Mangsa Kala Mayana [tempat para maya/ Hyang]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Purwa : Wirata
Kulon [Matsyapati], Hastina Pura
2. Kali Yoga [ jaman pertengahan ] Dibagi atas 7 Jaman Sedang [saptakala],
yaitu :
2.1. Kala Brata [bertapa] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala]
: 2.1.4 Mangsa Kala Yudha [perang] 2.1.5 Mangsa Kala Wahya
[saat/waktu] 2.1.6 Mangsa Kala Wahana [kendaraan]
Kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Purwa : Hastina Pura
2.2. Kala Dwara [pintu] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] : 2.2.1
Mangsa Kala Sambada [sesuai/ sepadan] 2.2.2 Mangsa Kala Sambawa
[ajaib] 2.2.3 Mangsa Kala Sangkara [nafsu amarah]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Dwara : Hastina
Pura, Malawapati, Dahana Pura, Mulwapati, Kertanegara
2.3. Kala Dwapara [para dewa] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala]
: 2.3.1 Mangsa Kala Mangkara [ragu-ragu] 2.3.2 Mangsa Kala Caruka
[perebutan] 2.3.3 Mangsa Kala Mangandra [perselisihan]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Dwapara
: Pengging Nimrata, Galuh, Prambanan, Medang Nimrata, Grejitawati
2.4. Kala Praniti [teliti] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala]
: 2.4.1 Mangsa Kala Paringga [pemberian/kesayangan] 2.4.2 Mangsa Kala
Daraka [sabar] 2.4.3 Mangsa Kala Wiyaka [pandai]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Praniti
: Purwacarita, Mojopura, Pengging, Kanyuruhan, Kuripan, Kedhiri, Jenggala,
Singasari
2.5. Kala Teteka [pendatang] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala]
: 2.5.1 Mangsa Kala Sayaga [bersiap-siap] 2.5.2 Mangsa Kala Prawasa
[memaksa] 2.5.3 Mangsa Kala Bandawala [perang]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Teteka : Kedhiri,
Galuh, Magada, Pengging
2.6. Kala Wisesa [sangat berkuasa] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala]
: 2.6.1 Mangsa Kala Mapurusa [sentosa] 2.6.2 Mangsa Kala Nisditya
[punahnya raksasa] 2.6.3 Mangsa Kala Kindaka [bencana]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Wisesa
: Pengging, Kedhiri, Mojopoit [Majapahit]
2.7. Kala Wisaya [fitnah] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala]
: 2.7.1 Mangsa Kala Paeka [fitnah] 2.7.2 Mangsa Kala Ambondan
[pemberontakan] 2.7.3 Mangsa Kala Aningkal [menendang]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Wisaya
: Mojopoit, Demak, Giri
3. Kali Sangara [ jaman akhir ] Dibagi atas 7 Jaman Sedang [saptakala],
yaitu :
3.1. Kala Jangga Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] : 3.1.1 Mangsa
Kala Jahaya [keluhuran] 3.1.2 Mangsa Kala Warida [kerahasiaan] 3.1.3
Mangsa Kala Kawati [mempersatukan]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Jangga : Pajang,
Mataram
3.2. Kala Sakti [kuasa] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] : 3.2.1
Mangsa Kala Girinata [Syiwa] 3.2.2 Mangsa Kala Wisudda
[pengangkatan] 3.2.3 Mangsa Kala Kridawa [perselisihan]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Sakti : Mataram,
Kartasura
3.3. Kala Jaya Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] : 3.3.1 Mangsa
Kala Srenggya [angkuh] 3.3.2 Mangsa Kala Rerewa [gangguan] 3.3.3 Mangsa
Kala Nisata [tidak sopan]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Jaya : Kartasura,
Surakarta, Ngayogyakarta
3.4. Kala Bendu [hukuman/musibah] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala]
: 3.4.1 Mangsa Kala Artati [uang/materi] 3.4.2 Mangsa Kala Nistana [tempat
nista] 3.4.3 Mangsa Kala Justya [kejahatan]
Kerajaan-kerajaan Induk Nusantara pada Jaman Sedang Kala Jaya : Surakarta,
Ngayogyakarta, Indonesia [Republik]
3.5. Kala Suba [pujian] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] : 3.5.1
Mangsa Kala Wibawa [berwibawa/berpengaruh] 3.5.2 Mangsa Kala Saeka
[bersatu] 3.5.3 Mangsa Kala Sentosa [sentosa]
3.6. Kala Sumbaga [terkenal] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala]
: 3.6.1 Mangsa Kala Andana [memberi] 3.6.2 Mangsa Kala Karena
[kesenangan] 3.6.3 Mangsa Kala Sriyana [tempat yang indah]
3.7. Kala Surata [menjelang jaman akhir] Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa
kala] : 3.7.1 Mangsa Kala Daramana [luas] 3.7.2 Mangsa Kala Watara
[sederhana] 3.7.3 Mangsa Kala Isaka [pegangan]
Metode penelitian dan penelusuran yang digunakan selama ini adalah dengan
mengkompilasikan studi literasi pada relief-relief, prasasti-prasasti serta
rontal-rontal kuno yang dipadukan dengan Sastra Cetha, sastra yang tidak
tersurat secara langsung. Sastra Cetha sendiri adalah sebuah informasi tak
terbatas yang sudah digambarkan oleh alam semesta secara jelas, begitu jelasnya
sehingga sampai tidak dapat terlihat kalau kita menggunakan daya penangkapan
yang terlalu tinggi dan rumit
Belajar dari tanah sendiri, belajar dari ajaran leluhur Nusantara sendiri,
belajar banyak dari alam semesta, di mana bumi diinjak, di situ langit
dijunjung.
Ras Nusantara, CATATAN SEJARAH ANTHROPO-ETHNOLOGIS NUSANTARA
Oleh : Ali Sastramidjaja
JAMAN 1 – 4 JUTA TAHUN PURBAKALA.
CATATAN SEJARAH ANTHROPO-ETHNOLOGIS NUSANTARA.
Nusantara
Bangsa-bangsa di seluruh Nusantara dan Asia Tenggara adalah tergolong Ras
Nusantara yang oleh orang Barat disebut Austronesia. Nusantara dahulu kala
bernama Dwipantara yang berpusat di kawasan Bumi Nusantara, yaitu kawasan
kepulauan Indonesia sekarang.
Ras Nusantara ini adalah Persatuan dan Kesatuan bangsa-bangsa dengan:
Satu Induk Ras – Nusantara
Satu Induk Tanah – Air – Nusantara
Satu Induk Kebudayaan – Nusantara
Satu Induk Bahasa – Nusantara
Satu Induk Nenek Moyang – Nusantara
Semua bangsa-bangsa Ras Nusantara ini adalah berasal keturunan dari satu
generasi Manusia purba Tertua dan Pertama yang mulai muncul lahir di muka bumi
sedunia ini, yaitu manusia purba generasi Meganthropus Paleo Nusantaraicus dan
generasi-generasi Hominid dan Homo lainnya pada masa 1- 4 juta tahun
dahulukala, dan yang fosil-fosilnya telah ditemukan di berbagai pulau dan
daerah tersebar di seluruh kepulauan Nusantara. Lihat: Peta 1. (Sumber:
Anthropoaleontologi Von Koningswald; Geologi Van Bemmelen; Purwayuga Pangeran
Wangsakerta, 1678).
*
GEOPOLITIK NUSANTARA.
Semasa Tahun 20.000 – 2.000 SM.
Sejak ribuan tahun purbakala yang menjadi urat nadi hubungan laut antara
dunia Barat dan dunia Timur adalah jalur pelayaran dan perdagangan lewat: Selat
Malaka, Laut Jawa, Selat Karimata, Laut Sunda, sampai di Laut Cina Selatan. Pada
jaman dahulu kala sampai abad ke-14 M, Semenanjung Malaya masih merupakan satu
semenanjung tanah daratan kering memanjang sampai di ujungnya di wilayah
Belitung (Pulau Belitung sekarang).
Pulau Jawa dan pulau Sumatra masih merupakan satu pulau yang panjang yang
tersambung bersatu oleh sejalur tanah daratan kering di kawasan Panaitan (Pulau
Panaitan sekarang) dan Ujung Kulon antara Lampung dan Jawa Barat. Pelabuhan
Palembang masih terletak di tepi laut terbuka luas, yaitu Selat Malaka, dan
tidak seperti sekarang berada di pedalaman sejauh 50 km dari tepi pantai. Begitu
pula pelabuhan Jambi di Muara Tembesi (Muara Sabak) yaitu muara sungai
Batanghari, masih terletak di tepi pantai laut terbuka Selat Malaka. Gunung
Muria (Jepara) di Jawa Tengah masih merupakan suatu pulau terpisah dari daratan
pulau Jawa.
Di kawasan sepanjang jalur perairan Nusantara ini, sejak ribuan tahun dahulu
kala, telah bertumbuhan ratusan kerajaan-kerajaan kecil dan besar. Pelayaran dan
perdagangan antar-pulau Nusantara dan dengan negeri-negeri luar di mancanegara
telah berkembang ramai. Bahan-bahan dan barang- barang dagangannya diantaranya
ialah: padi-padian, emas, perak, timah (bahan untuk perunggu), lada atau merica,
rempah- rempah, alat-alat besi dan perunggu, gading gajah, dan banyak lagi
lain-lainnya.
Kawasan Nusantara yang sangat strategis, subur makmur dan kayaraya ini selalu
menjadi pusat perebutan kekuasaan diantara kerajaan-kerajaan pribumi Nusantara
sendiri.
*
ORANG ASING PERTAMA DI NUSANTARA.
Th. 1500 – 1000 Sebelum Masehi:
Pelabuhan Singkil: Di pantai Samudera Hindia, kawasan Tanah Batak. Sudah
terkenal ke negeri-negeri di Mesir-kuno dan Timur Tengah. Raja Nabi Sulaeman
(Salomo) mengutus orang-orang Pnoenesia dari Sidon ke Singkil untuk membeli
kamper di Singkil. Pelabuhan Singkil dan Barus sudah menguasai ekspor dari Tanah
Batak (kamper = kapur Barus).
Pelabuhan Sorkam dan pelabuhan Mungkur memegang monopoli dunia ekspor
kemenyan. Penjual tunggal untuk seluruh dunia. Kemenyan sangat digemari oleh
penduduk negri-negri di Timur Tengah dan Mesir-Kuno. Digemari oleh Raja Nabi
Sulaeman dan oleh raja-raja Hemitik dan Semitik.
Pelabuhan Natal sangat banyak ekspor Emas. Begitu banyak sampai didatangi
oleh pedagang-pedagang bangsa Phoenesia sebelum jaman Rumawi, sebelum jaman
Yunani. Daerah pertambangan emasnya ialah Mandailing di Tanah Batak Selatan.
Catatan:
Sejak jaman Nabi Sulaeman (Th. 1000 SM) kota Damaskus sudah merupakan pusat
perdagangan distribusi rempah-rempah yang datang ke situ dari kepulauan
Nusantara lewat jalan laut ke Kwang Tung (= Kanton) di negeri Cina, dan dari
situ lewat jalan darat (jalan sutera) ke Damaskus.
Th. 100 Sebelum Masehi:
Orang Persia pertama datang di Nusantara, ialah di daerah pantai Aceh
Utara.
Th. 22 Sebelum Masehi :
Orang Cina pertama datang di Nusantara, yaitu di daerah Kalimantan Utara.
Th. 78 Masehi : Orang Hindu pertama datang di Nusantara, ialah di daerah
pantai Aceh Utara.
*
EKSPANSI CINA KE NUSANTARA. TH. 100 – 565 M.
Tahun 1000 Sebelum Masehi:
Migrasi Cina ke Daratan Asia-Tenggara. Jaman Dinasti Chou Tahun 1122-249
SM.
Suatu suku bangsa Mongoloid yaitu suku bangsa Syan, terdesak oleh suku-suku
bangsa Cina dan bermigrasi ke daerah-daerah daratan Asia Tenggara di sebelah
Selatan. Di sana mereka bercampurbaur asimilasi dengan suku-suku bangsa pribumi
asli seperti suku-suku bangsa: Karen, Senoi, Meo, Munda, Sakai, dan
lain-lainnya. Suku-suku bangsa pribumi ini tergolong ras Nusantara, yang oleh
orang Barat disebut Austronesia, dan yang sejak 600.000 tahun dahulu kala telah
bermigrasi ke sana menjadi penduduk penghuni pertama di kawasan daratan Asia
Tenggara pada masa jauh terlebih dahulu sebelum munculnya manusiapurba
Cina-Mongoloid “Pekinensis” atau “Sinanthropus” di dunia. Sejak terjadinya
asimilasi suku bangsa Syan dengan suku-suku bangsa pribumi itu, maka mulailah
muncul kerajaan-kerajaan baru di kawasan daratan Asia Tenggara, yaitu kerajaan
Syan yang kemudian disebut Syanka atau Siam; kerajaan Syan Pao Cha yang kemudian
disebut Kam Pao Cha atau Kamboja; dan kerajaan Syan Pao Nam yang kemudian
disebut Syan Nam atau An Nam dan Syan Pao, Syan Pa atau Campa. Kamboja dan Anam
bersatu juga disebut Syan Pao Nam, Sya Pa Nao atau Yawana.
Tahun 210 Sebelum Masehi :
Migrasi Cina ke Teluk Tongkin. Jaman Dinasti Ch’in Tahun 246-210 SM.
Kaisar Ch’in Shih Huang Ti di lembah sungai Hoang Ho (sungai Kuning)
menaklukkan, menguasai dan mempersatukan seluruh kerajaan-kerajaan kecil dengan
tangan-besi menjadi satu negara besar Cina. Banyak penduduk Cina yang tidak mau
tunduk kepada pemerintahan Kaisar Ch’in. Sebagian dari mereka bermigrasi ke
negeri-negeri di sekelilingnya. Sebagian penduduk yang bermigrasi itu meresap
masuk menjarah ke daerah-daerah di sekitar Teluk Tongkin yaitu wilayah Hoa
Binh dan Dongson do An Nam yang sekarang disebut Vietnam. Di sana mereka berdiam
dalam perkampungan-perkampungan Cina atau pecinan-pecinan. Sementara orang Cina
bercampurbaur asimilasi dengan suku-suku bangsa pribumi.
Tahun 100 Sebelum Masehi :
Cina Menyerbu dan Menjajah Daerah Teluk Tongkin. Jaman Dynasti Han Tahun 206
SM. – 220 M. Bangsa Cina dari negeri Cina menyerbu, merampok, membunuh dan
kemudian menjajah daerah-daerah kawasan Teluk Tongkin, yaitu negeri-negeri di
kawasan An Nam dan Kamboja. Terjadi lagi migrasi besar-besaran penduduk dari
negeri Cina ke daerah-daerah yang direbutnya itu dan mereka bertinggal disana
dalam perkampungan-perkampungan Cina yang disebut pecinan. Teluk Tongkin dan
sekitarnya dijajah oleh negeri Cina.
Tahun 100 Masehi :
Agama Budha Masuk ke Negeri Cina.Jaman Dinasti Han Tahun 206 SM -220 M.
Pada tahun 64 M Agama Budha dari India masuk ke negeri Cina, dibawa oleh
orang-orang India lewat jalan darat di Asia Tengah.
Pada tahun 100 M. Agama Budha oleh Kaisar Han Wu Ti dijadikan “agama
negara” atau “agama resmi” di negeri Cina. Keadaan Agama Budha demikian itu
berlangsung sampai akhir jaman Dinasti Tang (Th. 618 – 906 M).
Tahun 100 – 400 M. :
Kerajaan Funan atau Fun An (=Pnom Penh). Jaman akhir Dinasti Han Th. 206 SM –
220 M.
Kerajaan Funan yang berdiri pada awal abad ke-2 M. Meliputi kawasan Kamboja,
Siam dan Semenanjung Malaya bagian utara, mengusir penjajah Cina dari kawasan
Teluk Tongkin. Kapal-kapal perang dan bajak-bajak laut Cina dihancurkan. Tetapi
orang-orang Cina tetap bercokol di sana dalam pecinan-pecinan dan ikut hidup
bernaung di bawah pemerintahan kerajaan Funan. Kemudian dalam abad ke-5 Kamboja
melepaskan diri dari kerajaan Funan dan mendirikan kerajaan sendiri.
Catatan :
Sejak jaman ribuan tahun purbakala telah ramai berkembang lalu-lintas
pelayaran dan perdagangan antara kerajaan-kerajaan di kepulauan Nusantara dengan
kerajaan-kerajaan di daerah Asia Tenggara.
Tahun 100 – 200 M :
Negeri Cina Meluaskan Ekspansinya ke Nusantara. Jaman Akhir D1nasti Han Th.
206 SM – 220 M. Negeri Cina mulai mengembangkan ekspansi penjajahannya ke
kawasan kepulauan Nusantara. berpangkalan di Kwan Tung (= Kanton) yang
sekaligus dijadikan pusat bandar dan pelabuhan perdagangan di Cina Selatan.
Dikirimkan ekspedisi-ekspedisi kapal dagang, kapal perang dan perampok-perampok,
bajak-laut Cina ke Formusa (Taiwan), daerah-daerah Filipina ke daerah Kalimantan
sebelah Utara, Laut Cina Selatan,Teluk Siam, Kalimantan Barat, Semenanjung
Malaya sampai masuk ke Selat Malaka. Sementara orang Cina ada yang menyasar
terdampar ke daerah Minahasa di Sulawesi Utara.
Di tempat-tempat pelabuhan dagang ekspedisi-ekspedisi Cina itu menurunkan
orang-orang Cina untuk menetap di sana sebagai pedagang. Mereka bertinggal dalam
perkampungan-perkampungan Cina yang disebut pecinan. Banyak barang-barang hasil
perdagangan dan hasil perampokan atau perampasan bajak-laut Cina mengalir ke
Kwan Tung (Kanton) yang di waktu sebelum itu hanya menjadi pusat penampung
perdagangan transit saja.
Bahan dan barang perdagangan itu dari Kwan Tang (Kanton) masuk ke pedalaman
negeri Cina dan sebagian dari Peking diperdagang kan ke negeri-negeri di Asia
Tengah sampai ke negeri-negeri di wilayah Rumawi melalui jalan darat (Jalan
Sutera) di Asia Tengah.
Tahun 100- 200 M:
Pelayaran Perdagangan dari India ke Cina. Jaman Akhir Dinasti Han Th. 206 SM
– 220 M.
Mulai terjadi pelayaran perdagangan dart India ke negeri Cina melalui Selat
Malaka, Laut Jawa, Selat Karimata, Laut Sunda dan Laut Cina Selatan. Sebelum itu
hubungan dagang kedua negeri tersebut berlangsung melalui jalan darat di Asia
Tengah yang disebut “Jalan Sutera”. Hubungan persahabatan India – Cina mulai
tumbuh baik sekali setelah masuknya Agama Budha ke negeri Cina melalui jalan
darat di Asia Tengah pada tahun 64 Masehi.
Pedagang-pedagang India dalam pelayarannya ke negeri Cina juga diperlindungi
oleh kapal-kapal perang dan disertai pula oleh perampok-perampok bajak-laut
orang India. Pedagang-pedagang Indiapun mendirikan koloni-koloninya sendiri
yaitu yang disebut “kampung Keling” di bandar-bandar pelabuhan dagang yang
dilaluinya di Nusantara. Pada awal abad ke-2 Masehi kapal-kapal dagang India
berserta kapal-kapal perang dan perampok bajak-lautnya itu dipimpin oleh Dewa
Warman, seorang pedagang asal negeri Palawa yang juga bertindak sebagai utusan
dagang dari negeri-negeri Palawa, Salangkayana, Benggala, dsb.
Perampok-perampok bajak-laut Cina dan India banyak yang ditumpas oleh
kerajaan-kerajaan pribumi Nusantara di sepanjang perairan Selat Malaka sampai di
Laut Cina Selatan.
Catatan :
Antara orang Cina dan orang India timbul suatu persahabatan yang sangat akrab
pada masa tahun 100 – 900M. Persahabatan ini tumbuh karena banyak sekali
persamaan-persamaan dalam agama, kepercayaan, pandangan-hidup (falsafah) dan
moral dari kedua ras tersebut. Agama Cina adalah Agama Tao (= dewa, Tuhan,
yang gaib) yang bercorak polytheisme. Agama Budha demikian pula. Perbedaannya
hanya pada jumlah, jenis dan sebutan dewa-dewa saja.
Pandangan-hidup Cina adalah moralisme atau ajaran moral dari Kong Hu Chu
(Konfusianisme) dan Lao Tse yang oleh orang Cina dianggap sebagai “Nabi”.
Moralisme Cina ini berdasarkan pandangan “adanya kemanunggalan alam dan
manusia” yang oleh orang Barat disebut “pantheisme”. Yaitu adanya
keterjalinan hidup antara alam-lahir dan alam-gaib dengan manusia yang masih
hidup dan arwah manusia yang telah meninggal. Penghormatan dan pemujaan terhadap
arwah leluhur nenek moyang Cina adalah bersumber kepada Agama Tao dan moralisme
Cina tersebut.
Demikian pula bagi orang-orang India yang menganut Agama Budha yang
bobotnya terletak pada ajaran moral dari Gautama Budha yang juga dipandang
sebagai “Nabi” oleh para pengikutnya. Pantheismepun sebenarnya ada dalam Agama
Budha, yaitu kepercayaan tentang ”reinkarnasi” yang pada hakekatnya adalah
sama dengan adanya hubungan antara suatu arwah-manusia yang telah meninggal
dengan manusia yang hidup. Kepercayaan “reinkarnasi” ini mengakibatkan juga
timbulnya penghormatan, pemujaan dan pendewaan terhadap suatu leluhur atau
nenek-moyang. Demikianlah dekatnya kepercayaan dan pandangan-hidup dalam Agama
Tao Cina dan Agama Budha India. Karena itulah Agama Budha dijadikan “Agama Resmi
atau Negara” di negeri Cina pada Th. 100 M. Walaupun demikian dalam bidang
kepentingan hidup sering juga terjadi bentrokan-bentrokan antara orang Cina dan
orang India yang beragama Budha.
Tahun 100-200M:
Kapal Perang dan Bajak-laut Cina dan India meranjah negeri Salaka di Jawa
Barat dan Lampung.
Jaman Akhir Dinasti Han Th.206 SM – 220 M.
Kapal-kapal perang dan perampok bajak-laut Cina dan India datang menjarah dan
merampok ke negeri Salaka di kawasan sekitar Selat Sunda, yaitu di wilayah
Banten dan Lampung. Kapal-kapal perang dan perampok bajak-laut Cina dan India
itu dihancurkan oleh angkatan bersenjata kerajaan Salaka atas perintah Raja Aki
Tirem atau Aji Tirem Luhur Mulya.
Dalam catatan negeri Cina diberitakan: adanya negeri dan raja Ye Tiao dan
Tiao Pien (= Aji Tirem dan negeri Tirem); Ko Ying (= kota-perak = Rajata-pura);
Teluk Weh (weh = teluk atau perairan = way = Teluk atau Selat Sunda sekarang);
Pu Lei (=pulau merapi = gunung Krakatau sekarang).
Kemudian pada tahun 130 M. Raja Salaka Aki Tirem mengirimkan utusan dagangnya
ke negeri Cina.
Catatan :
Ye Tiao diartikan juga = Yawa Dwipa = Yaba Diou = Pulau Jawa (Sumber: Berita
Cina dan Naskah Pangeran Wangsakerta 1678).
Tahun 238 M :
Kapal Perang dan Bajak-laut Cina menyerang lagi ke Salaka.
Terjadi serangan kapal-kapal perang dan perampok bajak-laut Cina kekerajaan
Salaka. Ditumpas habis oleh tentara Salaka. Kemudian Raja Salaka III mengadakan
hubungan dagang dengan negeri Cina.
Tahun 252-276 M
Kapal Perang dan Bajak-laut Cina menyerang lagi ke Salaka.
Jaman Raja Salaka V. datang lagiserangan kapal-kapal perang dan bajak-laut
Cina ke kerajaan Salaka. Raja Salaka V gugur dalam pertempuran di laut. Tetapi
kapal-kapal perang dan bajak-laut Cina dihancurkan.
Tahun 399 – 403 M :
Raja Purnawarman Menghancurkan Kapal-kapal Perang dan Bajak-laut Cina dan
India.
Jaman Negera Taruma di Jawa Barat. Orang Cina menyebutnya To-lo-mo.
Kerajaan Salaka dilanjutkan oleh Kerajaan Tarum atau Taruma. Rajanya ialah
Purnawarman yang berasal dari Kerajaan Sunda Sembawa yang berpusat di kota Desa
Sunda (=Sunda Pura) di lembah sungai Citarum.
Tahun 399 M :
Kapal-kapal perang dan perampok bajak-laut Cina dan India makin merajalela di
seluruh perairan Barat dan Utara mulai dari Laut Cina Selatan, Laut Sunda, Laut
Jawa, Selat Malaka sampai ke Samudera Hindia. Seorang Menteri Taruma berserta
rombongannya yang sedang dalam pelayaran diserang dan ditawan lalu dibunuhnya.
Purnawarman bertindak. Ia sendiri memimpin angkatan lautnya dan melakukan
serangan terhadap kapal-kapal perang dan perampok bajak-laut. Serangan pertama
dilakukan di perairan Ujung Kulon. Semua kapal perang dan bajak-laut Cina
dihancurkan dan semua orang Cina dibunuh dan mayatnya dibuang ke laut.
Telah lama perairan sekitar Pulau Jawa sebelah Utara, Barat dan Timur
dikuasai kapal-kapal perang dan perampok-perampok bajak-laut Cina dan India.
Jumlah mereka tak terhitung dan tersebar di seluruh lautan. Semua kapal diganggu
dan semua barang yang ada di dalam kapal dirampas. Tak ada yang berani memasuki
atau melalui peraiaran laut itu, karena sepenuhnya dikuasai kapal-kapal
perang dan perampok bajak-laut yang ganas dan kejam.
Kemudian Purnawarman mengangkat seorang pamannya menjadi Panglima Angkatan
Laut Taruma yang melindungi pelayaran perdagangan di sepanjang perairan laut
dari Taruma ke Semenanjung Mendini (Malaya, Lingga, Bangka, Belitung), ke
Syangka (Siam), Yawana (Kamboja), Campa (Anam= Vietnam sekarang), ke Bakulapura
(=Tanjungpura di Kutai, Kalimantan Timur), ke kerajaan-kerajaan di Sumatra, ke
Cambay di India dan ke negeri Cina.
Tahun 400 – 500 M :
Perwakilan-dagang Cina di Nusantara.
Pada awal abad ke-5 hubungan pelayaran dan perdanganan santara negeri-negeri
di Nusantara dengan negeri Cina dan negeri-negeri di sebelah Barat dari
Nusantara mulai berjalan aman tanpa gangguan ditengah laut. Cina mulai
menempatkan perwakilan-perwakilan dagangnya (Konsulat dagang) disertai dengan
pembentukan pecinan-pecinan di bandar-bandar pelabuhan dagang di Sumatra,
Semenanjung Malaya, Kalimantan Barat dan di Kalimantan Utara.
Tahun 449 M:
Utusan Negeri Cina Pertama ke Nusantara.
Utusan resmi dari negeri Cina yang pertama ke Nusantara ialah diutus oleh
Kaisar Liu Sung ke Negeri Taruma (To-lo-mo) di Jawa Barat pada tahun 449 M.
Tahun 565 M :
Utusan Taruma dihadang di Laut Cina Selatan.
Dalam Th.565 M Raja Taruma bernama Kretawarman mengirimkan utusan dagang ke
negeri Cina. Di tengah Laut Cina Selatan kapal utusan Taruma itu dihadang oleh
kapal perang dan bajak-laut Cina. Terjadi pertempuran yang berakhir dengan
dihancurkannya kapal perang dan bajak-laut Cina. Orang Cina semuanya dibunuh,
mayat-mayatnya ditumpuk menjadi satu di atas geladak kapalnya, lalu dibakar
habis. Setelah itu kapal utusan Taruma melanjutkan pelayarannya sampai ke negeri
Cina.
*
MIGRASI CINA-MONGOL KE ASIA TENGAH
Th. 400 – 500 M.
Dalam abad ke-5 M. bangsa Mongol dan Cina bermigrasi besar-besaran ke
wilayah Asia Tengah, lalu menguasai belahan benua tersebut.
Bangsa-bangsa di Asia Tengah yang tidak mau takluk kepada Cina-Mongol
meninggalkan negerinya masing-masing. Sebagian dari mereka masuk wilayah India
Utara dan kemudian terkenal di sana sebagai bangsa Kushan.
Bangsa-bangsa lainnya disebelah Barat mulai terdesak dan bergerak pindah
pula. Perpindahan penduduk itu berlangsung beberapa abad lamanya.
Bangsa Hun masuk menjarah ke negeri-negeri di wilayah kekuasaan Kerajaan
Rumawi dalam abad ke-5 dan menklukkan daerah daerah Eropa Timur, Eropa Tengah
dan Eropa Barat. Penyerbuan bangsa Hun itu mengakibatkan timbulnya “Jaman Gelap”
dalam sejarah Eropa pada abad-abad Pertengahan Th. 500 – 1500 M.
*
GEOPOLITIKNUSANTARA
Th. 600 – 700 M
Kerajaan-kerajaan Pribumi Nusantara.
Dalam abad ke-7 kerajaan-kerajaan pribumi Nusantara yang tumbuh nenjadi
negera besar dikawasan jalur pelayaran dan perdanganan dunia, diantaranya
ialah:
1. Pali atau Poli, di Sumatra Utara yang berpusat di daerahsekitar sungai
Pasi (Peusangan) dan sungai Aceh.
2. Nagur, di Sumatra Utara yang berpusat di daerah Tanah Batak.
3. Minangkabau, di Sumatra Barat sampai daerah Riau di kawasan sungai
Rokan, Siak, Kampar dan sungai Bantang Kuantan (=sungai Indragiri).
4. Melayu Jambi, didaerah kawasan sungai Batanghari dan Batang Tembesi.
Berpusat di Jambi.
5. Melayu Palembang, di daerah kawasan sungai Musi. Berpusat di
Palembang.
6. Sriwijaya, yang meliputi daerah pantai Sumatra Timur dan Sumatra
Utara, Semenanjung Malaya, kepulauan Nukobar, dan kepulauan Andaman. Didirikan
pada tahun 676 oleh Da Punta Hiyang Jayanasa, seorang raja-daerah Minagkabau.
Berpusat di Jambi.
7. Taruma dan Sunda, di daerah kawasan Lampung dan Jawa Barat. Berpusat di
Sundapura.
8. Galuh, di daerah kawasan Parahiyangan dan Banyumas. Berpusat di
Galuh.
9. Sima atau Simo, yang kemudian juga disebut Kalingga, Kalanggara, Keling,
atau Holing. Di Jawa Tengah, JawaTimur, Madura dan Bali. Berpusat di Simo, Jawa
Tengah.
10. Banjar Mahasin (Banjarmasin), di Kalimantan Selatan.
11. Kutai, di Kalimantan Timur. Berpusat di Bakulapura (Tanjungpura)
12. Kutawaringin, di Kalimantan Baratdaya. Berpusat di Kutawaringin.
13. Sambas, di Kalimantan barat, di sekitar lembah sungai Sambas sampai
Suingai Kapuas. Berpusat di kota Sambas. Suatu daerah kayaraya emas. (Dalam
abad-7 kota Sambas masih terletak di tepi pantai laut Selat Karimata)
14. Serawak dan Brunai di Kalimantan Utara.
15. Makasar dan Bugis, di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Berpusat disekitar
Makasar (Ujungpandang). Pada jaman sebelum Masehi orang bugis dan Makasar sudah
pandai membuat kapal yang terkenal dengan sebutan “kapal Penisi” yang
dilengkapi layar. Sejak abad ke-14 orang Bugis dan Makasar sudah pandai membuat
meriam.
16. Kerajaan-kerajaan di kawasan Maluku dan kepulauan Timor, yang membawahi
kerajaan-kerajaan kecil di Irian.Nusantara Timur ini sejak jaman dahulu kala
adalah penghasil rempah-rampah terbesar diseluruh dunia.
Tahun 600 – 700 M :
Kekayaan Bumi Alam Nusantara.
Daerah-daerah Sungaidareh dan Batanghari di Jambi adalah daerah penghasil
merica/lada yang terpenting diseluruh dunia pada masa Th. 500 – 1000 M.
Kemudian daerah merica terpenting itu bergeser ke daerah:
- Kuntu-Kampar di Minagkabau Timur Th. 1000 – 1400
- Minagkabau Pusat di Sumatra Barat Th. 1400 – 1600
- Aceh Barat Th. 1600 – 1800
- Lampung, Bangka dan BantenTh. 1800 – 1900
Daerah Maluku, Timor dan Nusa Tenggara Timur sudah sejak sebelum sampai
sekarang adalah penghasil rempah-rempah, kecuali merica, terbesar diseluruh
dunia.
Tanah Batak adalah penghasil kamper dan kemenyan terbanyak di seluruh dunia.
Daerah Aceh, Tanah Batak, Mandailing, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan
Kalimantan Timur, adalah daerah penghasil emas terbesar di Nusantara pada masa
itu. Kalimantan, terutama Kalimantan Selatan adalah daerah penghasil intan dan
batu-manikam yang terkenal di Nusantara dan di mancanegara.
Tahun 600-700M:
Kerajaan Pali atau Poli Th. 500-676M.
Di belahan Sumatra bagian Utara. Berpusat di daerah sekitar muara sungai
Pasai di kawasan Aceh Utara.
Sejak jaman 100 tahun sebelum Masehi di sekitar muara sungai Pasai itu sudah
ada suatu koloni orang Persia. Sungai Pasai adalah sungai terbesar di Aceh
Utara di tepi selat Malaka. Kerajaan Pali beragama Budha Hinayana. Sangat banyak
di singgahi oleh peziarah-peziarah Cina yang pergi ziarah ke Nalanda di
India.
Pada Th.676M kerajaan Pali direbut oleh Sriwijaya.
Pada masa sebelum Masehi orang-orang Parsi (=Persia) sudah melakukan
pelayaran dagang lewat jalan laut ke Nusantara. Untuk persinggahan kapal-kapal
Parsi, orang-orang Parsi mendirikan koloni di Bombay, India, dan di Perlak
(=Peureulak) di muara sungai Peureulak di pantai Aceh Utara. Dalam bahasa Parsi,
Perlak itu disebutkan “Tadj I Alam” artinya “Mahkota Alam”. Di dalam catatan
sejarah Cina “Tadj I Alam” disebut “Ta Chih” yang oleh Cina dijadikan nama
untuk semua koloni Islam antara Selat Malaka dan Teluk Persia, termasuk Singkil
yang oleh Cina hanyalah dikenal dari cerita-cerita saja.
Ceng Ho dan Colombus adalah dua pelaut ulung yang tersohor di penjuru dunia.
Mereka terkenal sebagai figur tangguh yang berani menantang ganasnya samudra
dengan perahu sejarahnya. Tapi tahukah anda, ternyata kepiawaian mereka jauh
ketinggalan dari pelaut Nusantara. Mungkin anda tidak percaya begitu saja. Tapi,
demi membuktikan kebenaran itulah Robert dick-read, peneliti asal Inggris
bersusah payah menyusun buku ini.
Dengan berdasar pada sumber sejarah yang
berlimpah, Dick bercerita tentang pelaut-pelaut nusantara yang sudah menjejakkan
kaki di Afrika sejak abad ke-5 M. Jauh sebelum bangsa Eropa mengenal Afrika dan
jauh sebelum bangsa Arab berlayar ke Zanzibar. Ceng Ho apalagi, pelaut China
yang pernah mengadakan muhibah ke Semarang pada abad ke-14 M ini jelas
ketinggalan dari moyang kita.
Yang menarik, penelitian Dick-read tentang
pelaut nusantara ini seperti kebetulan. Awalnya, ia datang ke mozambik pada 1957
untuk meneliti masa lalu Afrika. Disana. untuk pertama kalinya mendengar
bagaimana masyarakat Madagaskar fasih berbicara dengan bahasa Austronesia
laiknya pemukim di wilayah pasifik. Ia juga tertarik dengan perompak Madagaskar
yang menggunakan Kano (perahu yang mempunyai penyeimbang di kanan-kiri) yang
mirip perahu khas Asia timur. Ketertarikannya memuncak setelah ia banyak
menghadiri seminar tentang masa lalu Afrika, yang menyiratkan adanya banyak
hubungan antara Nusantara dan sejarah Afrika.
Dalam penelusurannya,
Dick-read menemukan bukti-bukti mutakhir bahwa pelaut Nusantara telah
menaklukkan samudra hindia dan berlayar sampai Afrika Sebelum bangsa Eropa,
Arab, dan Cina memulai penjelajahan bahari mereka.
Diantara bukti tersebut
adalah banyaknya kesamaan alat-alat musik, teknologi perahu, bahan makanan,
budaya dan bahasa bangsa Zanj (ras Afro-Indonesia) dengan yang ada di Nusantara.
Di sana, ditemukan sebuah alat musik sejenis Xilophon atau yang kita kenal
sebagai Gambang dan beberapa jenis alat musik dari bambu yang merupakan alat
musik khas Nusantara. Ada juga kesamaan pada seni pahat patung milik suku Ife,
Nigeria dengan patung dan relief perahu yang ada di Borobudur.
Beberapa
tanaman khas Indonesia yang juga tak luput di hijrahkan ke sana, semisal pisang
raja, ubi jalar, keladi dan jagung. Menurut penelitian George Murdock, profesor
berkebangsaan Amerika pada 1959, tanaman-tanaman itu dibawa orang-orang
Indonesia saat melakukan perjalan ke Madagaskar (h.237).
Bukan itu saja, di
dalam buku ini anda akan menemukan berbagai hipotesa mengejutkan mengenai
kehebatan pelaut Nusantara. Diantaranya, rentang antara abad ke-5 dan ke-7 M,
kapal-kapal Nusantara banyak mendominasi pelayaran dagang di Asia. Pada waktu
itu perdagangan bangsa Cina banyak bergantung pada jasa para pelaut Nusantara.
Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa perkapalan Cina ternyata banyak mengadopsi
teknologi dari Indonesia. Bahkan kapal Jung yang banyak dipakai orang Cina
ternyata dipelajari dari pelaut Nusantara.
Di afrika juga ada masyarakat yang
disebut Zanj yang mendominasi pantai timur Afrika hampir sepanjang millennium
pertama masehi. Lalu siapakah Zanj, yang namanya merupakan asal dari nama bangsa
Azania, Zanzibar dan Tanzania? Tak banyak diketahui. Tapi ada petunjuk yang
mengarahkan kesamaan Zanj Afrika dengan Zanaj atau Zabag di Sumatera.
Dalam
hal ini, Dick mengajukan dugaan kuat keterikatan Zanj, Swarnadwipa dan Sumatera.
Swarnadwipa yang berarti Pulau emas merupakan nama lain Sumatera. Hal ini dapat
dilihat dalam legenda Hindhu Nusantara. Dick menduga, banyaknya emas di Sumatera
ini dibawa oleh Zanj dan pelaut nusantara dari Zimbabwe, Afrika. Karena, Dick
juga menemukan bukti yang menyatakan tambang-tambang emas di Zimbabwe mulanya
dirintis oleh pelaut Nusantara yang datang ke sana. Sebagian tak kembali dan
membentuk ras Afro-Indonesia. Mungkin ras inilah yang disebut Zanj (halaman
113).
Terlepas dari percaya atau tidak, nyatanya penulis telah menjabarkan
banyak bukti yang menceritakan kehebatan pelaut Nusantara. Hal ini tentu menjadi
kebangaan tersendiri bagi kita sebagai keturunannya.
Tapi, jangan berhenti
sampai kebanggaan itu saja. Kita juga harus malu dan berbenah diri jika faktanya
dunia kemaritiman kita saat ini jauh dari kehebatan mereka. Yang kita lihat
sekarang, ikan kita banyak dicuri, banyak penyelundupan melalui laut, sedang
armada dan peralatan kelautan kita tidak mencukupi untuk menjaga keamanan. Yang
terparah, kredibilitas bangsa pun ikut kalah, ini bisa kita cermati dari kasus
ambalat dan ekstradisi Indonesia-Singapura yang merugikan kita.
Akhirnya,
Adalah tugas kita semua sebagai bangsa untuk kembali menegakkan kejayaan
kemaritiman yang pernah diraih oleh para moyang kita. Agar kita bisa berdaulat
di lautan sendiri.
Tradisi besar maritim Nusantara
Jauh sebelum
kedatangan orang-orang Eropa di perairan Nusantara pada paruh pertama abad XVI,
pelaut-pelaut negeri ini telah menguasai laut dan tampil sebagai penjelajah
samudra. Kronik China serta risalah-risalah musafir Arab dan Persia menorehkan
catatan agung tentang tradisi besar kelautan nenek moyang bangsa Indonesia.
Serangkaian
penelitian mutakhir yang dilakukan Robert Dick-Read (Penjelajah Bahari: Pengaruh
Peradaban Nusantara di Afrika, 2008) bahkan memperlihatkan fenomena mengagumkan.
Afrikanis dari London University ini, antara lain, menyoroti bagaimana peran
pelaut-pelaut nomaden dari wilayah berbahasa Austronesia, yang kini bernama
Indonesia, meninggalkan jejak peradaban yang cukup signifikan di sejumlah tempat
di Afrika. Buku ini bercerita tentang pelaut-pelaut Nusantara yang berlayar
sampai ke Afrika pada masa lampau, jauh sebelum bangsa Eropa mengenal Afrika
selain gurun Saharanya, dan jauh sebelum bangsa Arab dan Shirazi menemukan kota
kota-kota eksotis di pantai timur Afrika seperti Kilwa,Lamu dan Zanzibar.
Pendek kata,
penelitian dalam buku ini mengungkap bukti-bukti mutakhir bahwa para pelaut
Nusantara telah menaklukkan samudra jauh sebelum bangsa eropa,Arab dan China
memulai zaman penjelajajahn bahari mereka. Sejak abad ke-5 M,para pelaut
Nusantara telah mampu menyeberangi Samudera Hindia hingga mencapai Afrika.
Para petualang
Nusantara ini bukan hanya singgah di Afrika. Mereka juga meninggalkan banyak
jejak di kebudayaan di seluruh Afrika. Mereka memperkenalkan jenis-jenis tanaman
baru, teknologi, musik, dan seni yang pengaruhnya masih bisa ditemukan dalam
kebudayaan Afrika sekarang.
Dalam buku ini, ada beberapa
hipotesis yang cukup mengejutkan :
- antara abad ke-5 dan ke-7, kapal-kapal Nusantara mendominasi
pelayaran dagang di Asia
- pada abad-abad itu, perdagangan bansga China banyak bergantung
pada jasa para pelaut Nusantara
- sebagian teknologi kapal jung dipelajari bangsa China dari
pelaut-pelaut Nusantara, bukan sebaliknya
- dari manakah asal emas berlimpah yang membuat Sumatera
dijuluki Swarnadwipa (Pulau Emas) ? Mungkinakah dari Zimbabwe
- Mungkinkah tambang-tambang emas kuno di Zimbabwe dibangun oleh
para perantau Nusantara ?
Dan masih
banyak lagi data sejarah yang dipaparkan buku ini, yang pasti akan banyak
mengubah pandangan kitas tentang kehebatan peradaban Nusantara pada masa kuno.
Sebuah bacaan yang dapat menambah wawasan kita mengenai kehebatan nenek moyang
bangsa ini.
Para penjelajah
laut dari Nusantara diperkirakan sudah menjejakkan kaki mereka di Benua Afrika
melalui Madagaskar sejak masa-masa awal tarikh Masehi. Jauh lebih awal daripada
bangsa Eropa mengenal Afrika selain Gurun Sahara-nya dan jauh sebelum
bangsa Arab dan Zhirazi dengan perahu dhow mereka menemukan
kota-kota eksotis di Afrika, seperti Kilwa, Lamu, dan Zanzibar.
”Meskipun (para
pelaut Nusantara) tidak meninggalkan catatan dan bukti-bukti konkret mengenai
perjalanan mereka, sisa-sisa peninggalan mereka di Afrika jauh lebih banyak
daripada yang diketahui secara umum,” tulis Dick-Read pada pengantar buku
terbarunya.
Catatan hasil
penelitian Dick-Read kian memperkaya khazanah literatur tentang peran
pelaut-pelaut Indonesia pada masa lampau. Bukti-bukti mutakhir tentang
penjelajahan pelaut Indonesia pada abad ke-5 yang dibentangkan Dick-Read makin
mempertegas pandangan selama ini bahwa sejak lebih dari 1.500 tahun lampau nenek
moyang bangsa Indonesia adalah pelaut sejati.
Meskipun sejak
500 tahun sebelum Masehi orang-orang China sudah mengembangkan beragam jenis
kapal dalam berbagai ukuran, hingga abad VII kecil sekali peran kapal China
dalam pelayaran laut lepas.
Jung-jung China lebih banyak
melayani angkutan sungai dan pantai.
Tentang hal
ini, Oliver W Wolters (1967) mencatat bahwa dalam hal hubungan perdagangan
melalui laut antara Indonesia dan China—juga antara China dan India Selatan
serta Persia—pada abad V-VII, terdapat indikasi bahwa bangsa China hanya
mengenal pengiriman barang oleh bangsa Indonesia.
I-Tsing,
pengelana dari China yang banyak menyumbang informasi terkait masa sejarah awal
Nusantara, secara eksplisit mengakui peran pelaut-pelaut Indonesia. Dalam
catatan perjalanan keagamaan I-Tsing (671-695 Masehi) dari Kanton ke Perguruan
Nalanda di India Selatan disebutkan bahwa ia menggunakan kapal Sriwijaya, negeri
yang ketika itu menguasai lalu lintas pelayaran di ”Laut Selatan”.
Dengan kata
lain, arus perdagangan barang dan jasa menjelang akhir milenium pertama di
”jalur sutra” melalui laut-meminjam istilah arkeolog Hasan Muarif Ambary
(alm)-sangat bergantung pada peran pelaut-pelaut Indonesia. Tesis Dick-Read
bahkan lebih jauh lagi, bahwa pada awal milenium pertama kapal-kapal Kun Lun
(baca: Indonesia) sudah ikut terlibat dalam perdagangan di Mediterania.
Masyarakat bahari
Denys Lombard
(Nusa Jawa: Silang Budaya, Jilid 2), mengidentifikasikannya sebagai orang-orang
laut, sedangkan Dick-Read merujuk ke sumber yang lebih spesifik: orang-orang
Bajo atau Bajau. Mereka ini semula berdiam di kawasan Selat Melaka, terutama di
sekitar Johor saat ini, sebelum akhirnya menyebar ke berbagai penjuru Nusantara,
dan pada sekitar abad XIV sebagian besar bermukim di wilayah timur
Indonesia.
Peran yang dimainkan para pelaut
Indonesia pada masa silam tersebut terus berlanjut hingga kedatangan orang-orang
Eropa di Nusantara. Para penjelajah laut dan pengelana samudra inilah yang
membentuk apa yang disebut Adrian B Lapian, ahli sejarah maritim pertama
Indonesia, sebagai jaringan hubungan masyarakat bahari di Tanah Air.
Anthony Reid
(Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, 2004) menyebut kelompok masyarakat berbahasa
Austronesia ini sebagai perintis yang merajut kepulauan di Asia Tenggara ke
dalam sistem perdagangan global.
Akan tetapi, pada abad XVIII masyarakat Nusantara
dengan budaya maritimnya yang kental itu mengalami kemunduran. Monopoli
perdagangan dan pelayaran yang diberlakukan pemerintahan kolonial Belanda, walau
tidak mematikan, sangat membatasi ruang gerak kapal-kapal pelaut Indonesia.
Ironisnya,
setelah 68 tahun Indonesia merdeka, setelah PBB mengakui Deklarasi Djoeanda
(1957) bahwa Indonesia adalah negara kepulauan, tradisi besar itu masih saja
dilupakan.
Kini,
kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat nelayan dijumpai di banyak tempat,
sementara di sisi lain, kekayaan laut kita terus dikuras entah oleh siapa…
Sebagai penduduk Indonesia sudah sepatutnya kita berbangga diri. Pasalnya, nenek moyang bangsa Indonesia ternyata adalah orang yang gemar berpetualang menjelajahi penjuru Bumi dengan menyeberangi samudra hingga mampu menyebarkan berbagai peninggalan yang masih dapat dijumpai hingga kini di berbagai tempat dataran benua Afrika.
Hal itu menjadi bukti bahwa jauh sebelum bangsa Eropa membanggakan diri karena mengklaim bahwa pelayarannya adalah yang terhebat di dunia karena berhasil melakukan perjalanan keliling samudra pada abad XVI, ternyata nenek moyang bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu melakukannya. Bahkan penjelajahan penduduk Indonesia dibarengi dengan fasilitas perahu dengan teknologi modern dan sarana pendukung yang serba canggih pada masa itu, hingga membuat perjalanan menyusuri ’dunia baru’ bukanlah sesuatu hal yang sulit dilakukan.
Sehingga dapat dikatakan jika pelayaran itu sangat heroik dan jauh di luar batas kemampuan berlayar bangsa mana pun di dunia pada era tersebut. Padahal itu dilakukan pelaut Nusantara seribu tahun lebih sebelum petualangan Columbus di era modern.
Penjelajahan Bahari akan mengajak pembaca untuk sejenak menikmati romantisme kejayaan bangsa Indonesia kuno. Buku ini merupakan karya ilmiah hasil penelitian Robert Dick-Read, seorang Afrikanis dari London University yang disusun berdasarkan sumber data melimpah dan dapat dipertanggungjawabkan, yang merupakan hasil dari penelitian seni dan budaya di banyak daerah yang ada peninggalan sejarah dari Nusantara. Karir dan reputasi penulis dipertaruhkan dalam isi buku ini, karena hasil intrepertasinya bisa mengundang berbagai pertanyaan dan kecaman dari ahli sejarah yang berbeda pandangan dengannya.
Dari berbagai sumber yang telah diteliti, penjelajah laut dari Nusantara menginjakkan kakinya pertama kali di benua Afrika melalui Madagaskar. Kedigdayaan pelaut Nusantara yang tercatat pertama kali dalam sejarah adalah masa ketika kerajaan Sriwijaya, yang ibu kotanya di Palembang, tepatnya di tepi sungai Musi, berhasil membangun angkatan laut kerajaan terkuat, besar dan tangguh, yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia.
Memang sejarah modern mencatat bahwa pelayaran keliling lautan luas pertama kali dilakukan oleh armada Cheng Ho dari negeri Cina dan pelaut Eropa di zaman Columbus. Padahal fakta itu tidak sepenuhnya benar. Meskipun tidak ada catatan otentik yang tersisa, namun dapat disebut bahwa pelaut Nusantara yang dipelopori armada laut Sriwijaya sudah terlebih dahulu berhasil mengarungi samudra.
Menurut Robert Dick-Read, bukti mutakhir bahwa para pelaut Nusantara telah menaklukkan samudra jauh sebelum bangsa Eropa, Arab, Cina, dan India memulai zaman penjelajahan bahari masih bisa ditelusuri buktinya. Karena sejak abad ke-5 masehi, para pelaut Nusantara sudah mampu menyeberangi Samudra Hindia hingga mencapai benua Afrika dan masih meninggalkan jejak nyata hingga sekarang.
Sebuah inskripsi kuno pada abad VII masehi yang ditemukan di Palembang menyebutkan bahwa kerajaan Sriwijaya adalah kelompok pertama pelaut Nusantara yang berhasil menyebarkan armadanya hingga daratan Afrika. Pasalnya, pada zaman keemasan Sriwijaya, saat itu penguasa kerajaan membutuhkan emas dalam jumlah besar dan mereka mendatangkan pasokan emas itu dari pertambangan emas kuno yang ada di Zimbabwe. Ditambah bukti adanya banyak penduduk Madagaskar pada masa lalu yang melakukan hubungan dengan penghuni Sumatra Selatan semakin menguatkan asumsi bahwa angkatan laut kerajaan Sriwijaya telah berhasil menduduki tanah yang ditemukannya itu.
Para petualang Nusantara ini tidak sekedar hanya singgah di dataran Afrika, melainkan juga menetap dan meninggalkan banyak kebudayaan di seluruh dataran yang berhasil disinggahinya. Banyaknya jejak pelaut Nusantara tersebut meninggalkan kebudayaan diantaranya dengan ditemukannya teknologi, tanaman baru, musik, dan seni yang pengaruhnya masih bisa dijumpai dalam kehidupan masyarakat Afrika sekarang.
Misalnya dalam kehidupan masyarakat Zanj yang menghuni daerah Madagaskar bagian utara, mereka menangkap buruan dengan menggunakan keranjang yang sebenarnya mirip dengan teknik menangkap ikan di semenanjung Malaya dan Indonesia. Tidak banyak yang diketahui untuk mengungkap asal usul ras tersebut, namun ada satu petunjuk yang akan menggiring kita untuk menemukan jawabannya, yaitu Zanj adalah ras keturunan Afro-Indonesia yang menetap di Afrika Timur.
Bahkan, tanaman ubi jalar, pisang raja, dan beragam jenis pisang yang hidup di daratan Afrika Timur juga merupakan tanaman yang dibawa oleh penjelajah Indonesia yang melakukan perjalanan ke Madagaskar. Dan pada waktu yang sama tanaman itu menyebar sampai Afrika Barat karena dibawa melalui perjalanan darat melalui Somalia, Ethiopia Selatan, dan Sudan (hal. 237).
Fakta di atas juga digunakan Alexander Adelaar (pakar lainnya) ketika mempelajari asal-usul bahasa Madagaskar. Dari hasil analisisnya, dia bahkan berani membeberkan hipotesis bahwa bahasa penduduk Madagskar (Malagasi) dan Melayu sangat mirip. Tidak hanya itu, kekuatan unsur genetik dan budaya Afrika di Madagaskar yang sangat besar, serta banyaknya jumlah kata dalam perbendaharaan kata masyarakat Afrika semakin memperkuat asumsi bahwa pulau tersebut dulu dihuni bangsa Afro-Indonesia, yang merupakan cikal bakal penduduk Nusantara.
Dalam buku ini, pembaca akan menemukan berbagai hipotesis mengejutkan yang mungkin selama ini belum pernah terpikirkan sebelumnya. Karena tidak ada literatur yang dengan secara gamblang menulis bukti bahwa antara abad ke-5 dan ke-7, kapal Nusantara telah berhasil mendominasi pelayaran dagang di kawasan Asia hingga mampu menjelajah jauh sampai ujung Afrika.
Bahkan jika selama ini masyarakat banyak percaya bahwa peradaban bangsa Cina menjadi pusat peradaban dunia tempo dulu, fakta itu termentahkan setelah membaca buku ini. Meskipun tak dimungkiri jika peranan Cina juga cukup besar di Asia, namun pada abad V sampai VII masehi perdagangan bangsa Cina banyak tergantung pada jasa dan suplai produk para pelaut Nusantara, bukan sebaliknya seperti yang selama ini tertulis diberbagai literatur.
Buku ini menyajikan beragam data sejarah yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat luas, bahkan kalangan sejarawan. Sehingga pembaca berpotensi akan banyak mengalami perubahan paradigma berpikir setelah membaca secara detail rangkaian fakta kehebatan peradaban Nusantara pada masa kuno yang pelayarannya mampu menyeberangi samudra hingga menemukan benua Afrika.
Judul Buku : Penjelajahan Bahari (Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika)
Penulis : Robert Dick-Read
Edisi : Juni 2008
Tebal : 378 halaman
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Peresensi : Erik Purnama Putra, Mahasiswa Psikologi UMM dan Aktivis Pers Koran Kampus Bestari
Sumber (Harian Bhirawa)
Bukti-Bukti Mutakhir Tentang Kehebatan Pelaut Nenek Moyang Indonesia jauh Sebelum Cheng Ho dan Columbus [Jejak Warisan Pelaut Nusantara di Afrika]